Tirza Roring Whitehurst

Tirza Roring Whitehurst From CA corporate, OR country living, & SD wellness to full-time RVing. Life brought me to a remote jungle in Indonesia.

Now living alone here, I have found that while paths change, יְהֹוָה אֵל שַׁדַּי YHWH El Shadday has never left nor forsaken me.

A little piece of jungle paradise 🍃Yesterday evening, Wanda and I explored Auntie Esther's wooden house, which is still ...
06/03/2026

A little piece of jungle paradise 🍃

Yesterday evening, Wanda and I explored Auntie Esther's wooden house, which is still under construction, while Faith stayed cozy in the car.
Framing this simple home between giant taro leaves brought me so much peace.

While Wanda was on a video call trying to find the perfect signal spot to show Auntie Esther in U.S.A 🇺🇲 the progress, I walked around the property capturing these photos. Stepping into this quiet space, listening to the nearby river, and breathing in the fresh, cool jungle air absolutely resonates with my soul 🪵✨

The soil here is so rich and alive, already nurturing organic eggplants, giant taro, and a bright bouquet of vibrant orange and yellow flowers. There is something profoundly beautiful about a simple, quiet life.

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Sepotong kecil surga di tengah hutan 🍃

Kemarin sore, saya dan Wanda melihat-lihat rumah kayu Auntie Esther yang masih dalam proses pembangunan, sementara Faith tetap menunggu di mobil. Melihat kerangka rumah sederhana ini di antara daun-daun talas raksasa membawa kedamaian tersendiri bagi saya.

Selagi Wanda sibuk melakukan panggilan video dan mencari titik sinyal terbaik untuk menunjukkan perkembangannya kepada Auntie Esther di Amerika 🇺🇲 saya berjalan berkeliling untuk mengabadikan foto-foto ini. Melangkah ke dalam ruang yang tenang ini, mendengarkan gemercik air sungai di dekatnya, dan menghirup udara hutan yang segar dan sejuk benar-benar menenteramkan jiwa 🪵✨

Tanah di sini begitu subur dan kaya kehidupan, telah merawat terong organik, talas raksasa, dan buket bunga berwarna oranye dan kuning yang cerah. Ada keindahan yang sangat mendalam dari sebuah kehidupan yang sederhana dan tenang.



















📸 Images by © Tirza Roring Whitehurst
📍 North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩
📱 Shot on Samsung Galaxy

We don't always have them every day. But when we do, we have absolute abundance.These photos were taken about five weeks...
06/01/2026

We don't always have them every day. But when we do, we have absolute abundance.

These photos were taken about five weeks ago at the home of my dear friends Wanda, Roy, and their daughter Faith. Their place is just half a kilometer away from our jungle property, and their generosity is as boundless as the nature around us.

Look at this incredible harvest they graciously shared with me, letting me enjoy as much as I could eat:

Tree-ripened organic Pisang Tundu (or Pisang Jare). In our local Minahasan (Kawanua) language, "Jare" means finger, because these unique bananas grow to the size of your fingers.

Tree-ripened organic Pisang Raja (King Bananas) 👑

Tree-ripened organic Papayas, sweet and fresh right from their garden.

To top off this beautiful spread, the rich Alpukat Mentega (Butter Avocados) you see here were actually bought by Wanda and her husband Roy from my youngest sister. She planted the tree years ago. Though she and her family live near the ocean—about 40 minutes away from our jungle property—her harvest reaches us all the way up here through this creamy, delicious fruit.

Living here teaches me that true wealth isn't bought—it is grown, shared, and celebrated with the people you love 💚

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Kami tidak selalu memilikinya setiap hari. Namun saat panen tiba, jumlahnya benar-benar melimpah ruah.

Foto-foto ini diambil sekitar lima minggu yang lalu di rumah sahabat saya, Wanda, Roy, dan putri mereka, Faith. Rumah mereka hanya berjarak setengah kilometer dari properti hutan kami, dan kemurahan hati mereka seluas alam di sekitar kita.

Lihatlah hasil panen luar biasa yang dengan murah hati mereka bagikan kepada saya, membiarkan saya menikmati sebanyak yang saya bisa makan:

Pisang Tundu (atau Pisang Jare) organik yang matang di pohon. Dalam bahasa lokal Minahasa (Kawanua) kami, "Jare" berarti jari, karena pisang unik ini tumbuh hanya sebesar jari Anda.

Pisang Raja organik yang matang di pohon 👑

Pepaya organik matang pohon, manis dan segar langsung dari kebun mereka.

Sebagai pelengkap hidangan yang indah ini, Alpukat Mentega yang kaya rasa ini sebenarnya dibeli oleh Wanda dan suaminya, Roy, dari adik bungsu saya. Ia menanam pohonnya beberapa tahun yang lalu. Meskipun ia dan keluarganya tinggal di dekat laut—sekitar 40 menit dari properti hutan kami—hasil panennya sampai ke tempat kami di sini melalui buah yang lezat dan lembut ini.

