Tirza Roring Whitehurst

Tirza Roring Whitehurst From CA Tech, OR Country Living, & SD Wellness to 7 yrs RVing. Now in North Sulawesi's remote jungle.

Surviving valleys by His grace; יְהֹוָה אֵל שַׁדַּי never leaves nor forsakes. Thriving under His unwavering love & protection, past, present & future.

10/17/2026

🌿 The Rhythm of the Rain

For exactly 79 days—from July 22nd to October 9, 2026—not a single drop of rain fell on our remote jungle property here in North Sulawesi, Indonesia. The locals say it has been the longest, most severe drought they have witnessed in years. Everything around appeared completely dry, parched, and stripped of life.

Yet, in the deep quiet of this isolation, nature began to whisper a profound truth. While some things withered, others did something miraculous. Out in the wild jungle, our organic pineapples, bananas, mangoes, papayas, bamboo trees, cassavas, cacao, langsa, clove trees and coconuts didn't just survive—they stubbornly held on. Look at these Seho (Aren) palm sugar trees in our backyard; despite months of blazing heat, their leaves stand vibrant and green, tapping into a hidden, deep reservoir.

Right here in the backyard, closer to the water tank, the abundant lemongrass I planted on the hillside is thriving. And in this kotak semai (a raised seedling box that Pak Merdy built and his friend Jun filled with rich soil using his excavator a month ago), life is pushing through. I stuck bare, leafless Kangkung (water spinach) stalks into this dirt, and today they are bursting with new leaves, alongside giant green onions or scallions. Daily watering kept these close ones alive, but it was their inner design that chose to grow.

When the shift finally came on October 9th, the heavy, muggy air suddenly gave way to a cool, liberating breeze. Walking down the hill past our bamboo sabua (hut) and back up to the yard, I caught the first pitter-patter of rain on my umbrella.

In the absolute solitude of this jungle, I am reminded that there is an unseen, miraculous power—יהוה אֵל שַׁדַּי (YHWH El Shadday)—who is the רוּחַ הַקֹּדֶשׁ (Ruach HaKodesh), the Wind, the Breath, and the Infinite Mind. He sustains us when our personal landscape feels entirely dried up.

If you are a wounded, exhausted, or discouraged soul navigating your own harshest drought right now, let this be your gentle reminder: stop, breathe, and listen. There is a hidden strength deep inside you. You are allowed to find your own rhythm, reclaim your identity, and exhale the tension. Your rain is coming. You will thrive again 🙌🏽🌧️✨

******* INDONESIAN *******

🌿 Irama Air Hujan

Tepat 79 hari—dari tanggal 22 Juli hingga 9 Oktober 2026—tidak ada satu tetes pun air hujan yang membasahi perkebunan hutan terpencil kami di Sulawesi Utara, Indonesia. Warga lokal menceritakan bahwa ini adalah musim kemarau terpanjang dan terburuk yang pernah mereka alami selama bertahun-tahun. Segalanya tampak begitu kering, gersang, dan seolah kehilangan daya hidup.

Namun, di tengah kesunyian total ini, alam mulai mengajarkan sesuatu yang sangat mendalam. Di saat beberapa tanaman mati, tanaman organik lainnya justru melakukan sesuatu yang ajaib. Di dalam hutan, nanas, pisang, pepaya, mangga, langsa, cengkeh, bambu, singkong, dan kelapa kami tidak sekadar bertahan hidup, melainkan tetap bertumbuh kuat. Lihatlah pohon aren (seho) di halaman belakang kami; meskipun berbulan-bulan ditempa panas yang menyengat, daun-daunnya tetap berdiri hijau segar, menyerap air dari sumber terdalam yang tak terlihat.

Tepat di halaman belakang yang dekat dengan tangki air, tanaman serai yang saya tanam di lereng bukit juga tumbuh sangat subur melimpah. Begitu p**a di dalam kotak semai ini (sebuah wadah pembibitan yang dibuat oleh Pak Merdy dan diisi tanah hingga penuh oleh Jun temannya menggunakan ekskavatornya sebulan yang lalu). Di kotak semai ini, saya menancapkan sisa batang kangkung yang sama sekali tidak berdaun, dan sekarang mereka semua telah bertunas penuh dengan daun-daun baru yang sehat, berdampingan dengan daun bawang raksasa. Penyiraman setiap hari memang menjaga area ini tetap basah, tetapi kekuatan batiniah tanaman inilah yang memilih untuk bangkit kembali.

