30/06/2026
[BACA SEBELUM DIHAPUS] GAJI 25 JUTA TAPI CUMA KASIH ORANG TUA 1 JUTA, SAYA DIKUTUK JADI ANAK DURHAKA DI GRUP WA KELUARGA
​Terserah netizen mau hujat saya atau tidak, tapi saya butuh mengeluarkan unek-unek ini.
​Saya (26 tahun) baru saja mendapat promosi jabatan dengan gaji Rp25 juta per bulan. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi anak daerah seperti saya. Tapi alih-alih ikut senang, grup WhatsApp keluarga saya sekarang berubah jadi neraka.
​Semua bermula ketika Ibu meminta saya membelikan motor baru untuk adik sepupu saya, sekaligus membiayai renovasi rumah bibi di kampung. Saya menolak. Saya bilang, saya hanya bisa mengirimkan Rp1 juta per bulan khusus untuk kebutuhan pokok Ibu dan Ayah. Tidak lebih.
​Seketika, paman dan bibi saya meradang. Di grup WA keluarga, mereka mulai menyindir saya dengan ayat-ayat agama tentang "berbakti", menyebut saya "kacang lupa kulitnya", bahkan Ibu saya sendiri menangis dan mengatakan bahwa rezeki saya tidak akan berkah karena pelit kepada keluarga sendiri.
​Alasan saya keras kepala?
Saya sedang menabung untuk DP rumah, menyiapkan dana pensiun untuk diri saya sendiri agar kelak anak-anak saya tidak mengalami nasib yang sama seperti saya: menjadi Generasi Sandwich. Saya ingin memutus rantai ini. Saya tidak mau masa tua saya nanti merepotkan anak cucu.
​Kemarin, saya sengaja mengunggah foto laptop baru dan tiket liburan saya ke Bali di Instagram Story. Bukannya saya pamer, tapi saya ingin menunjukkan bahwa ini adalah uang hasil kerja keras saya, dan saya berhak menikmatinya setelah bertahun-tahun hidup sengsara saat merantau.
​Sekarang, hampir seluruh keluarga besar mendiamkan saya. Ibu saya bahkan mengancam tidak mau menganggap saya anak lagi kalau saya tidak meminta maaf dan menuruti kemauan keluarga.
​Apakah salah jika saya memprioritaskan masa depan saya sendiri daripada menuruti tuntutan keluarga besar yang tidak ada habisnya? Apakah salah jika saya menolak menjadi tumpuan finansial bagi orang-orang yang sebenarnya masih sehat dan bisa bekerja?
​Bagaimana menurut kalian? Apakah saya memang sudah menjadi anak durhaka?