Bunda Bohay

Bunda Bohay Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Bunda Bohay, Photography Videography, Jakarta.

08/05/2024

😲AKIBAT NONTON FILM DEWASA😲
😲Remaja yang Ternoda😲 #1

Adegan dewasa mulai berputar. Menimbulkan efek yang luar biasa bagi dua pelajar SMA yang tengah dimabuk asmara.

Semula mereka hanya ingin melepas penat setelah belajar online. Laptop yang tersambung dengan WIFI beralih fungsi dari sarana pembelajaran menjadi sarana hiburan.

Pada menit pertama, lima sekawan kelas X SMA itu begitu serius menyimak instruksi guru di WAG. Namun, hanya bertahan sepuluh menit dalam kefokusan. Setelah mengunduh soal di Classroom, mengerjakan secara gotong royong, lalu mengirimnya tepat waktu, kelompok belajar itu pun langsung bubar dan asyik dengan aktivitas masing-masing.

Tania dan Desti pergi berburu es teler dan rujak. Sedangkan Steven asyik main game online di bawah pohon mangga yang berada di halaman rumah.

Tasya yang statusnya pacar Dino memilih tetap di ruang keluarga dan nonton berdua lewat laptop. Lancangnya, mereka melihat film yang penuh adegan dewasa yang belum layak mereka konsumsi.

“Kalau gue jadi vampir, lo masih s**a enggak?” pancing Dino mengomentari film yang tengah mereka tonton. Film tentang sepasang mahasiswa yang jatuh cinta. Tokoh prianya seorang vampir, sedangkan wanitanya manusia biasa. Sang vampir menyambangi kamar kekasihnya tiap malam, lalu mereka bermesraan hingga lupa daratan.

“Masihlah!” Tasya kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu teman sekelasnya. Pertama kalinya merasa beruntung ada pembelajaraan online, sehingga bisa pamit pada ibunya kalau mau belajar bersama dengan teman-temannya.

Sebenarnya ibu Tasya keberatan. Takut terpapar virus yang sedang menular. Bukankah karena virus itu p**a para pelajar harus belajar secara mandiri di rumah? Tapi sebagai ibu, ia juga tak bisa banyak membantu untuk mengawasi. Selain Tasya, dua anaknya yang lain juga harus belajar online di samping mengasuh satu balita yang sedang aktif-aktifnya. Sungguh kerepotan hakiki.

Kadang Sarah menyumpahi kebijakan belajar daring, lebih s**a jika anak-anak libur tanpa beban pembelajaran yang membutuhkan fasilitas teknologi yang ia sendiri tak menguasai.

“Kalau Ibu bisa bantu menyelesaikan tugas-tugas Tasya, sih ga pa-pa, Tasya belajar di rumah,” keluhnya pura-pura. “Tugasnya banyak gini, kepala Tasya mau pecah. Mumet!” imbuhnya melebih-lebihkan.

“Teman-teman yang lain juga banyak yang belajarnya kelompok. Ibu aja yang cemasnya overload. Mana ga ada kuota lagi. Beliin, Bu! Kalau di rumah Dino enak, ada Wifi-nya.”

Sarah, ibu Tasya mulai sakit kepala mendengar kuota gawai putri sulungnya sudah habis meski baru seminggu lalu dibelikan. “Kamu pakai buat apa sih, Nak, kuotanya? Kan ibu sudah bilang buat belajar aja. Jangan buat lain-lain.”

Kadang ia merasa bersalah karena belum bisa memfasilitasi anaknya secara maksimal. Seperti yang bisa dilakukan oleh orangtua Dino. Sarah mengenal baik ibunya Dino. Mereka sering ngobrol saat ada pertemuan wali murid. Kesan yang ia tangkap, ibu Dino adalah wanita terpelajar yang sangat modern dan melek teknologi.

“Yah, Ibu aja yang enggak tahu. Banyak tugas dari guru. Suruh unduh soal. Suruh uploud tugas. Belum lagi yang streaming saat ada kelas. ‘Kan Tasya juga butuh hiburan, nonton Youtube sekali-kali apa salahnya.” Tanpa mengerti kesulitan ekonomi yang dialami orangtua, Tasya terus merengek manja.

“Makanya, Bu, izinkan Tasya belajar sama teman-teman di rumah Dino. Di sana pakai Wifi. Dino itu juara kelas, jadi bisa ngajarin Tasya ngerjain soal yang sulit-sulit. Lagian orangtua Tania dan Desti mengizinkan, ada Steve juga yang anaknya guru.” Dengan gigih, Tasya mengeluarkan aneka bujuk rayu untuk mendapatkan restu.

