11/05/2026
AKSI MAHASISWA/I DOGIYAI KOTA NABIRE DAN RAKYAT PAPUA
TIBA DI KANTOR DPR PPT
📢 “MENUNTUT SEGERA UNGKAPKAN PELAKU PELANGGARAN HAM YANG TERJADI DI DOGIYAI TERHADAP 8 WARGA SIPIL DAN BRIPDA JUVENTUS EDOWAY, DAN DI SELURUH TANAH PAPUA”
1. ✊ "Kami datang membawa jeritan dari Dogiyai, membawa duka 8 warga sipil yang gugur, dan darah Bripda Juventus Edoway yang takkan kami lupakan. Di sini, di depan wakil rakyat, kami berseru: Kebenaran tak boleh dikubur, pelaku harus diungkap dan diadili. Keadilan adalah hak kami, bukan pemberian belas kasihan."
2. Setiap nyawa yang hilang di Dogiyai adalah luka terbuka bagi seluruh bangsa Papua. Kami menuntut bukan sekadar jawaban, tapi tanggung jawab nyata. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa kami diam saat saudara kami dibungkam. Ungkap kebenaran sekarang, atau derita ini akan terus berulang di seluruh tanah Papua."
3.Suara mahasiswa dan rakyat ini adalah cermin hati Dogiyai yang berdarah. Kami bertanya kepada para pemimpin: Sampai kapan nyawa warga kami dianggap tak berharga? Sampai kapan pelanggaran HAM dibiarkan terjadi? Kami tuntas satu hal: Ungkap semua pelaku, adili mereka, dan berikan damai bagi tanah yang terus menangis ini."
4. Duka Dogiyai bukan hanya milik Dogiyai, tapi milik seluruh Papua. Saat 8 warga dan Bripda Juventus gugur, seluruh bangsa ini kehilangan bagian dari dirinya. Aksi ini adalah janji: Kami takkan berhenti, takkan diam, dan takkan pulang sebelum kebenaran terungkap terang benderang di mata hukum dan sejarah."
5. Di tanah kami, ambulans berbunyi setiap hari, air mata tak pernah kering. Hari ini kami berdiri di sini untuk berkata: Cukup! Pelaku pelanggaran HAM di Dogiyai dan di seluruh Papua harus segera diungkap. Hanya dengan keadilan, luka kami bisa mulai sembuh. Hanya dengan kebenaran, kami bisa berhenti menangis."
6. 🚩 "Ingatlah nama mereka, ingatlah darah yang tumpah: 8 warga sipil dan Bripda Juventus Edoway. Kehadiran kami di sini adalah bukti bahwa nyawa mereka takkan hilang begitu saja. Kami menuntut keadilan mutlak, karena di mata Tuhan dan sejarah, semua nyawa itu sama berharganya."
Nabire, 11 Mei 2026