04/11/2025
LAWAN SENIORITAS
Saya akan berusaha membagikan sebuah catatan dibalik dari tahun ajaran baru yang kental dengan julukan didunia kampus maupun organisasi rentan dengan segala kekuasaan senioritas menindas junior.
Setiap periode ke periode dari dekade satu ke terakhir dari daftar kalender tahun ke tahun hingga tiba saatnya sekarang tahun 2025 yang akan ada generasi Papua mengikuti jenjang pendidikan awal dan permulahan.
Saya berharap dengan catatan ini generasi penerus bangsa Papua yang katanya mahasiswa baru(maba) bisa bergerak menjadi pribadi yang hadir dalam forum-forum diskusi maupun organisasi bisa menjadi garda terdepan untuk melawan budaya senioritas dalam organisasi mahasiswa Papua.
" Luka yang Terulang di Rumah Sendiri"
Oleh: Yonius Mirip
Organisasi mahasiswa Papua didirikan dengan cita-cita luhur menjadi rumah kesadaran, ruang pembebasan, dan sekolah politik bagi generasi muda. Namun, di balik idealisme itu, ada penyakit lama yang terus dipelihara dan diwariskan budaya senioritas yang menindas junior.
Di banyak ruang organisasi mahasiswa Papua, kita sering menyaksikan ironi, Forum yang seharusnya menjadi tempat diskusi kritis malah berubah menjadi arena dominasi. Senior merasa dirinya lebih berkuasa hanya karena lebih dulu bergabung. Junior dipaksa tunduk, seolah-olah masa bergabung adalah ukuran kebenaran. Inilah wajah tirani kecil yang bersembunyi di balik kata “kaderisasi.”
Kita harus bertanya dengan jujur apakah organisasi mahasiswa Papua masih menjadi ruang pembebasan, atau justru telah menjadi miniatur penindasan? Apakah semangat kolektif masih hidup, atau sudah mati tercekik dalam genggaman senioritas? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar wacana; ia adalah alarm keras bagi kita semua. Sebab jika budaya senioritas terus dibiarkan, organisasi mahasiswa Papua tidak akan melahirkan generasi kritis, melainkan generasi penakut dan penurut.
"Wajah Gelap Senioritas"
Senioritas di organisasi mahasiswa Papua sering kali dibungkus dengan dalih “pengalaman lebih dulu.” Namun dalam praktiknya, pengalaman itu dijadikan senjata untuk membungkam. Senior mengambil ruang bicara, menentukan arah rapat, bahkan memonopoli kesempatan. Junior yang mencoba berbeda pandangan dianggap tidak sopan, tidak loyal, atau kurang ajar.
Padahal, organisasi bukan kerajaan, Tidak ada raja dan budak, Tidak ada tuan dan hamba. Organisasi mahasiswa adalah ruang demokrasi ,Namun budaya senioritas mengubah organisasi menjadi feodalisme kecil. Junior yang masuk organisasi tidak dididik menjadi pemimpin, melainkan dilatih menjadi pengikut yang tunduk.
Lebih tragis lagi, siklus penindasan ini terus berulang. Junior yang ditekan akan menunggu waktunya menjadi senior. Ketika giliran itu datang, ia akan mengulang pola yang sama menindas generasi di bawahnya. Inilah lingkaran setan yang menghancurkan roh kaderisasi. Bukannya melahirkan kader progresif, organisasi hanya melahirkan tiran baru.
Apakah kita rela terus-menerus hidup dalam lingkaran gelap ini? Apakah kita bangga jika organisasi mahasiswa Papua hanya melahirkan generasi yang pandai menindas junior, tapi lumpuh menghadapi penindasan bangsa lain?
"Dampak Senioritas terhadap Gerakan Mahasiswa Papua"
Budaya senioritas yang menindas bukan sekadar masalah internal , Ia membawa dampak besar yang menghancurkan fondasi perjuangan mahasiswa Papua.
1. Matinya Roh Demokrasi
Forum organisasi yang seharusnya menjadi sekolah demokrasi berubah menjadi teater feodalisme. Hanya suara senior yang dianggap penting, sementara suara junior ditelan sunyi. Demokrasi mati pelan-pelan, berganti dengan tirani.
