05/03/2023
Nuansa yang membuat nostalgia. Potret yang mengingatkan kembali, perjalanan hidup yang telah kita tempuh ternyata sangat indah dan penuh bermakna. Sebelum dulu aku menjadi seorang Pradana Ambalan Al-Hamid MA YPPA Cipulus. Aku hanyalah pecundang yang gemetar ketika harus berbicara didepan umum. Melalui Pelantikan Kenaikan Tingkat Penegak menjadi Bantara, disana aku banyak menyadari bahwa aku hanyalah seorang pecundang yang tidak tahu apa-apa. Sebab aku mengira menjadi pemimpin itu sangatlah mudah, kenyataannya TIDAK.
Berawal dari Pelantikan seperti ini, perjalananku selanjutnya mengantarkanku dengan dipercayai menjadi seorang Pradana di Ambalan Sekolah ini. Semua rekan seperjuangan memberiku kepercayaan untuk menahkodai sebuah kapal yang disebut dengan "Ambalan Al-Hamid" (Pramuka Putra).
Sejenak setelah dilantik menjadi seorang Pradana, mengingatkan ku pada kelamnya menjadi seorang pemimpin regu saat Pelantikan Bantara, Tatkala harus memutuskan bagaimana wujud mencintai Tanah Air ini. Senior ku bilang "kalian semua cinta pada negara tidak?" "siap, cinta kak" jawab kami. "apa buktinya kalian cinta terhadap negara ini?" tanya seniorku. lalu kami pun terdiam. di usia 15 tahun kami belum mampu menjawab pertanyaan seperti itu. "baiklah. jika kalian cinta tanah air, sekarang juga cium tanah yang kalian injak!" kami pun hanya diam. "bagaimana ketua regu? siap tidak?", lalu akupun bergegas mencium tanah yang kami injak. Semua anggota regu tersujud karena mengikuti sosok pemimpin yang polos dan lugu ini. "kalian bodoh!" ungkap salah seorang senior yang lain. "apakah begitu wujud cinta kalian pada tanah air?" tanya dengan penuh amarah. Kami pun hanya diam. setelah itu kami mendapat hukuman fisik (push up dan skotjump) 10 kali, lalu di goreskan lumpur yang telah dicampur terasi ke muka kami semua.
Kejadian itu membuat ku takut menjadi seorang pemimpin. Sehingga aku mengajukan pengunduran diri menjadi seorang pradanabeberapa hari sebelum upacara pelantikan dilaksakan. Namun salah seorang senior yangmenjadi Pradana sebelumku berkata "kamu mau menjadi pecundang?" dan aku hanya terdiam kesal.
Semua kejadian itu, ternyata hanyalah serangkaian proses yang "harus" dilalui. bukan dihindari. Alhamdulillah, setelah masa kepemimpinanku berlalu. Tidak terasa, apa yang kepengurusan kami tinggalkan telah melampaui karya-karya peninggalan senior kami sebelumnya. Sebab dengan sokongan kerjasama dari rekan-rekanku dan sebuah isme yang terus turun temurun di organisasi sekolah kami waktu itu "kepengurusan yang sukses adalah kepengurusan yang mampu melapaui kepengurusan sebelumnya".
Akhirnya pelajaran yang bisa aku petik waktu itu adalah "menghindar dari kepercayaan yang telah diberikan hanya menjadikan mu sebagai seorang pecundang yang tidak mengenal diri sendiri".