12/07/2026
DI DEPAN PINTU YANG TERTUTUP
Malam itu aku pulang dengan hati yang sesak. Semua terasa berjalan tidak sesuai harapan. Pintu demi pintu seperti tertutup. Doa terasa lama dijawab. Usaha seolah tak membuahkan hasil.
Saat hendak masuk rumah, mataku tertuju pada sebuah lampu teras. Cahayanya redup karena kaca penutupnya dipenuhi debu. Bukan lampunya yang kehilangan cahaya, melainkan debu yang menghalangi sinarnya.
Entah mengapa, saat itu aku merasa sedang melihat diriku sendiri.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk meminta Allah mengubah keadaan, tetapi lupa membersihkan hati. Terlalu sering menghitung kekurangan orang lain, sementara noda dalam diriku dibiarkan menumpuk. Bisa jadi yang menghalangi datangnya ketenangan bukanlah ujian, melainkan hati yang mulai dipenuhi kesombongan, iri, dan lalai mengingat-Nya.
Aku pun terdiam. Bukan meminta agar semua masalah segera selesai, tetapi memohon agar Allah lebih dulu membersihkan hatiku. Sebab jika hati telah terang, bahkan jalan yang gelap pun akan terasa lebih mudah dilalui.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ya Allah, jangan hanya perbaiki keadaanku. Perbaikilah hatiku. Sebab ketika hati kembali kepada-Mu, aku percaya langkahku akan menemukan arah.
Ini adalah pengingat untuk diriku sendiri, bukan untuk menggurui siapa pun.