12/01/2022
Ada manusia mimpinya begitu indah dia yakin mimpinya akan membawa dia ke kehidupan yang lebih baik, namun nyatanya mimpinya itu digagalkan dengan tidak adanya support dari lingkungannya dari segi materi maupun fisik. Disisi lain ada manusia yang punya support yang kuat apapun bisa diwujudkan kannya dengan bantuan orang tuanya, tapi anak itu lebih memilih kehidupan yang bebas membunuh orang, memperkosa, mabuk-mabukan, narkoba, bahkan sudah banyak wanita-wanita yang ditidurinya. Apa yang salah? Kenapa Tuhan tak menarok anak yang kekurangan support ini dengan orang tua anak yang punya support ini? Adilkah Tuhan?.
Suatu hari pria yang gagal akan mimpinya ini mengeluh kepada Tuhan.
"Tuhan aku tidak pernah membunuh orang, aku tidak pernah mendekati zinah, aku bahkan tidak pernah menyentuh minuman keras apalagi narkoba, tapi kenapa selalu aku dibuat gagal setiap kali aku mencoba sesuatu, bahkan sudah banyak yang engkau ambil dari sisi hidupku. Kenapa Tuhan? Apa yang telah aku perbuat dimasalalu sampai tak satupun keinginanku terwujud?"
Pria itu sambil menangis dengan kerasnya seakan menyalahkan keadaan dirinya dan selalu berfikir buruk kepada penciptanya.
Sejak saat itu pria ini mulai putus asa, dia mulai meninggalkan shalatnya dia bahkan sudah melakukan zinah. Dia berjalan dalam keadaan mabuk sambil berkata "Aku sudah cukup melakukan kebaikan, aku sudah cukup menolong orang, aku sudah cukup mengorbankan semua apa yang aku punya demi sebuah mimpi yang tidak kunjung terwujud, lantas hal seperti apa lagi yang harus aku lakukan Tuhan supaya aku benar-benar mendapatkanya?"
Pria itu terus berjalan yang awal tujuannya ingin pulang kerumah, dan pada akhirnya dia berhenti di sebuah warung kecil dan tertidur disana, sampai pagi pun datang akhirnya dia terbangun tepatnya dia kebangun karna pemilik warung membangunkannya. Pemilik warung ini seorang nenek-nenek tua yang hidup sebatang kara dan warung itulah satu-satunya yang dia punya sekaligus penyambung hidupnya. Setelah pria itu bangun nenek itu memberikannya secangkit teh kepadanya. Nenek itu bertanya "kenapa anak muda? Apa yang membawa mu sampai kesini? Kenapa kau bisa tertidur diwarung ini?.
Pria itupun agak bingung juga lalu dia menceritakan kepada si nenek perjalanan hidupnya, mulai dari dia yang selalu gagal dalam usahanya sampai dia bercerita kalau dia sudah terjun ke dunia yang gelap yang sebelumnya dia tidak pernah tahu. Nenek itu hanya tersenyum dan berkata kepada pria itu.
" Nak, kau bilang kau sudah banyak membantu orang, apakah orang tuamu sendiri sudah kau bantu? Kau bilang kau sudah banyak melakukan kebaikan apakah kau sudah berbuat baik kepada orang tua mu? Kau bilang sudah banyak mengorbankan hartamu demi menjalankan usaha mu sampai kau terlilit hutang yang banyak, apakah kau pernah berkorban untuk orang tua mu?. Pria itu terdiam akan pertanyaan si nenek, lalu dia menangis dihadapan si nenek, dia bilang kalau aku lupa akan orang tuaku padahal dia yang selalu memberikan ku semangat walaupun bukan dalam bentuk materi, aku sudah benci kepada mereka yang tidak pernah bisa memberikan modal akan usahaku, aku selalu membandingkan orang tuaku dengan yang orang tua yang lain, yang tentunya kaya. Nenek itu lalu bertanya, "dimana kah orang tua mu sekarang?" Dia menjawab "orang tuaku ada dikampung aku merantau kesini." Nenek itu bertanya lagi, "sudah berapa lama kau tidak pulang? menelfon mereka?, pernahkan kau memeluknya? Pernahkah kau mencium kakinya?. Pria itu hanya diam. Melihat pria itu tidak bisa berkata-kata nenek itu pun mennyuruhnya untuk pulang dan minta maaf lah kepada kedua orang tuamu, kadang kita sering membantu orang lain tapi kita lupa akan keluarga sendiri yang butuh bantuan, kadang kita menyanjung kan orang lain tapi keluarga sendiri di hina, dan kadang kita rela berkorban demi orang yang bukan siapa-siapa sampai kita lupa kalau keluarga sendiri tidak pernah dibantu, kadang kita datang ke acara orang lain tapi untuk acara keluarga sendiri malu. Dan pada akhirnya pria bermitan dengan si nenek dan mengucapkan banyak terimakasih, pria itupun langsung pulang ke kampung halamannya dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya.
Banyak hal yang dapat di ambil dari kejadian ini, kita merasa usaha gagal, karir hancur dan menyalahkan Tuhan, padahal kita lupa pernah menyakiti orang terdekat kita.