21/03/2015
KISAH KASIH KESAH..
Sebuah cerita dari Kampung Rambitan yg menjadi bagian dari pesona wisata Dusun Sade di Lombok.
Sisi gelap perkembangan ekonomi yang dimotori kegiatan wisata mancanegara di daerah yang kerap dilanda kemarau berkepanjangan sehingga menghilangkan mata pencaharian sebagai petani.
Anak usia sekolah dengan lugu mengidentifikasikan turis yang datang sebagai sumber pencaharian tanpa berpikir panjang. Meminta –minta untuk menyambung hidup di masa di mana uang memegang kendali atas asa. Pendidikan dikesampingkan demi lanjutnya kehidupan.
Bisakah ada asa untuk bisa berdiri dengan tegap tanpa meratap di atas kaki sendiri tanpa adanya jalan keluar untuk menyambung kehidupan di tengah himpitan jaman melalui pendidikan (yang notabene memerlukan dana)?
Kisah Kasih Kesah.. KISAH – ku, Bisakah membuat KASIH – mu hilangkan KESAH – ku??
This is a story from Kampung Rambitan, a village that is part of Dusun Sade – A cultural tourist attraction in Lombok.
The rapid economic growth spurt by global tourism highlights a darker side on life in this area often plagued w/ long dry season that kills traditional farmer community that has never known any other life than being farmers.
School age kids innocently identify tourists as a source of income by asking for money without realizing that it takes away their dignity by making them a beggar. In an era where money talks louder than words, short term survival rules over long term investment in the form of education (that by itself also costs them money that they don’t have..).
Would there be hope to change the future when the cycle does not leave any cracks? Only time will tell.. Only time - that can prove if there is enough care to share the story and start thinking long term of how to alleviate poverty and restore dignity through education.