06/04/2021
Senin pagi-pagi, bersama dengan orang-orang yang berangkat kerja, saya menggeber vespa melintasi jalur Selatan Jawa. Meliuk-liuk di jalanan Nagreg yang mengular, hingga ke Tasikmalaya. Hujan deras mulai turun di Tasik. Sesampai di perbatasan Banjar, banjir setinggi lutut orang dewasa menanti di depan gapura selamat datang kota Banjar. Saya memutuskan nekat untuk menyebranginya karena malas berputar. Syukurnya vespa tua ini masih kuat untuk melintasi banjir yang membawa air coklat bekas sedimen tanah.
Saya terus menggeber vespa melewati Ajibarang dan naik ke arah Wonosobo. Pukul 10.00 malam saya memutuskan menginap di pomp bensin di daerah Banjarnegara. Istirahat. Setelah tidur ditemani dengan lagu dangdut koplo yang diputar dari speaker pomp bensin, saya melanjutkan perjalanan menuju Nepal van Java.
Dinginnya malam, tiada lampu jalan, sendirian, dan sesekali bus-bus antar kota melintas, membuat malam itu menjadi begitu syahdu. Vespa saya laju dengan begitu pelan, maklum saja motor tua. Lampunya tak pakai kekuatan aki, hanya kekuatan dari putaran mesin belaka. Kabut pelan-pelan turun di Kaliangkrik, membuat jarak pandang semakin terbatas.
Pagi itu mendung di Kaliangkrik. Saya sedikit kecewa karena tak bisa melihat anggunnya Sumbing yang menjulang. Saya dinginkan motor sembari melihat Sumbing dari kejauhan. Pelan-pelan cahaya matahari menyeruak dan awan terbuka bagai tirai yang ditarik oleh para malaikat. Semangat saya pun kembali muncul. Vespa kembali dinyalakan menuju Dusun Butuh atau yang saat ini lazim dikenal sebagai Nepal van Java.
Di Nepal ini, saya tak mengucap "Namaste!". Karena ini van Java, maka laku yang saya ucap adalah "Nuwun Sewu." Saya menikmati Nepal van Java tak hanya pemandangannya, tetapi juga keramahan manusia-manusianya. Saya bertemu bu Siti yang sedang menjual penganan tradisional juga warga-warga lainnya.