Tinggal di sini mengajarkan saya bahwa kekayaan sejati tidak dibeli—melainkan ditanam, dibagikan, dan dirayakan bersama orang-orang yang Anda cintai 💚















📸 Photos by Tirza Roring Whitehurst

Yesterday, on my way to Wanda, Roy, and Faith for my daily handwash laundry and shower, I ran into Jein. She had just ha...
05/31/2026

Yesterday, on my way to Wanda, Roy, and Faith for my daily handwash laundry and shower, I ran into Jein. She had just harvested a beautiful whole tandan (bunch) of Pisang Tundu (also known as Pisang Jare) and generously tried to give me the whole thing.

I insisted on taking just one hand instead, as my youngest sister’s family isn’t here right now and I couldn't possibly eat it all. But when I walked back, Jein and her husband Vence—who have been such a huge help simply because we are neighbors—had left me even more in their oxcart before I climbed up the hill. Wanda also gifted me two Pisang Tandu (Horn Bananas) from her garden.

This morning, I enjoyed a delicious breakfast using the Pisang Tandu from Wanda. It’s the little moments of genuine kindness and community here that make this jungle life so special 💚

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Kemarin, saat dalam perjalanan seperti biasa untuk mencuci baju sekalian mandi di rumah Wanda, Roy, dan Faith, saya bertemu dengan Jein. Dia baru saja memanen satu tandan penuh Pisang Tundu (atau Pisang Jare) dan dengan murah hati ingin memberikannya semua kepada saya.

Saya bersikeras mengatakan untuk memberikan satu sisir saja karena keluarga adik bungsu saya sedang tidak berkunjung dan saya tidak mungkin bisa menghabiskannya sendirian. Tapi saat saya kembali, Jein dan suaminya, Vence—yang selalu sangat baik membantu kami karena kami bertetangga—malah telah meninggalkan lebih banyak pisang di gerobak sapi mereka untuk saya bawa sebelum mendaki bukit. Wanda juga memberi saya dua buah Pisang Tandu dari kebun mereka.

Pagi ini, saya menikmati sarapan pisang goreng yang lezat menggunakan Pisang Tandu dari Wanda. Momen-momen kecil yang penuh kebaikan dan kebersamaan di sini yang membuat kehidupan hutan disini begitu istimewa 💚











📸 Photo by Tirza Roring Whitehurst

Waking up this morning was a stark, beautiful contrast to last night's wild storm 🌧️⚡After hours of thunder shaking our ...
05/31/2026

Waking up this morning was a stark, beautiful contrast to last night's wild storm 🌧️⚡

After hours of thunder shaking our little bamboo sabua, I stepped out into a morning of absolute peace. The soft dawn light broke over Mount Tatawiran, with the majestic volcanic Mount Lokon rising just behind it.

I took these photos from our backyard and front yard about four hours ago. Nature is truly incredible—after its loudest roars, it always brings the most peaceful sunrises 🌅🌿

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Bangun pagi ini menjadi kontras yang sangat indah dengan badai liar semalam 🌧️⚡

Setelah berjam-jam guntur mengguncang sabua bambu kecil kami, saya melangkah keluar menikmati pagi yang begitu damai. Cahaya fajar yang lembut menyapa Gunung Tatawiran, dengan Gunung Lokon yang megah berdiri kokoh di baliknya.

Saya mengambil foto-foto ini dari halaman belakang dan depan rumah hutan kami sekitar empat jam lalu. Alam ini sungguh luar biasa—setelah auman paling kerasnya, ia selalu menghadirkan matahari terbit yang paling damai 🌅🌿












📸 Photos by Tirza Roring Whitehurst

05/31/2026

15 straight days. That is how long the rain poured down on us starting May 12, blurring the lines between day and night. We had one brief day of rest. Then, the skies opened right back up.

Yesterday was a day of constant weather shifts. The rain would start, then pause. Start, then pause. Start, then pause once more.

I took that tiny window of silence. I had just finished my daily hand-wash laundry and taken a shower at my friends' house—Wanda, Roy, and their daughter Faith. Right after, I made a run for it, walking back up the muddy, slippery slopes to our jungle property with careful, deliberate steps.

I was still on my way when the skies broke again. Just minutes after stepping inside our little bamboo sabua, the world erupted. CRACK. The thunder rolled in, perfectly synced with blinding flashes of lightning.

Watching and recording it all from my dego-dego (bamboo bed) last night, the noise was deafening. It was a wild, untamed symphony: the heavy drum of rain, the howling wind, the chorus of frogs, and the distant bark of my closest neighbors' dog, Jein and Vence. (My dear friends Wanda, Roy, and Faith live half a kilometer away).

