30/05/2026
Kisah Nabi Muhammad ﷺ dalam Asuhan Abdul Muthalib
Setelah ayah Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum beliau lahir, Nabi Muhammad ﷺ diasuh dengan penuh kasih sayang oleh ibunya, Aminah binti Wahb. Namun, ketika beliau berusia sekitar enam tahun, sang ibu juga wafat dalam perjalanan pulang dari Madinah menuju Makkah.
Peristiwa ini membuat Nabi Muhammad ﷺ menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda. Setelah wafatnya Aminah, pengasuhan beliau kemudian diambil alih oleh kakeknya, Abdul Muthalib, pemimpin terpandang dari suku Quraisy dan penjaga Ka'bah.
Kasih Sayang Abdul Muthalib kepada Nabi Muhammad ﷺ
Abdul Muthalib sangat mencintai cucunya. Beliau melihat tanda-tanda kebaikan dan keistimewaan pada diri Muhammad kecil. Karena itu, beliau memberikan perhatian yang lebih dibandingkan cucu-cucunya yang lain.
Dikisahkan bahwa Abdul Muthalib memiliki tempat duduk khusus di dekat Ka'bah yang sangat dihormati oleh masyarakat Quraisy. Tidak seorang pun berani duduk di tempat tersebut. Namun ketika Muhammad ﷺ datang dan duduk di sana, para paman beliau berusaha memindahkannya. Abdul Muthalib justru berkata:
"Biarkan cucuku ini. Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung."
Sejak saat itu, Muhammad ﷺ sering berada di sisi kakeknya, mendengarkan percakapan para pemuka Quraisy dan belajar tentang kehidupan masyarakat Makkah.
Didikan yang Membentuk Akhlak Mulia
Walaupun masa pengasuhan oleh Abdul Muthalib hanya berlangsung sekitar dua tahun, kasih sayang dan perhatian yang beliau berikan sangat berpengaruh dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Allah سبحانه وتعالى menjaga Nabi-Nya sejak kecil sehingga beliau tumbuh dengan akhlak yang mulia, jujur, dan terhormat di tengah masyarakat.
Allah berfirman:
> "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu"
(QS. Ad-Dhuha: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa sejak kecil Allah selalu menjaga dan memelihara Rasulullah ﷺ melalui orang-orang yang mencintai beliau, termasuk Abdul Muthalib.
Wafatnya Abdul Muthalib
Ketika Nabi Muhammad ﷺ berusia sekitar delapan tahun, Abdul Muthalib jatuh sakit. Menjelang wafatnya, beliau berwasiat kepada putranya, Abu Thalib, agar menjaga dan merawat Muhammad ﷺ dengan baik.
Setelah Abdul Muthalib wafat, Nabi Muhammad ﷺ sangat berduka karena kehilangan sosok yang selama ini menjadi pelindung dan penyayangnya. Sejak saat itu, beliau berada dalam asuhan Abu Thalib yang kemudian membesarkannya hingga dewasa.
Hikmah dari Kisah Ini
1. Allah selalu menjaga hamba pilihan-Nya dengan cara yang tidak terduga.
2. Kasih sayang kepada anak yatim memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam.
3. Kehilangan dan ujian hidup tidak menghalangi seseorang untuk menjadi pribadi yang mulia.
4. Keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan akhlak anak.
5. Kesabaran dalam menghadapi ujian akan membawa kemuliaan di sisi Allah.
Pelajaran penting: Meskipun Nabi Muhammad ﷺ kehilangan ayah, ibu, dan kakeknya di usia yang masih sangat muda, Allah سبحانه وتعالى senantiasa menjaga dan mempersiapkan beliau untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.