Eksplorasi Klik Warta

Eksplorasi Klik Warta Mengeksplorasi :
- PURBAKALA
- SEJARAH (ERA BELANDA)
- BENDA KUNO
- POTENSI ALAM
- DAERAH HOROR

https://www.klikwarta.com/

07/10/2021

Ternyata! Ada Batu Kuno Yang Tersembunyi
👍🙏Like & Share

Saat penelusuran, Cak Hari dan Kang Jari melihat batu lumpang, dan lumpang ini berdiameter 66 cm, serta kedalaman lobang 28 cm. Belum jelas berapa lumpang ini sesungguhnya, lantaran bagian bawah masuk ke dalam permukaan tanah.

Tidak jauh dari keberadaan lumpang, ada tumpukan bata merah yang tercecer di areal perkebunan. Panjang maupun lebar bata merah tak dapat diukur, lantaran kondisinya hancur, sedangkan ketebalannya terukur 10 cm.

Ternyata, selain bata merah yang tergeletak di atas permukaan tanah, ada tumpukan bata merah tersusun di dalam tanah.

selengkapnya klik:
https://www.klikwarta.com/ternyata-ada-jejak-peradaban-masa-lalu-di-tengah-hutan

07/10/2021

Hutan Ini Menyimpan Peradaban Kuno
👍🙏Like & Share

Di salah satu areal perkebunan, terdapat batu pipih dan datar dalam kondisi miring 72 derajat. Diameter batu tersebut tidak dapat dipastikan, lantaran sebagian masuk ke dalam tanah.

Tebal batu itu terukur 26 cm, dan kemungkinan batu ini adalah batu dhorpal, yang umum pada masa lalu digunakan untuk bermeditasi atau bertapa.

Sebelumnya, sekitar lebih 10 tahun lalu, Kang Jari pernah menemukan pecahan benda-benda mirip kendi, tetapi ukuran maupun bahannya tidak sebagaimana umumnya.

https://www.klikwarta.com/ternyata-ada-jejak-peradaban-masa-lalu-di-tengah-hutan

07/10/2021

Misteri Bangunan Tak Kasat Mata

👍🙏Like & Share

Konon, punden yang berlokasi di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dulunya adalah bangunan di masa lampau. Entah kenapa, bangunan tersebut tenggelam ke dalam dasar tanah, dan hanya menampakkan bebatuan andesit tak berwujud apapun di permukaannya.

Cak Hari, pemerhati budaya dan Kang Juari, sesepuh desa setempat, bersama Mbah Tarmuji, warga RT 27 RW 08, Dusun Lebo, Desa Madiredo, melakukan penelusuran seputar misteri, sekaligus mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

Punden yang dinamakan "Mbah Sumodiharjo" atau disebut "Pangeran Samber Nyowo" oleh warga setempat, lokasinya tidak jauh dari jalan pedesaan, hanya sekitar 100 meter jaraknya. Berada di tengah areal pertanian berpermukaan miring yang didominasi tanaman holtikultura, punden tersebut terlihat mencolok, lantaran satu-satunya bangunan bertembok permanen.

Disekitar punden, terlihat beberapa bebatuan andesit berceceran, dan bentuknya rata-rata pipih dengan ketebalan sekitar 16 hingga 19 cm, sedangkan kelebaran sekitar 42 hingga 63 cm. Diantara bebatuan tersebut, ada 1 batu terlihat ada 2 lubang dengan kedalaman sekitar 8 hingga 9 cm.

Menurut Tarmuji, batu berlubang 2 ini, adalah batu dakon, dan dulunya pernah dijadikan tempat meramu obat-obatan. Batu ini terkoneksi dengan batu berbentuk lumpang dengan lebar 28 cm dan kedalaman 19 cm. Kedua batu itu, sama-sama digunakan untuk membuat ramuan obat di masa lalu.

selengkapnya klik:
https://www.klikwarta.com/gedong-silem-bangunan-tempo-dulu-yang-tak-berwujud

07/10/2021

Dimensi Penghubung Pantai Selatan, Benarkah?
👍🙏Like & Share
Para pelaku spiritual menyebut lokasi ini terhubung dengan pantai selatan. Terhubungnya bukan oleh akses moda transportasi, tapi dimensi lain.

Hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakan energi-energi tak kasat mata di tempat ini, dan warga sekitar menyebutnya, Watu Ngesong.

Lokasinya berada di Desa Waturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Tempat ini cukup eksotis, alam pedesaan melebur dengan hutan bambu.

Eksistensi makhluk astral, diyakini ada ditempat ini, dan menarik perhatian para pelaku spiritual dari berbagai daerah. Mereka datang ke tempat ini dengan berbagai maksud dan tujuan.

Tak cuma para pelaku spiritual, tempat ini juga menjadi sasaran Togel Lovers. Sudah pasti, togel lovers ini, bertujuan untuk meraup rejeki secara instant.