“Cuma Ibu yang gini doang. Kelewatan takut sama virus enggak kelihatan. Kan bisa pakai faceshield, antiseptik, multivitmin biar enggak gampang sakit. Rajin berdoa, gitu kata ibu. Lagian Tasya juga rajin berjemur di rumah. Kurang apa coba?” desaknya.

Terlalu lama dikurung di rumah dengan alasan ada virus menular, tetapi pasar, swalayan, jalan, juga tempat ibadah sudah beroperasi normal, membuat otak muda Tasya tak terima dipaksa anteng di rumah saja. (Ditulis saat belum ada PPKM)

Gadis berkulit bersih itu sudah luar biasa bosan tanpa hadirnya teman yang bisa diajak bercanda seperti biasa. Kadang ia video call dengan teman-temannya, tapi tentu saja obrolan mereka tidak bisa sebebas jika berkumpul langsung. Apalagi Tasya tak memiliki kamar pribadi. Ia harus sekamar dengan adiknya yang masih SMP dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Akhirnya, dengan berat hati Sarah mengizinkan. Ia juga khawatir putrinya stres, karena sudah empat bulan lebih di rumah saja. Sarah bahkan sering minta tolong padanya untuk menjaga adik bungsunya ketika dia mengawasi anak kedua dan ketiga belajar daring.

Kali ini, dia merasa tak berdaya untuk menolak keinginan putri sulungnya.

“Baiklah, tapi harus p**ang sebelum azan zuhur! Kalau melanggar, ibu tak ijinkan kamu keluar main lagi!”

H**e, soraknya dalam hati. Setidaknya, ia bisa bersenang-senang tanpa terbebani kerjaan rumah sementara waktu.

Lima sekawan berbahagia akhirnya bisa berkumpul lagi dengan alasan belajar bersama. Rumah Dino dipilih karena sudah dilengkapi fasilitas WIFI dan AC. Selain karena Dino anak tunggal yang rumahnya selalu kosong di jam-jam kerja. Alih-alih serius belajar, mereka memang bermaksud mencari kebebasan. Merasa merdeka bisa lepas dari pengawasan orangtua.

Rumah Dino tak jauh dari rumah Tasya. Ia bisa menjangkau rumah itu dengan bersepeda santai. Tania dan Desti terlebih dahulu menghampirinya dan berpamitan secara sopan pada Sarah.

“Hati-hati, ya, belajarnya yang benar. Jangan bikin orangtua malu,” pesan Sarah mewanti-wanti. “Ingat, jangan ikut-ikutan yang di sinetron, anak sekolah enggak boleh pacaran! Awas kalau ibu tahu, ibu larang kalian main sama Tasya lagi dan ibu adukan ke orangtua kalian!” ancamnya.

Kedua sahabat itu saling berpandangan, melirik Tasya yang memasang telunjuknya di hidung sebagai isyarat untuk bungkam. Sekalipun merasa bahwa wejangan itu salah sasaran, atas nama kesetia-kawanan keduanya mengangguk-angguk saja. Sejatinya diantara mereka bertiga, hanya Tasya sajalah yang sudah pacar. Gadis itu memang populer di sekolahan sebagai siswi cantik yang pandai bernyanyi.

Sarah melepas putrinya untuk belajar bersama teman-temannya. Merasa sudah cukup menanamkan nilai-nilai moral sebagai ‘pagar’ di mana pun anaknya berada. Tak ada firasat buruk terbersit di benaknya. Ia percaya Tasya adalah anak baik-baik dan berteman dengan anak yang baik-baik p**a. Apalagi, putrinya bersekolah di sekolah negeri favorit. Tempat berkumpulnya bibit-bibit unggul pengharum bangsa dan negara.

“Bismillah, semoga tidak kena virus jahat. Jagalah mereka, Ya Rabbi,” doanya sebelum tubuh Tasya dan kedua temannya menghilang di tikungan.

***

Burung yang telah lama di sangkar, tidak pernah lupa caranya terbang. Mengira telah mendidik anaknya dengan baik, Sarah lupa, bahwa kejahatan bisa terjadi bukan karena ada niat, tetapi karena ada kesempatan. Kesempatan itu datang, ketika Tasya disuguhi film dewasa, tanpa ada siapa-siapa selain mereka berdua dan setan.

