08/05/2018
Setiap kali kopiku hampir habis, aku selalu merenung, tentang biji kopi yang ditanam sepenuh hati oleh petani, diolah dan kemudian bisa disajikan untukku nikmati. Kadangkala aku menambahkan sedikit gula agar tidak terlalu pahit, seringkali juga aku biarkan pahit begitu saja.
Kali ini aku merenung, tentang sebuah perjalanan hidup. Ada kalanya hidup terasa manis, indah dan enak dijalani, ada kalanya hidup terasa pahit, getir dan ah tidak perlu dijelaskan panjang lebar, kalian pasti pernah merasakan hidup kalian pahit.
Tapi, (hidup memang selalu punya tetapi) mau kopiku pahit atau manis aku tetap harus menghabiskannya, sebagai bentuk penghargaan kepada petani kopi, sebagai bentuk penghargaan kepada penjual kopi, terlebih lagi sebagai bentuk penghargaan kepada seseorang yang dengan baik hati mau menyeduhkan kopi untukku.
Kali ini kopiku tak terasa pahit, tapi bukankah rasa pahit ada karena adanya rasa manis? Begitupun sebaliknya, rasa manis ada karena adanya rasa pahit?
Apa perlu kita mempermasalahkan rasa? Kenapa tak kita coba saja menikmati rasa?
Kapan kau mau menyeduhkan kopi untukku dik?