21/04/2026
Pemilihan R.A. Kartini sebagai ikon emansipasi perempuan—terutama melalui penetapan Hari Kartini—bukan berarti mengecilkan peran Dewi Sartika atau tokoh perempuan lainnya. Keduanya adalah pahlawan nasional yang hebat, namun memiliki fokus dan pendekatan perjuangan yang berbeda:
Kartini sebagai Pemikir dan Inspirator (Surat-surat): Kartini dipilih karena pemikiran-pemikirannya yang visioner dan melampaui zamannya, yang tertuang dalam surat-suratnya kepada teman-temannya di Eropa. Ia mendobrak batasan berpikir perempuan pribumi melalui literasi dan membuka pandangan tentang ketidakadilan serta pentingnya pendidikan, yang dampaknya terasa hingga ke pemerintah Belanda saat itu.
Dewi Sartika sebagai Praktisi dan Edukator (Tindakan): Dewi Sartika mengambil jalan perjuangan melalui aksi nyata dengan mendirikan sekolah (Sakola Istri). Jika Kartini memberikan inspirasi teoritis, Dewi Sartika adalah contoh nyata perwujudan emansipasi dalam pendidikan praktis.
Penetapan oleh Pemerintah: Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964, yang menekankan perannya sebagai pelopor kebangkitan perempuan.
Penyebar Ide: Surat-surat Kartini (terutama Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang) menyebarkan ide emansipasi secara lebih luas, termasuk ke kalangan kolonial, sehingga dianggap membukakan jalan bagi pergerakan perempuan.
Sumber Berita :
persis.or.id
persis.or.id
Keduanya adalah pionir. Kartini lebih dikenal sebagai simbol pemikiran emansipasi, sementara Dewi Sartika adalah penggerak pendidikan nyata. Kedua perjuangan ini saling melengkapi dalam sejarah kemajuan perempuan Indonesia.