25/02/2026
Fenomena yang menghiasi langit di atas Gunung Sumbing dan Sindoro pada tanggal 25 Februari 2026 kemarin memang sangat memukau, namun perlu diluruskan bahwa penampakan tersebut bukanlah Aurora.
Meskipun warnanya mungkin tampak dramatis saat terkena sinar matahari pagi atau sore, fenomena ini murni bersifat meteorologis, bukan aktivitas geomagnetik seperti Aurora Borealis atau Australis yang hanya terjadi di wilayah kutub.
Apa Itu Awan Lenticularis?
Awan Lenticularis ( Altocumulus lenticularis) adalah jenis awan unik yang berbentuk lensa atau piringan raksasa. Di Temanggung, awan ini sering terlihat "berhenti" tepat di atas puncak Sumbing atau Sindoro, sehingga masyarakat sering menjulukinya sebagai "awan topi" atau bahkan mirip dengan penampakan UFO.
Mengapa Itu Bukan Aurora?
Ada perbedaan mendasar antara keduanya:
β’ Aurora: Terjadi di lapisan ionosfer bumi karena interaksi antara angin matahari dengan medan magnet bumi. Ini tidak terjadi di wilayah khatulistiwa seperti Indonesia.
β’ Lenticularis: Terjadi di lapisan troposfer (lapisan atmosfer terendah) dan terbentuk karena dinamika angin serta topografi gunung.
Proses Terbentuknya Awan Lenticularis
Awan ini terbentuk melalui mekanisme yang disebut sebagai Gelombang Gunung (Mountain Waves). Berikut adalah tahapan prosesnya:
1. Arus Udara Stabil: Angin kencang yang membawa udara lembap bertiup secara horizontal menuju lereng gunung.
2. Hambatan Topografi: Saat menabrak gunung, udara terpaksa naik ke atas ( forced uplift).
3. Pendinginan Adiabatik: Ketika udara naik ke ketinggian yang lebih dingin, uap air di dalamnya mengembun (kondensasi) dan membentuk awan.
4. Oksilasi Gelombang: Udara tersebut tidak hanya naik lalu lewat, tapi membentuk pola gelombang di sisi balik gunung ( lee side). Di puncak gelombang inilah awan terbentuk, sementara di lembah gelombang, awan menguap kembali. Itulah sebabnya awan ini terlihat diam meski angin bertiup kencang.