Benarkah lokasi ini terhubung dengan pantai selatan, semua itu masih tanda tanya. Bukti otentik dibutuhkan untuk pembenarannya.

Kita tinggal di Nusantara. Budaya di Nusantara, adalah milik kita. Karena kitalah, pemilik sesungguhnya Budaya Nusantara. Sepatutnya, Budaya di Nusantara ini, kita jaga, kita rawat, dan kita lestarikan. Karena Budaya kita, Budaya Nusantara.

Ingin tahu lebih jauh seni, budaya dan tradisi Nusantara, silahkan klik:

klikwarta.com

07/10/2021

Mitos Panji Laras Dibalik Gunung Cilik

👍🙏Like & Share

Gunung yang tidak terlalu tinggi, berada di areal pertanian permukaan miring, cukup mencolok terlihat jauh. Bunga berwarna warni ditambah tulisan berukuran raksasa, memperjelas keberadaannya.

Gunung Cilik, disebut warga setempat, dan konon ada legenda yang masuk kategori "literary cycle" tersemat dalam riwayatnya. Untuk mengetahui kejelasannya, Cak Hari, pemerhati budaya, bersama Kang Juari, sesepuh desa setempat, menelusuri jejak masa lalu, yang konon ada di tempat itu.

Lokasi Gunung Cilik tersebut berada di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dan untuk mencapainya, cukup berjalan kaki sejauh sekitar 100 meter dari jalan pedesaan. Jalan yang dilewati tidaklah sulit, justru mengesankan alam pedesaan yang sejuk dan indah.

selengkapnya klik:
https://www.klikwarta.com/gunung-cilik-diduga-ada-jejak-panji-laras

07/10/2021

Eksplorasi Patirtan Taman Sari Kasuranggan
👍🙏Like & Share
Patirtan Taman Sari Kasuranggan terletak di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Singosari, Malang, atau berada di komplek Candi Sumberawan.

Partitan tersebut dibangun tahun 2021 dan terbuka untuk umum, dalam artian tidak tersekat background religi, aktifitas maupun personal.

Dikatakan Cak Hari, pemerhati budaya, patirtan Taman Sari Kasuranggan sudah didatangi orang dari berbagai daerah dan berbagai latarbelakang religi, dengan aktifitas berbeda-beda.

Pembangunan patirtan ini, memang didesain multifungsi, dan airnya berasal dari sumber air di area Candi Sumberawan.

selengkapnya klik:
https://www.klikwarta.com/eksplorasi-patirtan-taman-sari-kasuranggan-disekitar-candi-sumberawan

07/10/2021

Dibalik Wayang, Ada Apa?
👍🙏Like & Share
Ancaman invasi budaya asing, tidak mustahil bakal menggerogoti. Padahal, wayang mutlak dan absolut adalah budaya Nusantara. Generasi muda lebih menatap superhero Hollywood, ketimbang tokoh-tokoh pewayangan.

Kondisi saat ini serba sulit, tanpa pentas, wayang duduk ditempat. Otomatis pelaku wayang, dari dalang, penabuh gamelan, sinden hingga pendukungnya, harus menghadapi "intervensi" rumah tangga yang terkorelasi dengan ekonomi.

Cak Hari bersama Den Bagus buka-bukaan disini.

ingin tahu lebih jauh budaya Nusantara, silahkan klik:
klikwarta.com

07/10/2021

Candi Sumberawan Dalam Historis
👍🙏Like & Share
Berdasarkan bentuk yang tertulis pada bagian "batur" dan "dagoda", diperkirakan Candi Sumberawan dibangun sekitar abad 14. Candi tersebut terbuat dari batu andesit, yang berukuran panjang 6,25 meter, lebar 6,25 meter, dan tinggi 5,23 meter.

Candi Sumberawan terdiri dari kaki, dan badan berwujud stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat "selasar", dan kaki candi memiliki "penampil" di keempat sisinya.

Di atas kaki candi, berdiri stupa yang terdiri atas "lapik" bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan padma. Sedangkan bagian atas berbentuk genta, yang puncaknya telah hilang.

Diduga, karena ada kesulitan dalam pemugaran bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Kemungkinan, puncaknya dulu tidak dipasang atau dihias dengan payung atau "chattra", karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali.

Chattra adalah anatomi stupa yang posisinya berada paling atas, yang berbentuk payung bersusun tiga di atas "yasti".

Sebuah stupa terdiri atas sebuah kubah, diletakan di atas sebuah alas yang ditinggikan dalam satu atau dua tingkat, dan di atas kubah tersebut, terdapat sebuah "harmika" yang terdiri atas dasar, dan sebuah as roda atau batang yang menopang payung-payung (roda-roda berbentuk bulat).

