21/03/2026
.
Ada perjalanan yang terasa sudah memiliki ceritanya sendiri bahkan sebelum kamera dinyalakan. Kita hanya datang, menekan tombol rekam, dan berusaha tidak tertinggal oleh ritmenya.
Beberapa waktu lalu aku pergi ke Bangkok untuk mendokumentasikan pernikahan dua kawanku, Latan dan Ribka. Banyak orang membayangkan dokumentasi pernikahan sebagai pekerjaan sebuah tim. Kali ini aku mencoba melakukannya sendiri.
Aku diundang sebagai videografer, tapi di sela-sela merekam perjalanan, proses akad, dan resepsi, aku tetap memotret. Kamera digital, analog, dan satu kamera instax menemaniku sepanjang akhir pekan itu.
Biasanya aku memulai cerita dari hal-hal kecil seperti pencarian cincin nikah. Namun untuk Latan dan Ribka, semuanya dimulai dari proses fitting baju. Setelah itu peristiwa berjalan begitu saja—kami menyusuri jalan-jalan Bangkok, sempat menaiki kapal di Sungai Chao Phraya, dan merekam potongan-potongan kecil dari perjalanan menuju hari pernikahan.
Di tengah semua itu, kameraku tiba-tiba rusak.
Anehnya aku tidak panik. Untungnya ada rombongan teman yang menyusul ke Bangkok, dan dari mereka aku bisa meminjam kamera milik Latan. Dengan kamera itu, pekerjaan kembali berjalan.
Hari pernikahan berlangsung di district office—semacam KUA di sana. Tempatnya ramai, dipenuhi pasangan lain yang juga ingin menikah hari itu. Sederhana, tanpa seremoni berlebihan.
Sore harinya resepsi berlangsung. Cahaya Bangkok mulai melembut. Orang-orang datang, berbincang, tertawa. Aku hanya bergerak di antaranya, mencoba mengumpulkan potongan-potongan kecil dari cerita yang sedang terjadi.
Setelah semua selesai, hari-hari berikutnya terasa lebih ringan. Foto terus tercipta, video tetap berjalan. Bangkok berlalu tanpa drama yang berarti, sampai akhirnya ke Jakarta kami harus kembali.
Di sanalah perjalanan berikutnya dimulai: proses sunyi bernama editing. 🎞️