Steve adalah anak yang acuh. Kecanduan game membuatnya lebih senang menyendiri. Sedangkan kedua temannya yang lain belum kembali dari mencari konsumsi. Tinggalkan kedua anak manusia yang dilanda asmara.

Disenderi oleh pacar cantik dengan aroma rambut yang memikat, membuat otak Dino yang sudah tercemar film dewasa sulit mengendalikan diri. Pelan-pelan remaja berhidung mancung itu merapatkan tubuh, berusaha lebih dekat dengan Tasya. Tak ada penolakan. Sama-sama terbawa perasaan akibat menonton film romantis. Apalagi ada adegan ranjang yang membuat tubuh keduanya bak tersengat listrik. Ingin mempraktekkan.

Mulanya hanya saling bersandar, lalu saling memeluk, lalu naik ke tingkat selanjutnya, dan selanjutnya. Tak tahan, Dino mengajak gadis polos itu ke kamarnya. Khawatir Steven mendadak muncul dan memergoki mereka.

Dua anak korban tontonan tanpa filter orangtua itu akhirnya lepas kendali. Tak ada yang mencegah ketika nafsu telah membuncah.

Perbuatan kotor yang dilakukan dengan tergesa-gesa itu membuat Tasya memekik kesakitan.

Rusak sudah semua. Apa yang tidak seharusnya terjadi telah terjadi. Penyesalan kemudian tak berguna mengembalikan kondisi seperti semula.

Darah merembes keluar secara perlahan. Mengotori sprei Dino yang baru diganti mamanya tadi pagi.

“Tasya, lo berdarah!”

Tangis Tasya tidak terbendung. Setitik demi setitik, membuat Dino panik. Pemuda itu segera berlari ke kamar mandi, membersihkan diri. “Buruan pakai roknya. Nanti anak-anak keburu lihat!” Dino melongok ke jendela, khawatir jika ada yang mendadak datang. “Ayo, Tasya, udah jangan cengeng!” Kepanikan melandanya, tanpa tahu penderitaan yang dialami gadis muda itu.

Tasya menurut. Segera membersihkan diri dan merapikan bajunya kembali. Organ vitalnya masih nyeri, tetapi bukan hanya itu yang membuatnya ingin menangis. Ia takut, bagaimana jika ibunya tahu? Nilai-nilai moral yang selama ini ditanamkan orangtuanya, telah dilanggar. Ibunya pasti marah. Apa lagi ayahnya. Bisakah ia menyembunyikan rahasia kotor itu untuk mereka saja? Dan dirinya, apakah dirinya akan baik-baik saja? Sementara rasa sakit itu nyata.

Bantu like komen dan share nya ya

06/05/2024

🔥Menjual keperawanan🔥
**
Sebut saja namaku Rani, malam ini aku begitu gelisah, sedih putus asa dan juga khawatir, aku duduk termenung di pojok ruangan yang berhiaskan lampu dengan cahaya temaram.

Netraku menelisik keadaan yang begitu asing bagiku, sejujurnya aku tidak ingin berada ditempat seperti ini, tapi keadaanlah yang membawaku ketempat ini.

Jantungku berdetak kencang menyaksikan keadaan di ruangan yang penuh dengan wanita berpakaian seksi sambil terus berjoget ria dan tidak segan berpelukan di depan semua orang.

Dengan perasaan yang semakin tidak menentu aku mencoba untuk mengumpulkan keberanian dan berusaha bersikap lebih tenang, agar aku bisa mendapatkan secuil rupiah untuk menebus biaya pengobatan ibuku.

"Hai," sapa seorang pria yang ku taksir berumur empat puluh tahunan, sembari menyunggingkan senyuman.

"Ha-hai juga!" Jawabku gugup.

"Baru ya?" Tanya om itu sambil duduk tepat di depan ku, raut wajahnya terlihat begitu ramah.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, senyum yang dipaksakan.

"Kamu ini masih sangat muda, kenapa kamu bisa ada di tempat seperti ini?"

Tanyanya lagi sambil terus menatap diriku.

"Aku mau menjual sesuatu om!" Jawabku melempar pandangan ke arah lain.

"Menjual apa? Om tidak mengerti" sanggah nya.

"Aku mau menjual keperawanan!" Jawabku lantang.

Sungguh kalimat itu membuat sesak di dada ini, seakan diriku tidak punya harga diri lagi.