2. Terkuburnya Potensi Generasi Muda
Junior yang penuh semangat, ide, dan gagasan baru dipatahkan sejak awal,Mereka kehilangan keberanian untuk bicara. Akibatnya, banyak kader muda memilih mundur, meninggalkan organisasi, atau hanya menjadi anggota pasif Potensi besar yang seharusnya menjadi energi perjuangan justru terkubur dalam-dalam.
3. Organisasi Kehilangan Relevansi
Jika organisasi hanya sibuk mempertahankan senioritas, maka ia akan kehilangan relevansi. Mahasiswa baru enggan bergabung karena melihat organisasi sebagai ruang penindasan, bukan pembebasan. Lambat laun, organisasi mati bukan karena represi negara, tetapi karena penyakit dari dalam tubuhnya sendiri.
4. Miniatur Penjajahan
Inilah dampak paling serius, Budaya senioritas di organisasi mahasiswa Papua adalah cermin dari penindasan bangsa. Junior dibungkam oleh senior, sama seperti rakyat Papua dibungkam oleh negara kolonial Indonesia.Jika kita membiarkan pola ini hidup, berarti kita sedang menjadi penjajah bagi sesama,Kita mengulang luka bangsa kita sendiri di rumah kita sendiri.
"Kebutuhan Perubahan Radikal"
Kita tidak bisa lagi menutup mata. Sudah saatnya ada perubahan radikal dalam tubuh organisasi mahasiswa Papua. Perubahan ini bukan sekadar kosmetik, melainkan pembongkaran total atas budaya senioritas yang menindas.
Pertama, kita harus sadar bahwa junior bukan objek, tetapi subjek yang setara. Mereka bukan murid abadi yang harus tunduk pada senior. Mereka adalah manusia merdeka dengan hak berpikir, berbicara, dan menentukan sikap.
Kedua, kita harus menegaskan bahwa senior bukan penguasa, tetapi fasilitator perjuangan. Senioritas bukan lisensi untuk berkuasa, melainkan tanggung jawab untuk mendidik, membuka ruang, dan memberi contoh. Senior harus menjadi jembatan, bukan tembok.
Ketiga, kita harus menghancurkan tradisi feodalisme dalam organisasi. Tidak boleh ada kasta, tidak boleh ada monopoli suara. Semua anggota, dari junior hingga senior, harus punya hak setara dalam pengambilan keputusan.
Keempat, kita harus membangun roh demokrasi sejati. Forum organisasi harus menjadi ruang di mana setiap suara didengar, setiap ide diperdebatkan, dan setiap keputusan diambil secara kolektif. Hanya dengan begitu, organisasi mahasiswa Papua bisa kembali pada jati dirinya rumah pembebasan.
"Seruan Kolektif"
Saudara-saudaraku, sesama mahasiswa Papua, Jagan merasa dirinya mahasiswa baru(maba) lalu Tunduk Tertindas, kita tidak boleh diam,Diam berarti setuju. Diam berarti menjadi bagian dari penindasan itu sendiri.
Sudah terlalu lama kita membiarkan senioritas membelenggu organisasi. Sudah terlalu banyak kader muda yang patah semangat karena suara mereka dibungkam. Sudah terlalu sering kita mengulang luka penjajahan di ruang organisasi kita sendiri.
Kini saatnya kita berkata tegas ,hancurkan budaya senioritas yang menindas!
Organisasi mahasiswa Papua bukan tempat feodalisme. Bukan ruang tirani. Ia adalah rumah demokrasi, sekolah kebebasan, dan benteng perjuangan.
Junior harus berani bersuara, senior harus berani mendengar. Junior harus diberi ruang, senior harus rela berbagi panggung. Karena hanya dengan begitu, organisasi mahasiswa Papua bisa melahirkan generasi yang benar-benar merdeka generasi yang kritis, berani, dan revolusioner.
Mari kita hentikan lingkaran setan penindasan. Mari kita bangun organisasi yang setara, demokratis, dan progresif. Sebab jika tidak, kita sedang mengkhianati cita-cita pembebasan Papua.
Ingatlah musuh kita bukan hanya negara kolonial, tetapi juga budaya penindasan yang kita pelihara sendiri. Jika kita berani melawan negara, maka kita juga harus berani melawan tirani di dalam organisasi kita. Sebab pembebasan sejati dimulai dari rumah kita sendiri.
feodalisme organisasi mahasiswa Papua!
demokrasi sejati! generasi muda revolusioner!