Out here, I am entirely isolated in the heart of the jungle. And yet, as I sat there recording the lightning and the thunder last night, a miraculous, unspeakable peace settled deep inside my soul.

The world outside was chaotic, loud, and wet. But inside me? Total stillness. Sometimes nature has to roar just to remind us how quiet our hearts can truly be.

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

15 hari berturut-turut. Itulah lama waktu hujan mengguyur kami sejak 12 Mei, mengaburkan batas antara siang dan malam. Kami sempat mendapat satu hari istirahat yang singkat. Lalu, langit kembali mencurahkan airnya.

Kemarin adalah hari dengan perubahan cuaca yang tiada henti. Hujan turun, lalu reda. Turun, lalu reda. Turun, lalu reda sekali lagi.

Saya memanfaatkan celah kecil keheningan itu. Saya baru saja selesai mencuci pakaian dengan tangan dan mandi di rumah teman-teman saya—Wanda, Roy, dan putri mereka, Faith. Tepat setelahnya, saya bergegas, berjalan kembali menuruni lereng berlumpur dan licin menuju lahan hutan kami dengan langkah hati-hati dan penuh perhitungan.

Saya masih di perjalanan ketika langit kembali terbuka. Hanya beberapa menit setelah melangkah masuk ke dalam sabua bambu kecil kami, suasana menjadi gempar. BRAK. Guntur menggelegar, berpadu sempurna dengan kilatan petir yang menyilaukan.

Menyaksikan dan merekam semuanya dari atas dego-dego (ranjang bambu) semalam, suaranya benar-benar memekakkan telinga. Sungguh sebuah simfoni alam liar yang tak terkendali: deru hujan yang lebat, lolongan angin, paduan suara katak, dan gonggongan anjing tetangga terdekat saya, Jein dan Vence. (Sahabat-sahabatku tersayang Wanda, Roy, dan Faith tinggal setengah kilometer jauhnya).

Di sini, saya benar-benar terisolasi di jantung hutan. Namun, saat saya duduk di sana merekam kilat dan guntur semalam, kedamaian yang ajaib dan tak terlukiskan meresap jauh ke dalam jiwa saya.

Dunia di luar begitu kacau, bising, dan basah. Tapi di dalam diri saya? Hening total. Terkadang alam perlu mengaum hanya untuk mengingatkan kita betapa tenangnya hati kita yang sesungguhnya.



















🎥 Tirza Roring Whitehurst

After 3 months of relentless heat, the rains arrived on May 12. For 15 straight days, it has rained day and night. It is...
05/28/2026

After 3 months of relentless heat, the rains arrived on May 12. For 15 straight days, it has rained day and night. It is a blessing that has cooled our tropical Minahasa jungle and saved me from steep climbs to water the garden. Yet, nature always brings contrasts. This heavy rain forced a giant venomous centipede into our bamboo sabua for shelter several days ago. I was so grateful my niece Virginia was visiting to help me face it.

Living here since March 16, 2026, without running water or a bathroom means making a 1-kilometer round trip to Wanda, Roy, and Faith’s house just to shower and hand-wash clothes. Yesterday evening, the pouring rain made the steep dirt road incredibly slick and dangerous. Remembering the centipede trauma, I asked Wanda if I could stay the night. She graciously welcomed me to share a room with her daughter, Faith. Having such friends is a true gift.

Walking back to the sabua this morning, the world felt peaceful. On the dirt road, I found a fallen baby coconut and a vibrant red-orange trumpet flower—a beauty I first saw in Tomohon, which I now know grows wild in our jungle property too. I captured these alongside the neighbor's heavy banana trees, coconut palms, and beautiful reflections in the rain puddles.

Life here is not easy. My daily chore involves trekking down what used to be 84 clear steps just to wash dishes and fetch water from our tank. Because our solar pump can only push well water about 1/4 of the way up the hill, the tank sits down there. Now, the heavy rains have turned those steps into a literal waterfall, distorting the path completely. Yet, looking at these views, I am reminded that beauty and hardship walk hand in hand. If you are facing a steep, slippery hill in your life right now, may these reflections bring peace to your soul. You do not have to walk it alone. 🌿✨

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Setelah 3 bulan panas yang tiada henti, hujan akhirnya turun pada 12 Mei. Selama 15 hari berturut-turut, hujan turun siang dan malam. Ini adalah berkah yang menyejukkan hutan tropis Minahasa kita dan menyelamatkan saya dari pendakian terjal untuk menyiram kebun. Namun, alam selalu menghadirkan kontras. Hujan lebat ini memaksa kelabang raksasa berbisa masuk ke dalam sabua bambu kami untuk mencari perlindungan beberapa hari yang lalu. Saya sangat bersyukur keponakan saya, Virginia, sedang berkunjung sehingga membantu saya menghadapinya.