Ketika perubahan itu akhirnya tiba pada tanggal 9 Oktober, udara panas yang pengap tiba-tiba berganti menjadi hembusan angin yang sejuk dan melegakan. Berjalan menyusuri bukit melewati pondok (sabua) bambu kami dan kembali ke atas, saya mendengar bunyi rintik air hujan pertama yang jatuh di atas payung saya.

Hidup sendirian di tengah hutan ini menyadarkan saya bahwa ada kuasa tak terlihat yang ajaib—יהוה אֵל שַׁדַּי (YHWH El Shadday), Dialah רוּחַ הַקֹּדֶשׁ (Ruach HaKodesh), sang Angin, Nafas, Roh, Kehidupan, dan Pikiran Tanpa Batas yang menopang kita bahkan di saat musim-musim paling sulit dalam hidup kita.

Bagi setiap jiwa yang sedang terluka, lelah, atau berkecil hati yang mungkin sedang melewati musim kemarau spiritual dalam hidupmu saat ini: berhentilah sejenak, tarik nafas dalam-dalam, dan dengarkan. Ada kekuatan tersembunyi jauh di dalam dirimu. Anda berhak menemukan ritme Anda sendiri, menemukan kembali identitas Anda, dan melepaskan semua beban serta ketegangan dengan penuh kebebasan. Hujanmu pasti akan datang. Kamu akan bertumbuh subur kembali 🙌🏽🌧️✨










© 2026 Tirza Roring Whitehurst. All rights reserved 🎥✨
📍 Our Remote Jungle Property, North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩

Following up on yesterday’s harvest, the day after my youngest sister and her family visited, October 5th was all about ...
10/16/2026

Following up on yesterday’s harvest, the day after my youngest sister and her family visited, October 5th was all about turning our fresh rewards into something comforting. Since we intentionally harvested just enough for my sister’s family of five and myself, the bounty was perfectly split—sending the biggest share home with them, and leaving me with just enough for a special treat.

Inside my open-air bamboo sabua, with a cool mountain and ocean breeze blowing gently through and the soothing sounds of nature all around, I set to work making a pot of homemade Kolak Ubi Kayu (Cassava Kolak). For Kawanua or Minahasan people, Kolak Ubi Kayu is the ultimate rustic comfort food—a sweet, warm compote made by simmering starchy root crops in a rich, fragrant liquid until melt-in-your-mouth tender.

First, I peeled, washed, and chopped our organic cassavas into small, bite-sized pieces. To bring it all together, I extracted fresh coconut milk from our jungle coconuts using a traditional Cukuran Kelapa. For those unfamiliar with Minahasan kitchens, a cukuran is a traditional low wooden bench with a spiked metal grater at the tip. You sit astride the bench and grate the coconut manually—this specific one was handcrafted by my brother-in-law using scrap timber from our own land.

I combined the chopped cassava in a stainless steel pot with that freshly squeezed coconut milk, aromatic organic pandan leaves fresh from Auntie Pingkan’s property, a fragrant cinnamon stick, and deep, rich seho (aren) palm sugar. After cooking it patiently over the gas stove until the liquid reduced to a thick, glossy syrup and the kitchen smelled incredible, I carefully spooned the tender cassava onto a plate, after drizzling a final swirl of thick, creamy coconut milk right over the top.

