26/01/2026
Gotong Royong yang Mulai Pudar: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Desa Kita?
Dulu, gotong royong di desa seperti napas harian. Ada yang membangun rumah, warga datang membawa tenaga. Ada yang panen, tetangga ikut membantu. Ada jalan rusak, orang-orang turun bersama memperbaiki. Bahkan ketika ada hajatan, semua bergerak tanpa perlu banyak undangan. Gotong royong bukan sekadar kegiatan, tetapi cara hidup—yang membuat desa terasa dekat, hangat, dan saling menguatkan.
Namun pelan-pelan, suasananya berubah. Bukan berarti gotong royong hilang sepenuhnya, tetapi intensitasnya tidak sekuat dulu. Di beberapa tempat, kerja bakti semakin sepi. Undangan gotong royong sering dijawab dengan alasan yang sama: “maaf, sibuk kerja”, “harus ke kota”, atau “ada urusan keluarga”. Banyak warga kini hidup dengan ritme yang berbeda—waktu lebih sempit, tuntutan ekonomi lebih berat, dan pekerjaan semakin beragam. Desa tidak lagi sepenuhnya “bertani bersama”, karena sebagian warganya menjadi buruh, pedagang, pekerja harian, atau merantau p**ang-pergi.
Perubahan ekonomi adalah salah satu penyebab utama. Ketika penghasilan tergantung pada jam kerja atau target, waktu luang menjadi mahal. Kerja bakti yang dulu dianggap kewajiban sosial, kini kadang dianggap mengurangi kesempatan mencari nafkah. Di sisi lain, pola pikir masyarakat juga bergeser. Budaya “urusan bersama” perlahan terganti oleh “urusan masing-masing”. Teknologi mempercepat perubahan ini—orang bisa berkomunikasi tanpa harus bertemu, bisa memberi bantuan lewat transfer tanpa hadir, dan bisa merasa “cukup peduli” hanya dengan pesan singkat.
Tapi penyebabnya tidak selalu soal ekonomi. Ada faktor kepercayaan yang ikut berpengaruh. Jika masyarakat merasa program desa tidak transparan, atau hasil kerja bakti tidak terawat, semangat gotong royong bisa menurun. Warga jadi bertanya-tanya: “untuk apa saya datang kalau ujungnya tidak jelas?” Ditambah lagi, adanya perbedaan pilihan politik, konflik kecil antarwarga, atau kecemburuan sosial sering membuat kebersamaan jadi rapuh. Gotong royong membutuhkan rasa percaya, dan rasa percaya butuh ruang untuk dirawat.
Meski begitu, gotong royong sebenarnya belum mati. Ia hanya berubah bentuk. Saat ada musibah, warga masih berkumpul membantu. Saat ada yang sakit, tetangga tetap menjenguk dan mengurus. Saat ada kebutuhan mendesak, masih ada yang bergerak tanpa pamrih. Artinya, nilai gotong royong masih hidup—tetapi perlu “diaktifkan” kembali dalam keseharian.
Kuncinya adalah mengembalikan makna gotong royong sebagai investasi sosial, bukan beban. Gotong royong bisa dibangkitkan lewat musyawarah yang jujur, pembagian tugas yang adil, transparansi penggunaan sumber daya, dan pengakuan kecil terhadap kontribusi warga. Desa yang kuat bukan hanya yang punya bangunan bagus, tetapi yang warganya saling percaya dan mau berjalan bersama. Jika gotong royong kembali hidup, desa tidak hanya rukun—desa juga tahan menghadapi krisis apa pun, karena kekuatannya ada pada kebersamaan.