20/09/2021
KERJA IKHLAS
Penatnya kerja, membuat saya kembali mengingat masa sekolah dahulu. Haha, wajar saja, dahulu kita hanya harus hadir,isi absen, dan ke kantin di saat jam pelajaran. Kita tidak merasa lelah pada saat itu, apalagi sampai terbebani (kecuali tugas dari guru yang aaasssuuudahlah).
Saat ini kita merasa terbalik dari hari itu. Dimana saatnya keseriusan harus mengambil alih keraguan. Dimana saatnya kedewasaan harus mengambil alih kekanakan. Dimana saatnya kita beralih dari pengikut menjadi pemimpin. Pada masa itu kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi saat ini, mungkin hanya 1 dari 100 kejadian yang bisa kita duga. Tetapi seperti kata pepatah,” Suatu hari kamu akan berharap untuk bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu. Daripada memikirkan itu, lebih baik jangan buang waktu mu”.
Sebagai pengobat lelah, biasanya saya mencoba mengingat kembali kata – kata yang pernah menggerakkan hati saya, dan saya sepertinya teringat kata – kata dari guru saya. Kata-kata yang tidak bisa dan tidak akan saya lupakan.
Saat masa sekolah dulu, saya pernah menjadi ketua OSIS. Yah…, bisa dibilang saya cukup populer di sekolah, karena 75% para wanita di sekolah itu pasti tau nama saya(jangan lapor dengan UU ITE, karena ini bukan hoaks). Haha, ya tapi itulah kenyataannya, sepertinya saya dianugerahi keuntungan dalam bidang itu.
Dan pada saat itu kami akan menggelar acara keagamaan, yaitu Isra’ Mi’raj. Kamipun berkumpul untuk membicarakan hal itu dan menghitung apa saja yang diperlukan dan berapa besaran biayanya. Seluruh anggota OSIS dan guru pembimbing untuk acara itu rapat. Rapat berlangsung dengan lancar, kamipun siap untuk mengajukan proposal kepada pihak sekolah.
Tetapi sepertinya kami salah memperkirakan, ternyata biaya yang dikeluarkan oleh pihak sekolah lebih kecil dari yang kami harapkan. Kamipun berkumpul, dan sedikit kecewa, apalagi guru pembimbing kami yang sedikit emosi dengan menyebut pihak sekolah pelit. Tiga guru pembimbing kami akhirnya memutuskan kalau lebih baik acaranya ditiadakan daripada kekurangan biaya. Kami anggota OSIS sedikit kebingungan dengan keputusan itu, dan masih memikirkan cara yang lebih baik.
Keesokan harinya setelah kami menyerahkan proposal, saya selaku ketua OSIS dipanggil oleh Kepala Sekolah. Dalam hati saya pasti ini untuk membicarakan tentang acara itu. Saya sedikit gugup saat itu, karena ini adalah pengalaman pertama saya menjadi ketua OSIS. Dan saya juga sangat jarang berbicara langsung dengan kepala sekolah, sehingga saya harus mengakui kalau saya nervous.
Menuruni tangga sambil menghilangkan gugup, saya menuju kantor kepala sekolah. Langsung saja,ketika saya memasuki ruangan, ibu kepala sekolah sudah siap dengan posisi duduk dan memegang proposal. Beliau mempersilahkan saya untuk duduk. Dengan posisi duduk yang agak tegang,saya memperhatikan wajahnya.
Ada yang tidak beres dengan ekspresinya, biasanya ia ramah dan sering tersenyum. Tetapi saat ini, wajahnya kemerah-merahan, juga tidak ada senyum di wajahnya. Dalam hati saya bertanya-tanya, dan tidak lama kemudian pertanyaan saya terjawab.
Ternyata dia sangat keberatan dengan daftar biaya yang kami ajukan di dalam proposal. Ia mengatakan banyak biaya yang tidak masuk akal dalam proposal itu sehingga biaya yang dikeluarkan harus lebih besar daripada yang seharusnya. Dengan muka merah padam ia bertanya-tanya kenapa banyak biaya-biaya yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan malah diajukan di dalam proposal.
Ia pun menanyakan kredibilitas kami sebagai anggota OSIS karena tidak vokal dalam menentukan biaya dan memasukkan banyak biaya-biaya yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan. Saya hanya bisa terdiam, karena sebelumnya kami tidak pernah berbicara seserius ini, dan kini saya harus menerima kekesalan dari beliau. Hal ini sangat mengagetkan saya, karena sebelumnya kami jarang berbicara dan sekali berbicara,eh marah-marah. Hadeuh… Memang lagi apes bener waktu itu.
Setelah berpikir sedikit jernih, akhirnya saya memang mengakui kesalahan itu. Karena sebenarnya kami sedikit banyak melebih-lebihkan biaya. Contohnya ketika menetapkan biaya kue untuk acara itu, yang mana harga awal adalah Rp.500 per kue kami naikkan menjadi Rp.800 per kue. Begitupun hal yang lainnya, kami menetapkan harga yang lebih tinggi daripada harga aslinya,jadi sangat wajar biaya yang harus dilakukan menjadi lebih besar. Belum lagi kami menetapkan biaya tak terduga sebesar Rp.500.000, padahal seharusnya jika kami serius dan secara rinci menghitung,biaya itu tidak akan pernah ada. Dan saya juga mengakui bahwa ada dorongan yang lebih dari guru pembimbing untuk kami melakukan itu, tetapi tetap saja itu salah kami, yang seharusnya bisa lebih vokal menentang praktek semacam itu.
Setelah menarik nafas panjang, ibu kepala sekolah lalu mengatakan,” Nak, waktu ibu sekolah dulu ibu selalu ingin ikut apa saja kegiatan yang diadakan sekolah. Bukan karena ibu ingin mendapatkan uang atau mencari keuntungan dari itu, tetapi ibu ingin selalu berpartisipasi, dan ibu sedih jika ibu tidak ikut. Karena ibu ingin membantu, ibu ingin berguna, apalagi kalau apa yang ibu lakukan bermanfaat untuk sekitar ibu, itu yang ibu ingin, bukan uang,atau upah, ataupun bayaran.”
“Belajar ikhlas itu sulit nak, apalagi melakukanya, tetapi itu tugas kita melakukan sesuatu tanpa pamrih. Kita mengadakan acara ini untuk sekolah kita, sekolah kita bersama, ayo kita membantu sekolah ini bersama- sama, membantu sekolah tanpa mengharapkan balasan ataupun imbalan.”
Mendengarkan kata-kata itu, terasa mengantarkan pikiran saya ke dunia lain. Ke dunia yang belum saya pikirkan sebelumnya, dan merenungkanya. Ternyata nasehat itu, masih membekas sampai sekarang,dan semoga selalu membekas seumur hidup saya sebagai pengingat. Nasehat ini menjadi salah satu penguat saya ketika saya mungkin terlalu lelah dengan hari – hari yang dilewati.
Nasehat tulus dan murni, dapat mengubah satu jiwa, atau bahkan seribu jiwa. Terima kasih.