13/12/2015
Kampung Bandan, Tanjung Priok, Jakarta 2015.
Teks : Stefani Dwitia
Photo : Fachry Latief
Jakarta adalah kota metropolitan yang memiliki berbagai macam kehidupan yang tersimpan di dalamnya. Kehidupan penuh cerita indah dan kelam begitu terpancar di setiap tatanan kotanya. Masyarakat asli dan pendatang memenuhi kota yang memiliki banyak makna, dan hanya segemericik orang yang peduli terhadap makna sebenarnya dari kota ini. Semua orang mencoba berpikir bagaimana mereka dapat hidup dan layak pendidikannya. Semua orang mencoba memutar otak untuk mendapatkan itu semua. Strata atas sampai bawah begitu terlihat di dalam wajah kota ini. Bangunan tinggi dan kumuh menjadi penghias wajah ibukota negara ini. Berpakaian indah dan lusuh menjadi bagian yang tak terlepas dari sudut mata kota Jakarta.
Diantara bangunan tinggi terdapat makna kehidupan yang luput dari penglihatan. Bangunan berbilik papan, air minum yang berbau, dan kerasnya makhluk Tuhan untuk mencari segenap pengharapan menjadi lingkaran hitam yang akan menodai hati. Tempat itu dinamakan Kampung Bandan. Sebuah kampung yang berdiri dengan lemahnya diantara bangunan megah seperti Mall, Hotel¸ dan pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Utara.
Jalur rel kereta api Tanjung Priok yang telah mati menjadi jantung kampung ini untuk mengais sedikit rejeki. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun menggunakan rel mati tersebut yang telah mereka anggap sebagai sebuah harta karun. Sebuah alat transportasi unikpun dibuat untuk mempertahankan kehidupan mereka dari getirnya Jakarta. Lori adalah nama alat transportasi tersebut. Sebuah alat transportasi yang dibuat oleh warga Kampung Bandan dari kumpulan balok-balok kayu yang dibawahnya dipasangkan roda besi untuk berjalan diatas rel yang dipergunakan sebagai sarana transportasi sepanjang Kampung Bandan.
Tak disangka awal pembuatan lori bermula dari rasa prihatin seorang warga yang melihat warga lain merasa kesusahan dalam mengangkut air dari Kampung Nalo yang jaraknya sangat jauh. Lori inipun ternyata sudah ada sejak 6 tahun silam. Tak hanya itu lori ini juga dipergunakan oleh anak-anak untuk berangkat sekolah atau bahkan hanya untuk sekedar bermain, dan dipergunakan oleh ibu-ibu untuk menuju dan kembali dari pasar. Sungguh alat transportasi yang cerdas dengan kesederhanaanya.
Lori sendiri termasuk alat transportasi yang cepat dan cukup nyaman untuk digunakan. Uniknya dari lori ini, penarik lori terutama anak-anak tidak menggunakan alas kaki pada saat mendorong dan memberhentikan lori dengan cara menginjak roda besi tersebut. Alasan yang cukup mengikis hati, alas kaki terlalu licin untuk memberhentikan kendaraan itu ketika cepat. Tetapi apakah itu tidak sakit? Itulah pertanyaan yang akan menghantui kita.
Sebuah jalur rel kereta api yang tak terpakai, tak hanya dipergunakan sebuah lori saja, tetapi banyak lori dengan arah yang berlawanan. Peristiwa yang menarik ketika seorang penarik lori terhalang oleh lori yang lainnya dengan arah yang berlawanan, si penarik lori harus mengangkat lorinya ke pinggir rel dan menunggu lori lain melewatinya. Setelah itu, si penarik lori segera mengembalikan lorinya ke rel tersebut. Lori termasuk alat yang cukup berat untuk diangkat, apabila yang menarik lori anak-anak biasanya mereka melakukannya berdua, tetap saja badan mungil itu sebenarnya tak kuasa untuk mengangkatnya.
Amar dan Puri adalah anak yang menjadi penarik lori. Kehidupan yang keras membuat mereka ikut mencari uang guna membantu orang tua mereka yang bekerja serabutan seperti menjadi kuli, tukang cuci sampai menjadi penarik lori seperti mereka. Tetapi, mereka tak merasa terbeban dengan keadaan mereka. Mereka menarik lori dengan s**a cita, tak hanya itu walaupun sekali mengantar penumpang dengan lori hanya dikenakan biaya sebesar Rp 2000, mereka tetap bersemangat.
Kehidupan mereka berdua tak hanya sebagai penarik lori saja. Mereka pun masih bersekolah dan duduk di bangku sekolah dasar. Mereka masih mempunyai mimpi ingin melanjutkan sekolah sampai di bangku pendidikan yang tinggi. Segenggam uang yang mereka peroleh, mereka pergunakan untuk menambah biaya sekolah mereka. Jangan salah mereka pun masih menabung untuk dapat mewujudkan mimpi mereka kelak.
Baktinya mereka terhadap orang tua, mereka buktikan juga dengan memberikan uang mereka yang telah mereka sisihkan untuk membantu orang tua. Mereka tak merasa malu menjadi penarik lori. Seharusnya kita yang merasa malu, merasa hidup berkecukupan tapi tak mampu mempunyai mimpi dan mempergunakan fasilitas yang ada. Kita harus belajar dari sebuah realita kehidupan seorang anak yang dengan keadaan yang serba kekurangan tetapi masih mempunyai mimpi.
Pembagian waktu yang tepat, sepertinya harus kita tiru dari kedua anak penarik lori ini. Pagi sampai siang, dipergunakan untuk mencari uang dengan menjadi penarik lori. Siang sampai sore, mereka gigih untuk pergi bersekolah. Malam mereka pergunakan untuk mengaji. Begitu bersyukurnya mereka dengan keadaan dan hidup sebagai penarik lori. Tak lelah, tak gentar, dan bersemangat adalah sorotan mata mereka yang begitu terbalik dengan kita.
Ada selintingan berita menyebar di telinga mereka, bahwa lori mereka, kendaraan yang serba guna, ternyata kemungkinan tidak akan ada lagi. Pemerintah akan mencoba mengaktifkan kembali rel mati tersebut. Lalu, bagaimana nasib para penarik lori? Nasib mereka yang mengais rejeki dari sini? Bagaimana nasib Amar dan Puri serta anak-anak lain yang ingin mewujudkan mimpi mereka dengan menarik lori? Jawaban mereka hanyalah, mereka hanya pasrah menerima nasib yang akan merenggut kebahagian mereka. (http://socialty-forlife.blogspot.co.id/2011/11/lori-penghidupanku-dan-jati-diri.html)