Sitting here in the quiet ambience of the jungle, listening to the birds, and enjoying this beautifully plated, creamy, sweet treat—it is the perfect way to appreciate the fruits of our family teamwork 🥥✨

******* INDONESIAN *******

Melanjutkan hasil panen kemarin, tepat sehari setelah adik perempuan bungsu saya dan keluarganya berkunjung, tanggal 5 Oktober sepenuhnya saya luangkan untuk mengolah hasil panen segar kami menjadi hidangan yang menghangatkan. Karena kami sengaja memanen secukupnya saja untuk keluarga adik saya yang beranggota lima orang ditambah saya sendiri, hasil buminya terbagi dengan sangat pas—porsi terbesar dibawa p**ang oleh mereka, dan menyisakan bagian yang cukup bagi saya untuk membuat hidangan spesial.

Di dalam sabua bambu saya yang berkonsep terbuka, ditemani embusan angin gunung dan laut yang sejuk serta tenangnya suara alam di sekeliling, saya mulai sibuk di dapur membuat sepanci Kolak Ubi Kayu. Bagi orang Kawanua atau orang Minahasa, Kolak Ubi Kayu adalah hidangan tradisional yang tiada duanya—sebuah takjil manis nan hangat yang dibuat dengan merebus umbi-umbian di dalam kuah yang kaya rasa dan harum hingga teksturnya menjadi sangat empuk dan meleleh di mulut.

Pertama-tama, saya mengupas, mencuci, dan memotong ubi kayu organik kami menjadi potongan-potongan kecil sekali gigit. Untuk memadukan semuanya, saya memeras santan segar dari kelapa organik kami menggunakan Cukuran Kelapa tradisional. Bagi yang belum akrab dengan dapur Minahasa, cukuran adalah bangku kayu rendah tradisional dengan parutan logam tajam di ujungnya. Kita duduk di atas bangku tersebut dan memarut kelapa secara manual—alat yang satu ini dibuat oleh adik ipar saya menggunakan kayu sisa dari lahan kami sendiri.

Saya mencampurkan potongan ubi kayu ke dalam panci stainless steel bersama perasan santan segar tadi, daun pandan organik yang harum segar dari kebun Auntie Pingkan, sebatang kayu manis yang wangi, serta gula aren (seho) yang pekat dan legit. Setelah dimasak dengan sabar di atas kompor gas hingga kuahnya menyusut menjadi sirup kental yang berkilau dan dapur dipenuhi aroma yang luar biasa harum, saya menyendok ubi kayu yang empuk itu ke atas piring dengan hati-hati, setelah menuangkan sentuhan akhir berupa siraman santan kental yang gurih tepat di atasnya.

Duduk di sini dalam keheningan suasana hutan, mendengarkan kicauan burung, sambil menikmati hidangan manis nan gurih yang tersaji cantik ini—sungguh menjadi cara yang sempurna untuk mensyukuri hasil dari kerja sama keluarga kami 🥥✨









© 2026 Tirza Roring Whitehurst. All rights reserved
📍 Our Remote Jungle Property, North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩

10/16/2026

Jungle life is beautiful, but it can get incredibly tough when you live out here on your own 🌴✨ That is why having family visit is the absolute ultimate blessing!

On October 4, my youngest sister and her family made the trek out to our remote jungle property here in North Sulawesi. While my brother-in-law was busy getting our solar water pump back up and running, my amazing nieces, Virginia and Veronica, completely took over the farm work.

Take a look at them in action! 19-year-old Virginia is a university student majoring in computer technical engineering, but she clearly has serious farm skills too. She is using a traditional Minahasan tool called a Lewang to dehusk the coconuts. It takes me at least 20 minutes of struggling to clear just one coconut, but Virginia makes it look like a breeze, stripping them down in mere seconds!

Meanwhile, my youngest niece, 9-year-old Veronica, loves to help out just as much! As you can see in the video, she is enthusiastically swinging the cangkul (hoe), digging deep into the dry soil to harvest our organic cassavas and taros 🥥🌾

The ground is completely bone-dry since we haven't seen a single drop of rain since July 22, making farm work even more exhausting. I am so deeply thankful for my family—especially my hard-working nieces—who always step in and make life so much easier whenever they are around 💕

******* INDONESIAN *******

Hidup di tengah hutan itu indah, tapi bisa terasa sangat menantang saat kita tinggal sendirian 🌴✨ Itulah kenapa kedatangan keluarga adalah berkah yang luar biasa bagi saya!

