13/01/2018
Budaya Metekap
Metekap
Berbagi.... kali ini membahas tentang : Budaya Metekap yg hampir punah.
Saat ini warga subak jarang menggunakan tenaga kerbau atau sapi untuk mengolah lahan sawahkarena digantikan dengan tenaga traktor, karena lebih praktis dan moderen. tapi kali ini kita membahas tentang metekap yg hampir ditinggalkan masyarakat bali, Secara umum di Bali disebut dengan “metekap”. Metekap terdiri dari beberapa tahapan dan masing-masing tahapan memiliki sebutan berbeda yaitu: makal, mungkahin, ngelampit dan ngasahan.
Tahapan metekap menyesuaikan dengan kondisi lahan, kecepatan, waktu, minat dan kenyamanan kerja sehingga pola tanam bisa selaras dengan siklus sosial budaya masyarakat di wilayah setempat.
Jika dicermati metekap dengan teknis dan tahapan yang benar akan berdampak pada pelestarian ekosistem dan sumber daya air yang ada di sebuah kawasan persawahan. “Metekap membutuhkan volume air lebih sedikit dibandingkan menggunakan traktor”.
Lebih jauh secara filosofis sapi adalah simbul kehidupan”. Metekap pun boleh dikatakan sebuah kegiatan manusia dalam mempelajari atau mendekatkan diri dengan alam terutama dengan tanah sebagai simbul Ibu Pertiwi.
Pun secara alami sapi memang salah satu binatang yang s**a hidup di alam terbuka untuk bergerak bebas, menyetuh air dan tanah (mekipu). Juga membuang kotoran dan kencing di alam terbuka. Jadi kotoran dan kencing sapi di real sawah berguna untuk pupuk alami.
Prilaku dan manfaat sapi yang digunakan metekap pun akan berbeda dibandingkan dengan yang di kandang. Sapi yang dikandang cendrung hanya untuk penggemukan dan produksi kotoran untuk pupuk. Sedangkan sapi yang digunakan untuk metekap memiliki manfaat lingkungan, ekonomi, social dan budaya yang sangat luas.
Semoga berkenan