"Apa maksudmu? Bukankah memang wanita yang ada di tempat ini adalah wanita yang memang menjajakan diri?!" Tandasnya.

"Aku tahu om, tapi sungguh aku baru pertama datang ketempat ini, itupun karena aku ingin menjual barang berharga milikku.. aku tidak punya sesuatu yang bisa aku jual selain keperawanan ku,!" Jawabku sembari menatapnya dengan penuh harapan.

Raut wajah om itu berubah pias, mungkin merasa heran dengan penjelasan ku, ia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.

"Ikut denganku sekarang," ajaknya sambil berjalan keluar dari ruangan itu, tanpa berpikir lagi aku mengikutinya dan kamipun berlalu dari tempat itu menuju sebuah hotel.

"Tolong ceritakan dulu alasanmu ingin menjual sesuatu yang begitu berharga dalam hidupmu?!"

Pinta om itu ketika kami sudah berada di dalam kamar, terlihat ia begitu penasaran.

"Aku rasa itu tidak perlu om, sekarang om hanya perlu membayar 20 juta anggap saja aku sedang menjual dan om membelinya dengan ihklas," jawabku dengan suara sedikit bergetar.

"20 juta! Itu adalah harga yang sangat murah untuk sebuah pengorbanan besar!" Tandas om itu.

Seketika airmata ku berlomba-lomba keluar dari retina, tapi secepatnya ku seka agar aku tidak lemah, semua demi ibu, ibuku yang tengah berjuang melawan penyakit kanker stadium tiga, dan sangat membutuhkan biaya.

"Aku tidak tahu om, apakah harga itu murah atau mahal, yang jelas itu sudah cukup bagiku untuk pengobatan ibuku!" Sanggah ku.

"Ibumu?! Jadi kau melakukan semua ini demi ibumu?"

Ucapnya dengan nada melemah.

"Aku yakin ibumu pasti orang yang sangat baik hingga melahirkan anak yang begitu berbakti seperti dirimu," tambahnya sembari mengusap punggung ku.

Mendengar itu hanya menatapnya tanpa suara, lalu kemudian aku mulai merengkuhnya berusaha melakukan yang terbaik meski aku tidak tahu caranya tapi tanpa pernah aku duga om itu mundur menjauhi diriku.

"Jangan lakukan itu nak," cegahnya.

"Tapi om," jawabku putus asa.

Bagaimana aku bisa membayar biaya operasi ibu, kalau aku tidak berhasil mendapatkan uang itu, tidak aku harus bisa mendapatkannya bagaimanapun caranya, batinku.

"Aku mohon om," ujarku memelas.

"Aku akan memberimu uang itu, tapi bukan ingin membeli dirimu, anggap saja ini adalah harga untuk keberanian mu, kau sungguh telah membuat aku sadar, bahwa tidak semua wanita tuna susila itu buruk, rupanya dibalik semua itu tersimpan cerita sedih yang menyayat hati yang mereka simpan untuk dirinya sendiri.. terima kasih karena mu aku sadar, bahwa Terkadang seseorang akan melakukan perbuatan dosa karena terpaksa demi orang yang mereka cintai.. ayok kita ke rumah sakit sekarang, aku ingin menemui ibumu,"

Ucap om itu membuat airmata ku mengalir tanpa bisa aku hentikan.

"Terima kasih banyak om, kau adalah malaikat yang dikirim tuhan untuk menyelamatkan diriku dari dosa yang hampir saja menjerumuskan aku kedalam api neraka, terimakasih juga karena kebaikan hatimu.. akhirnya aku bisa berkumpul lagi dengan ibuku..

Terima kasih,
Meski aku tidak mengenal mu, walau aku tidak tahu namamu, tapi kebaikanmu akan selalu aku kenang sepanjang hidupku.

06/05/2024

Siang sobatku semuanya....

06/05/2024

🔥Gairah Sang Pembantu Seksi🔥

Sarni. Lebih lengkapnya Sarniti, adalah Pembantu baru dirumah kami ini. Sejak kep**angan Marni, Pembantu kami sebelumnya karena Lebaran, juga karena Marni akan menikah, rumah kami nyaris tidak terurus. Selain karena istriku baru melahirkan anak kedua kami, juga kebetulan Toko Online istriku lagi ramai-ramainya. Untunglah, kami segera mendapatkan pengganti, rekomendasi dari salah satu teman kerjaku.