Bila dilihat bentuknya hanya berupa stupa, tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya, diperkirakan candi Sumberawan memang dibangun untuk pemujaan.

selengkapnya klik:
https://www.klikwarta.com/ekspedisi-purbakala-sumberawan-candi-budha-era-majapahit



Kita tinggal di Nusantara. Budaya di Nusantara, adalah milik kita. Karena kitalah, pemilik sesungguhnya Budaya Nusantara. Sepatutnya, Budaya di Nusantara ini, kita jaga, kita rawat, dan kita lestarikan. Karena Budaya kita, Budaya Nusantara.

07/10/2021

Penelusuran Sisi Lain Candi Sumberawan
👍🙏Like & Share

Disekitar Candi Sumberawan, terdapat telaga, dan menurut "literasi lokal", dari telaga inilah cikal bakal penamaan pemukiman penduduk disekitarnya.

Penduduk "perdana" sekitar candi, menyebutnya "rowoan", karena adanya sumber air yang membentuk rawa. Dari kata "sumber" dan "rawa", dinamailah pemukiman disekitar candi tersebut, Sumberawan.

Menurut kacamata supranatural, sumber di bawah Candi Sumberawan mengalirkan air suci, akibat begitu kuatnya para pertapa tempo dulu, yang melakukan ritual, hingga membuat sumber air ini menjadi air "amerta" atau air keabadian.

Candi Sumberawan ditemukan pada tahun 1845, dan usai penemuan tersebut, pengungkapan historis dilakukan oleh arkeolog Belanda di tahun 1904 dan 1928.

Tahun 1933, "Oudheidkundige Dienst" atau Dinas Purbakala Hindia Belanda, melakukan kunjungan, sekaligus penelitian. Hasil kunjungan dan penelitian itu, di tahun 1937, Dinas Purbakala Hindia Belanda melakukan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat.

Dinas Purbakala Hindia Belanda, dibentuk pada 14 Juni 1913 melalui "Gouvernementsbesluit" atau Keputusan Pemerintah dan "Staatsblad van Nederlandsch Indie" atau Lembaran Negara Hindia Belanda nomor 62 tahun 1913.

selengkapnya klik:
https://www.klikwarta.com/ekspedisi-purbakala-sumberawan-candi-budha-era-majapahit



Kita tinggal di Nusantara. Budaya di Nusantara, adalah milik kita. Karena kitalah, pemilik sesungguhnya Budaya Nusantara. Sepatutnya, Budaya di Nusantara ini, kita jaga, kita rawat, dan kita lestarikan. Karena Budaya kita, Budaya Nusantara.

07/10/2021

Jejak Peradaban Era Majapahit di Candi Sumberawan
👍🙏Like & Share
Dalam kitab Negarakertagama, tercantum nama "Kasuranggan", dan nama ini diyakini sebagian orang, adalah nama lain dari Candi Sumberawan. Kasuranggan diterjemahkan, taman yang dipenuhi bidadari, atau "Garden of Angels".

Dilihat bentuknya yang berwujud stupa, dapat dipastikan Candi Sumberawan berlatarbelakang Budha. Uniknya, Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik turun.

Candi Sumberawan terletak di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, atau tepatnya berada di titik koordinat 7°51'20.5" lintang selatan 112°38'40.2" bujur timur, dengan ketinggian 662 mdpl (meter diatas permukaan laut).

Sebagaimana tertulis dalam kitab Negarakertagama, tahun 1281 Saka atau 1359 Masehi, Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan di teritorial Majapahit atau "Wilwatika", dan mengunjungi di Candi Sumberawan.

Hayam Wuruk atau Maharaja Sri Rajasanagara, menerintah Kerajaan Majapahit tahun 1350 hingga 1389, dan berstatus raja keempat setelah Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana, Kalagamet atau Sri Jayanagara, serta Sri Gitarja Tribhuwana Wijayatunggadewi.

selengkapnya klik:
https://www.klikwarta.com/ekspedisi-purbakala-sumberawan-candi-budha-era-majapahit



Kita tinggal di Nusantara. Budaya di Nusantara, adalah milik kita. Karena kitalah, pemilik sesungguhnya Budaya Nusantara. Sepatutnya, Budaya di Nusantara ini, kita jaga, kita rawat, dan kita lestarikan. Karena Budaya kita, Budaya Nusantara.

07/10/2021

Mitos atau Fakta? Burung Terkorelasi Dimensi Lain!
👍🙏Like & Share
Apa benar burung berhubungan dengan keberadaan makhluk astral? Apa benar suara burung menetralisir energi negatif disekitarnya? Apa benar keberadaan burung mempengaruhi aura disekitar rumah? Semua dikupas mendalam Cak Hari bersama Mbah Suharnoko!

Address

Bengkulu

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Eksplorasi Klik Warta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Eksplorasi Klik Warta:

Share