04/05/2026
100 Tahun Jam Gadang 😍🗼 - Jika London punya Big Ben, maka Minangkabau punya Jam Gadang. Berdiri megah setinggi 26 meter di pusat kota Bukittinggi, menara jam ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan monumen sejarah yang telah melewati tiga zaman berbeda.
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Rajo Mangkuto dan Sutan Gigi Ameh. Menara ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi saat itu, HR Rookmaaker. Menariknya, pembangunan menara ini tidak menggunakan rangka besi atau semen, melainkan campuran kapur, pasir, dan putih telur sebagai perekatnya.
Seiring berjalannya waktu, Jam Gadang mengalami perubahan signifikan, terutama pada bentuk atapnya yang mencerminkan kekuasaan di Indonesia
Era Belanda, Awalnya atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di puncaknya, menghadap ke arah matahari terbit.
Era Jepang Saat pendudukan Jepang (1942-1945), bentuk atap diubah menyerupai kuil Shinto (Pagoda).
Era Kemerdekaan Setelah Indonesia merdeka, atapnya diubah menjadi bentuk Gonjong, ciri khas atap Rumah Gadang yang kita lihat hingga hari ini sebagai simbol identitas masyarakat Minangkabau.
Salah satu hal yang paling sering dibahas selama satu abad perjalanannya adalah penulisan angka empat pada jam tersebut yang menggunakan “IIII” dan bukan “IV”. Berbagai teori muncul, mulai dari alasan teknis estetika keseimbangan visual hingga mitos tentang korban jiwa saat pembangunan, namun hal ini justru menambah daya tarik mistis Jam Gadang.
Kini jam gadang sudah berusia satu abad (1926-2026), namun tetap kokoh meski telah berkali-kali diguncang gempa besar. Mesin jamnya diproduksi oleh Vortmann Recklinghausen dari Jerman, mesin yang sama dan langka yang juga digunakan pada Big Ben di London. Jantung kotanya Bukittinggi ini tetap berdetak, mengingatkan setiap orang bahwa meski zaman berubah, akar budaya dan sejarah harus tetap terjaga.