Tanggal 4 Oktober lalu, adik bungsu saya bersama keluarganya datang berkunjung di kebun hutan terpencil kami di Sulawesi Utara. Sambil suaminya sibuk memperbaiki p***a air tenaga matahari kami, dua keponakan perempuan saya yang luar biasa, Virginia dan Veronica, langsung turun tangan membantu di kebun.

Coba lihat aksi mereka di video ini! Virginia yang baru berusia 19 tahun adalah mahasiswi jurusan teknik komputer, tapi dia jago sekali kerja di kebun. Di sini dia memakai alat tradisional Minahasa yang disebut Lewang untuk mengupas kelapa. Biasanya saya butuh waktu sampai 20 menit hanya untuk mengupas satu butir kelapa, tapi Virginia bisa melakukannya dengan sangat mudah hanya dalam hitungan detik!

Tidak kalah hebat, keponakan bungsu saya, Veronica yang baru berusia 9 tahun, juga sangat senang membantu! Seperti yang terlihat di video, dengan penuh semangat dia mengayunkan cangkul, menggali tanah yang keras untuk memanen singkong dan talas organik kami 🥥🌾

Bisa dilihat juga kondisi tanah yang sangat kering karena kami belum merasakan hujan lagi sejak 22 Juli lalu, membuat pekerjaan fisik jadi jauh lebih melelahkan. Saya benar-benar bersyukur punya keluarga seperti mereka—khususnya keponakan-keponakan saya yang rajin ini—yang selalu meringankan segala pekerjaan setiap kali mereka datang berkunjung 💕












© 2026 Tirza Roring Whitehurst. All rights reserved 🎥✨
📍 Our Remote Jungle Property, North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩

10/15/2026

A Late Afternoon at Tomohon Market: Savoring the Sweetness of the Earth ⛰️🥭

On September 25, 2026 at around 3:48 p.m., Wanda, Ka' Early, and I headed out to Pasar Tradisional Tomohon while Auntie Esther chose to stay back and had Faith accompany her at home. There is a raw, centering rhythm to walking through a traditional market—a reminder of life’s simple, unhurried gifts found right in the soil.

Watch Wanda and Ka' Early follow the sweet aroma over to a vibrant fruit stall. Did you know Indonesia is home to over 30 diverse species of mangoes? There are so many unique varieties to discover, and Wanda tracked down the golden sweetness of Mangga Madu (Honey Mangoes). As they browsed the selection together, Ka’ Early hand-selected and taste-tested the fragrant Mangga Harum Manis.

Next, Ka' Early stood by the side of a small pickup truck stacked high with freshly harvested mangosteen—one of my absolute favorite tropical fruits. You could hear her lively bargaining with the seller. He asked for 25,000 IDR per 1 kg / 2.2 lbs (about $1.61 USD / £1.23 GBP). Ka' Early tried bargaining it down to 20,000 IDR (about $1.29 USD / £0.99 GBP), noting she had just bought them for that price in Manado. Ultimately, the seller held firm, so she paid the full asking price of 25,000 IDR—the exact same amount I paid when I purchased some myself. Watching her pull out her wallet to pay reminds me how markets are built on genuine human connection.

There is just something truly special about going to a traditional market, connecting with the earth, and getting some of your absolute favorite fruits while they are fresh, available, and perfectly in season. ✨🚙💨

******* INDONESIAN *******

Sore Hari di Pasar Tomohon: Menikmati Kemanisan Alami dari Bumi ⛰️🥭

Pada 25 September 2026 sekitar pukul 15.48, saya, Wanda, dan Ka' Early pergi ke Pasar Tradisional Tomohon sementara Auntie Esther memilih untuk tinggal dan ditemani oleh Faith di rumah. Ada irama yang jujur dan menenangkan saat berjalan menyusuri pasar tradisional—sebuah pengingat akan karunia hidup yang sederhana dan bersahaja yang ditemukan langsung dari tanah bumi.

