05/08/2026
Berdiri megah di kawasan Water Front Pangururan, Gereja ini tampil seperti Rumah Adat Batak yang khas dengan segala ornamennya, Berikut sejarah singkat Gereja Inkulturasi Paroki St. Mikael – Pangururan:
Gereja Katolik Santo Mikhael Pangururan didirikan pada 1 Agustus 1941, terpisah dari Paroki Palipi.
Gereja ini dikenal sebagai mahakarya inkulturasi budaya Batak Toba, dengan bangunan setinggi 33 meter berbentuk rumah panggung adat Batak yang menghadap langsung ke Gunung Pusuk Buhit.
Awal Pendirian ParokiBerdiri resmi pada 1 Agustus 1941 berdasarkan surat Apostolik Vikariat Padang.Pastor Benyamin Dijkstra ditetapkan sebagai pastor paroki pertama.
Sebelumnya, wilayah ini bergabung dengan Paroki Santo Fransiskus Asisi di Palipi.
Gereja Inkulturasi Paroki Santo Mikhael Pangururan digagas dan dibangun oleh Pastor Leonardus Egidius (Leo) Joosten, OFM Cap, seorang misionaris asal Belanda yang juga pemerhati budaya Batak.
Bangunan unik berbentuk rumah adat Batak Toba ini diresmikan pada 27 Juni 1997.
Perancang & Pembangunan:
Pastor Leo Joosten, OFM Cap, memprakarsai konsep gereja bernuansa lokal karena menilai bangunan gereja di Tanah Batak sebelumnya terlalu bernuansa Barat.
Awal Mula Misi Katolik: Kehadiran Katolik di Samosir dirintis lebih awal oleh misionaris Belanda P. Diego van den Biggelaar, OFM Cap (dikenal sebagai Opung Bornok) pada tahun 1938, sebelum Paroki Pangururan resmi berdiri sendiri pada tahun 1941.
Peresmian: Gereja inkulturatif ini diresmikan oleh Uskup Agung Medan saat itu, Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara, OFM Cap.
Konsep Inkulturasi Arsitektur
Bentuk Rumah Adat: Dibangun menyerupai rumah panggung khas Batak Toba yang menyimbolkan filosofi tri tunggal banua (tiga lapisan dunia: banua toru, banua tonga, banua ginjang).
Orientasi Bangunan: Kompleks gereja dirancang menghadap ke Gunung Pusuk Buhit, yang diyakini masyarakat adat sebagai tempat asal mula leluhur orang Batak.
Tata Letak Kampung Batak: Di depan gereja terdapat bangunan sopo (lumbung/balai pertemuan), menciptakan suasana kompleks yang merefleksikan perkampungan tradisional Batak.
Perkembangan WilayahDinaungi oleh Keuskupan Agung Medan melalui Vikariat Episkopal Pangururan.
Meliputi puluhan stasi yang tersebar di wilayah Pangururan, Sianjur Mulamula, Harian, dan Ronggur Nihuta.