Meski Sarni anak Desa, tapi penampilannya cukup membuatku terpesona. Bagaimana tidak, selain dia lebih cantik dari istriku, Alin, Sarni juga memiliki tubuh bak seorang Artis. Sekilas, mirip dengan Amel Alfi. Dengan kulit yang bersih, mata yang sayu. Dan pastinya, bibir yang cukup seksi.

Selama dua hari bekerja dirumah kami, aku cukup puas dengannya. Selain cekatan, juga bisa momong anak-anakku, Marni juga ternyata jago masak. Hingga kini, istriku bisa lebih banyak beristirahat. Tidak uring-uringan seperti kemarin.

Tapi ada yang cukup menarik perhatianku selama dua malam ini. Sejak kedatangannya kerumah kami, sering aku dengar suara-suara aneh dimalam hari. Kadang terlintas dipikiranku untuk mencari tahu, tapi masa iya aku harus mengintip Marni. 'Ah. Tidak mungkin. Bagaimana jika istriku curiga'

'Hh hh hh'

Kembali malam ini aku dengar suara Marni dikamar belakang, seperti suara orang yang tengah kelelahan.

'Sudah jam sebelas. Ngapain si Marni jam segini?' Pikirku.

Rasa penasaran semakin kuat menggerogotiku, terlebih suara dari nafas Marni yang memburu, bak ombak saling kejar.

'Ah. Masa bodoh. Istriku sedang tidur p**as. Dia tak mungkin tau.'

Dengan perlahan, aku berjalan mengendap-ngendap kebelakang, ingin melihat apa yang tengah marni lakukan dimalam selarut ini.

'Hah!' Seruku tertahan. Saat melihat marni dari lubang Ventilasi Udara tengah berjongkok, hanya mengenakan celana pendek dan kaus oblong saja. Dan yang lebih membuatku tercengang, marni ternyata sedang membersihian saluran Air dengan menggunakan sikat cuci.

Aduh. Kirain si marni lagi apa? 😁😁😁✌️✌️

06/05/2024

Malem...

06/05/2024

Sedit lirikan dan senyuman 😁😁😁

06/05/2024

😲GADIS TAK PERAWAN😲

“Aku sudah tidak perawan.” ucapku perlahan.

“A…Apa?”

“Aku sudah tidak perawan.” Ulangku menatap dalam matanya.

“Kamu bercandakan Rina?”

Aku menggeleng “Enggak, aku sedang tidak bercanda.”

“Kamu? Seorang guru TK, Isrina.”

Aku menunduk, air mata sudah bersiap hendak keluar.

“Kamu di perkosa?”

Aku menggeleng.

“Sukarela?” Tanyanya mencemeeh aku, sudut bibirnya terangkat mengejek.

Aku diam, s**arela, memang dulu aku melakukannya secara s**arela.

“Bagaimana mungkin seorang guru yang seharusnya jadi contoh malah menyerahkan keperawanannya dengan laki-laki yang buka suaminya, Isrina.” Randi meninggikan suaranya, aku menoleh ke sekeliling, takut-takut ada yang mendengar ucapannya.

“Aku menyesalinya.” Jawabku lirih, aku memang menyesal, sangat menyesal melakukan kesalahan yang sekarang jadi bayangan yang paling mengerikan dalam hidupku.

“Menyesal tak akan mengembalikan keperawananmu.”

Aku tersentak, ku angkat kepalaku, ku tatap wajahnya yang tampak memerah.

“Kamu tidak bisa menerima masa laluku?” Tanyaku kecewa.

“Tidak..Tidak mungkin aku bisa menerima wanita yang masih gadis tapi sudah tidak perawan.”

“Lebih baik kamu cari pria duda saja, mungkin laki-laki seperti itu masih mau menerima perempuan sepertimu.” Lanjutnya.

“Aku berhak untuk dapatkan kesempatan.”

“Memang, tapi tidak mungkin ada perjaka yang mau mengeluarkan uang puluhan juta untuk menikahi perempuan yang sudah tidak perawan.”

Ada rasa sakit menghujam dada mendengar Randi mengatakan hal itu, perih. Luka yang sebelumnya sudah mulai mengering kembali koyak, tapi kali ini semakin lebar dan dalam.

“Assalamualaikum.” Pamitku tanpa menanggapi ucapannya lagi, kunaiki sepeda motorku, melaju entah kemana. Dua puluh menit aku melajukan sepeda motorku, tanpa arah, tanpa tujuan, hingga akhirnya berhenti di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.