Lihatlah Wanda dan Ka' Early mengikuti aroma manis ke sebuah kios buah yang cerah. Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah rumah dari lebih dari 30 spesies mangga yang beragam? Ada begitu banyak varietas unik untuk dijelajahi, dan Wanda mencari rasa manis keemasan dari Mangga Madu. Sambil melihat-lihat pilihan yang ada bersama, Ka’ Early memilih langsung dan mencicipi Mangga Harum Manis yang wangi.

Berikutnya, Ka' Early berdiri di samping sebuah mobil pikap kecil yang dipenuhi tumpukan manggis yang baru dipanen—salah satu buah tropis favorit saya. Anda bisa mendengar tawaran cerianya dengan penjual. Si penjual meminta harga Rp25.000 per 1 kg / 2,2 pon (sekitar $1,61 USD / £1,23 GBP). Ka' Early mencoba menawarnya menjadi Rp20.000 (sekitar $1,29 USD / £0.99 GBP), sambil menyebutkan bahwa dia baru saja membelinya dengan harga tersebut di Manado. Pada akhirnya, penjual tetap pada harganya, sehingga ia membayar harga penuh Rp25.000—jumlah yang sama persis dengan yang saya bayar ketika saya membelinya sendiri. Melihatnya mengeluarkan dompet untuk membayar mengingatkan saya bagaimana pasar dibangun di atas hubungan antarmanusia.

Memang ada sesuatu yang sangat istimewa saat pergi ke pasar tradisional, menyatu dengan alam, dan mendapatkan beberapa buah favorit Anda selagi semuanya masih segar, tersedia, dan sedang musimnya. ✨🚙💨







Copyright © 2026 Tirza Roring Whitehurst
📍 Pasar Tradisional Tomohon (Tomohon Traditional Market), North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩

10/14/2026

Exploring Tomohon’s famous traditional market ⛰️🍅

Two days ago, on October 12, Wanda drove us up to the cooler hills of Pasar Traditional Tomohon in North Sulawesi. Since driving here without structured signs or traffic lights is way different from back home in America, she is always our designated driver on the road.

We left Faith relaxing in the car and walked through rows of amazing local vendors. Watch Auntie Esther (visiting all the way from the USA 🇺🇲) grab some fresh lemong cui (calamansi), crisp green beans (buncis), and sweet jeruk manis.

Meanwhile, Wanda was on a mission for giant scallions and mangga harum manis.

From local greens like kangkung and red spinach to hanging bunches of pisang lilin (candle bananas)—the freshness here is unmatched. Listen closely and you can even hear Auntie Esther chatting with Elin, one of the sweet local sellers.

******* INDONESIAN *******

Jalan-jalan ke Pasar Tradisional Tomohon ⛰️🍅

Dua hari lalu (12 Oktober), Wanda menyetir dan mengantar kami ke Pasar Tradisional Tomohon yang udaranya sejuk sekali. Karena jalanan di sini tanpa lampu merah dan beda jauh dengan di Amerika, Wanda (atau suaminya, Roy)-lah yang selalu jadi pengemudi andalan kami 🚙💨

Faith memilih santai di mobil, jadi kami bertiga deh yang keliling berburu buah dan sayur segar langsung dari berbagai pedagang kecil di pasar. Lihat Auntie Esther yang lagi liburan dari Amerika 🇺🇲 asyik milih lemong cui, buncis, dan jeruk manis. Wanda juga sibuk beli daun bawang besar dan mangga harum manis.

Pasar ini lengkap sekali, mulai dari tomat dan bawang di atas sosiru, kangkung, bayam merah, sampai gantungan pisang lilin yang manis.

Di video ini, kalian juga bisa dengar suara Auntie Esther lagi ngobrol sama Elin, salah satu penjual di sana ✨











© 2026 Tirza Roring Whitehurst. All Rights Reserved.
📍 Tomohon Traditional Market (Pasar Tomohon), North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩

10/13/2026

✨ September 16, 2018 | The Poetry of the Open Road ✨

Leaving the quiet wonder of the roadside caves behind, we pressed deeper into the countryside of Garfield County, Utah 🌾

The early afternoon brought a stillness so profound it felt holy. The wide, open landscapes stretched out under the autumn sky, and the rolling foreground came alive where the rabbitbrush had turned a magnificent, glowing yellow—nature’s first true nod to the changing season.