Tinggal di sini sejak 16 Maret 2026 tanpa air mengalir atau kamar mandi berarti saya harus berjalan kaki pulang-pergi sejauh 1 kilometer ke rumah Wanda, Roy, dan Faith hanya untuk mandi dan mencuci pakaian dengan tangan. Kemarin malam, hujan deras membuat jalan tanah yang curam menjadi sangat licin dan berbahaya. Mengingat trauma akan kelabang tersebut, saya bertanya kepada Wanda apakah saya boleh menginap. Dengan baik hati ia menyambut saya untuk berbagi kamar dengan putrinya, Faith. Memiliki sahabat seperti mereka adalah anugerah yang nyata.

Berjalan kembali ke sabua pagi ini, dunia terasa begitu damai. Di jalan tanah, saya menemukan kelapa kecil jatuh dan bunga terompet berwarna merah-oranye cerah—keindahan yang pertama kali saya lihat di Tomohon, yang kini saya tahu tumbuh liar di lahan hutan kita juga. Saya mengabadikan momen ini bersama pohon pisang yang lebat milik tetangga, pohon kelapa, dan pantulan indah di genangan air hujan.

Hidup di sini tidaklah mudah. Tugas harian saya mengharuskan berjalan turun menyusuri jalan yang dulunya berupa 84 anak tangga yang bersih hanya untuk mencuci piring dan mengambil air dari tangki kami. Karena p***a tenaga matahari kami hanya mampu mendorong air sumur sekitar seperempat jalan ke atas bukit, tangki tersebut diletakkan di bawah sana. Kini, hujan deras telah mengubah anak-anak tangga itu menjadi air terjun sungguhan, benar-benar mengaburkan jalurnya. Namun, melihat pemandangan ini, saya diingatkan bahwa keindahan dan kesulitan berjalan beriringan. Jika Anda sedang menghadapi bukit yang terjal dan licin dalam kehidupan Anda saat ini, semoga pemandangan ini membawa kedamaian bagi jiwa Anda. Anda tidak perlu melewatinya sendirian. 🌿✨



















📷 Tirza Roring Whitehurst

05/27/2026

There is so much peace in the simple, slow life. Five months ago, my niece Virginia and I gathered a beautiful cornucopia from our jungle property: vibrant rambutans, fresh organic cacao, and wild fiddlehead ferns. Along with some sweet passion fruits, which Auntie Pingkan (who is currently living in the United States 🇺🇲) kindly gave us permission to harvest from her nearby jungle property just 0.5 kilometers away, we beautifully styled them all on the table at Wanda, Roy, and their daughter Faith's residence.

Opening a fresh cacao pod is a wonderful surprise. Inside, the cacao beans are coated in a white, fleshy pulp. It tastes nothing like chocolate—instead, it is a delightfully sweet, juicy, and tangy treat with tropical notes that remind you of mango, lychee, and pineapple. We spent the afternoon enjoying the sweet fruit pulp, and carefully saved the precious cacao beans for future chocolate making.

Letting יהוה YHWH provides through nature brings such calm and joy to the soul. 🌿✨

******* TERJEMAHAN DARI ATAS ******

Ada begitu banyak kedamaian dalam kehidupan yang sederhana yang mengalir perlahan-perlahan. Lima bulan lalu, keponakan saya, Virginia, dan saya mengumpulkan hasil bumi yang melimpah dari lahan hutan kami: rambutan yang segar, kakao organik segar, dan pakis liar. Bersama buah markisa manis yang dipetik dari lahan hutan Auntie Pingkan (yang saat ini tinggal di Amerika Serikat 🇺🇲) yang berjarak sekitar 0,5 kilometer dari lahan kami, kami menatanya dengan indah di atas meja di kediaman Wanda, Roy, and anak perempuan mereka Faith.

Membuka buah kakao segar selalu menjadi kejutan yang menyenangkan. Di dalamnya, biji kakao diselubungi oleh daging buah putih yang lembut. Rasanya tidak seperti cokelat sama sekali—sebaliknya, buah ini merupakan camilan manis, berair, dan sedikit asam yang menyegarkan, dengan nuansa tropis yang mengingatkan kita pada mangga, leci, dan nanas. Kami menghabiskan sore menikmati daging buah yang manis itu, dan dengan hati-hati menyimpan biji kakao yang berharga itu untuk pembuatan cokelat di kemudian hari.

Membiarkan יהוה YHWH menyediakan kebutuhan kita melalui alam memberikan ketenangan dan kebahagiaan tersendiri bagi jiwa. 🌿✨














🎥 Tirza Roring Whitehurst

Address

Laguna Niguel, CA

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tirza Roring Whitehurst posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share