18/04/2026
Bab 1: Pengusiran Sang "Gembel"
Matahari sore di Desa S**a Maju terasa begitu menyengat, namun tak sepanas hati Zulkifli—atau yang akrab dipanggil Jol—saat berdiri di depan gerbang rumah mewah berlantai dua itu. Rumah yang catnya masih mengkilap, hasil dari keringatnya memeras tenaga sebagai kontraktor di Jerman selama lima tahun terakhir.
Jol tampil mengenakan kemeja kotak-kotak yang sudah sobek di bagian bahu, celana jins penuh noda oli, dan rambut yang sengaja ia buat acak-acakan dengan debu jalanan. Di tangannya, sebuah koper kayu tua yang ia temukan di tempat sampah bandara.
"Tertawa... hehehe... bintangnya banyak... satu, dua..." Jol bergumam tidak jelas sambil tertawa cekikikan, memainkan jari-jarinya di udara.
"ASTAGA! JOL?!"
Sebuah teriakan melengking memecah suasana. Ibu Ratna, ibu mertua Jol, berdiri di teras dengan daster sutra mahal dan perhiasan emas yang penuh di lengannya. Di sampingnya, Rama, adik ipar Jol yang tampil parlente dengan jam tangan bermerek, menatap dengan mulut ternganga.
Bersambung ke kolom komentar...