There is a certain kind of poetic wisdom etched into the open roads of America—a quiet freedom that cannot be captured by words alone, but only felt deep within the human soul.

Living simply as full-time RVers for seven beautiful years taught us that the true vastness of this country isn’t just measured in miles or wide-open spaces, but in the boundless liberty to wander, to explore, and to trust the path laid out before us 🛣️🚐🍂

******* INDONESIAN *******

✨ 16 September 2018 | Puisi di Sepanjang Jalan Terbuka ✨

Meninggalkan keunikan gua di pinggir jalan, kami melaju lebih dalam ke kawasan pedesaan di Garfield County, negara bagian Utah 🌾

Awal siang itu membawa keheningan yang begitu damai, terasa begitu syahdu. Pemandangan alam yang luas membentang di bawah langit musim gugur, dan hamparan semak rabbitbrush di barisan depan tampak menyala dengan warna kuning keemasan yang indah—isyarat alam yang anggun menyambut datangnya perubahan musim.

Ada seuntai kebijaksanaan puitis yang terukir di sepanjang jalan-jalan terbuka Amerika—sebuah kebebasan sunyi yang tidak akan pernah bisa diungkapkan oleh kata-kata, melainkan hanya bisa dirasakan jauh di dalam lubuk jiwa manusia.

Hidup dengan kesederhanaan sebagai petualang RV purnawaktu selama 7 tahun mengajarkan kami bahwa luasnya negeri ini tidak hanya diukur dari jarak mil atau bentang alamnya yang tanpa batas, tetapi dari kemerdekaan jiwa untuk melangkah, menjelajah, dan memercayakan setiap perjalanan pada tuntunan-Nya 🛣️🚐🍂










© 2018–2026 Tirza Roring Whitehurst. All rights reserved.
📍 Garfield County, Utah, USA 🇺🇲🌾

Four years ago, a gentle light entered this world, and though distance and time stretch between us, that light still war...
10/10/2026

Four years ago, a gentle light entered this world, and though distance and time stretch between us, that light still warms my heart today 🌟 Happy 4th Birthday to precious little Mykah ✨

I will always treasure the sweet day I spent holding you, playing with you, and capturing your beautiful spirit through my lens when you were just ten months old 📸👶 Looking at these portraits reminds me that love knows no borders, and true bonds are never truly far apart 🤍🕊️

Sending all my love, prayers, and blessings across the ocean to you, your wonderful Mama Heather, and your Daddy today 🌊💌 May your year ahead be filled with wonder, laughter, and endless joy 🌸🎂🎉

******* INDONESIAN *******

Empat tahun lalu, sebuah cahaya lembut hadir di dunia ini. Meski jarak dan waktu membentang di antara kita, kehangatan cahaya itu masih sangat terasa di hatiku. 🌟 Selamat Ulang Tahun yang ke-4 untuk Mykah kecil yang berharga, mulia, dan istimewa ✨

Saya akan selalu merawat memori indah saat memelukmu, bermain bersamamu, dan mengabadikan jiwamu yang murni lewat lensa kamera-ku ketika kamu masih berusia sepuluh bulan 📸👶 Melihat kembali foto-foto ini mengingatkan saya bahwa kasih sayang tidak mengenal batas jarak, ikatan yang tulus tidak pernah benar-benar jauh 🤍🕊️

Mengirimkan seluruh cinta, doa, dan berkat dari seberang lautan untuk-mu, Mama-mu Heather yang luar biasa, dan Ayah-mu hari ini 🌊💌 Semoga tahun-tahun ke depan penuh dengan keajaiban, tawa, dan kebahagiaan yang tiada akhir 🌸🎂🎉













© 2022-2026 Tirza Roring Whitehurst. All Rights Reserved.
📍 Ukiah, Northern California, U.S.A. 🇺🇲
📸 Canon EOS Digital Rebel XT2i

Address

Laguna Niguel, CA

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tirza Roring Whitehurst posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share