“Ya Allah...Ya Allah.” Tangisku sambil menepuk-nepuk dada, tidak cukupkah penyesalanku selama ini, kenapa saat aku memutuskan untuk membuka lembaran baru kesalahan itu tetap jadi momok yang menakutkan bagiku?

Satu jam lamanya aku menangis sambil duduk di bahu jalan, meringkuk, memeluk kedua lututku, beberapa orang yang lalu lalang mulai memperhatikanku, di tambah lagi ponselku yang tidak henti-hentinya berdering sejak sepuluh menit yang lalu.

“Assalamualaikum ma.” Jawabku akhirnya.

“Waalaikum salam. Rina, kenapa jam segini belum p**ang juga? Kamu dimana sekarang?” Tanya wanita yang melahirkanku tiga puluh tahun silam.

“Rina lagi duduk-duduk aja di pinggir jalan ma, sambil makan sate.” Bohongku.

“Dari tadi mama telfon, gak di angkat — angkat.” Gerutu beliau.

“Maaf ma, handphonenya silent, jadinya gak tau kalau mama nelfon.” Jawabku lagi-lagi berbohong.

“Ya Allah, nak,,nak. Bikin mama khawatir aja, p**ang sekarang juga, anak gadis kok belum p**ang juga.”

Aku tersenyum. “Sebentar lagi ya ma.”

“Jangan sebentar,,sebentar lagi. Pulang sekarang juga, udah jam sepuluh malam ini.”

Aku mengernyit, ku lihat layar handphoneku yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat tiga menit, pantas saja beliau khawatir.

“Iya ma, Rina p**ang sekarang juga.” Ucapku lalu mematikan sambungan telefon, ku pijat perlahan mata yang terasa bengkak karena menangis, malam ini juga harus ku kompres, kalau tidak bisa-bisa besok mataku bengkak dan sembab saat mengajar.

“Aku harus kuat.” Ujarku menghembuskan nafas sekuat-kuatnya.

“Kenapa matamu sembab?” Tanya beliau begitu aku memasuki rumah type 36 ini, rumah yang di katakan orang sebagai keberuntungan karena baru lima tahun setelah akad kredit papaku meninggal dunia akibat kecelakaan.

“Mungkin terlalu lama liat layar monitor ma, maklumlah anak-anak lagi ujian.”

“Di kompres dulu sebelum tidur supaya gak semakin bengkak.” Saran beliau.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ku matikan lampu dapur lalu menuju kamarku. Senyumku mengembang kala melihat layar ponselku menyala, artinya tadi ada yang menghubungiku, mungkin saja Randi berubah pikiran lalu menghubungiku. Tapi senyum itu langsung memudar begitu melihat nama Nurmalalah yang tertera di layar, enggan membaca apalagi membalas akupun langsung saja menggulir pesan itu kebawah, mencari nama Randi.

“Aku di blokir.” Gumamku begitu melihat contact namenya. Mataku menerawang jauh, kembali ke masa sebelas tahun silam dimana aku dengan s**arelanya menyerahkan badan ini untuk di jamah pria yang ku kenal di kampus, pria yang sudah akan di wisuda sedangkan aku masih di tingkat dua. Pria yang dengan bujuk rayunya berhasil membuatku menelanjangi diriku sendiri di hadapannya. Berulang kali, berkali-kali, sampai akhirnya pria itu dengan tanpa bersalah sedikitpun meninggalkanku dan menikah dengan rekannya di kantor. Hahh, lucu, alasannya meninggalkanku karena aku sudah tidak perawan, padahal dia sendirilah yang mengoyaknya tapi dia sendiri juga yang meragukan tentang harga diriku.

Sepuluh tahun lamanya aku terpuruk, menutup diri dari pria manapun yang mendekatiku, sampai akhirnya aku bertemu Randi. Mungkin karena umur yang sudah genap tiga puluh tahun yang membuatku menerimanya, mungkin juga karena desakan ibu yang khawatir karena anak sulungnya ini sudah di langkahi si bungsu, mungkin juga cara Tuhan yang aku tidak tau tujuannya apa.

Ku hapus air mata di p**i, ku tegapkan badanku lalu menghembuskan nafas sekuat-kuatnya.

“Aku harus kuat, aku harus tegar, aku harus mempertanggung jawabkan kesalahanku dulu.” Monologku menguatkan diri. Aku tidak akan terus melarikan diri seperti ini, karena hidupku harus terus berlanjut.

24/10/2023

1 2 3 4

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bunda Bohay posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share