Tirza Roring Whitehurst

Tirza Roring Whitehurst From CA corporate, OR country living, & SD wellness to full-time RVing. Life brought me to a remote jungle in Indonesia.

Now living alone here, I have found that while paths change, יְהֹוָה אֵל שַׁדַּי YHWH El Shadday has never left nor forsaken me.

Today, on my 55th birthday here in the heart of the lush, tropical jungle of North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩, my mind drift...
06/27/2026

Today, on my 55th birthday here in the heart of the lush, tropical jungle of North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩, my mind drifts to one of my most cherished memories from my time in the United States 🇺🇲
Exactly 14 years ago, on my 41st birthday, I stood amidst the vibrant, fragrant purple fields of the Mt. Shasta Lavender Farms in Northern California. Beholding the breathtaking snow-capped peak of Mount Shasta while inhaling the soothing aroma of lavender was a moment of profound, unspeakable awe.

The contrast between the dense, remote jungle of my present home and that vast California landscape reminds me of the beautiful tapestry of God’s creation. Later that day, sitting by a tranquil fountain with a glass of ice-cold, refreshing lavender pink lemonade—so tart, tingly, and perfectly balanced—I felt an overwhelming sense of reverence and deep inner peace.

That natural majesty and the quiet stillness of the water reflected the vastness of the Self-Existing Eternal God Almighty, יהוה אֵל שַׁדַּי YHWH El Shadday. His Ruach (רוּחַ) moves through all creation—as the invisible wind that sweeps across continents, the breath of life sustained in every creature, the air that fills the vast sky, and the divine mind, spirit, and courage that strengthens our inner being. This ultimate source of life connects us all around the world, transcending oceans and jungles. No matter where we are—whether in the American mountains or the Indonesian tropics—His beauty and power bring true healing to the soul.

May His peace fill your heart today, wherever you are in the world. 🌿✨

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Hari ini, pada hari ulang tahunku yang ke-55 di tengah hutan tropis Sulawesi Utara, Indonesia yang rimbun 🇮🇩, pikiranku melayang ke salah satu kenangan paling berharga saat aku berada di Amerika Serikat 🇺🇸 Tepat 14 tahun yang lalu, pada hari ulang tahunku yang ke-41, aku berdiri di tengah ladang ungu yang semarak dan harum di Mt. Shasta Lavender Farms di negara bagian California Utara. Menyaksikan puncak Gunung Shasta yang megah dan diselimuti salju sambil menghirup aroma lavender yang menenangkan adalah momen kekaguman yang begitu mendalam dan tak terkatakan.

Kontras antara hutan yang lebat dan terpencil di tempat tinggalku sekarang dengan lanskap California yang luas itu mengingatkanku akan keindahan jalinan ciptaan Tuhan. Sore harinya, saat duduk di dekat air mancur yang tenang sambil menikmati segelas pink lemonade lavender yang dingin dan menyegarkan—begitu asam, menggigit, namun seimbang sempurna—aku merasakan kekhidmatan yang luar biasa dan kedamaian batin yang mendalam.

Keagungan alam dan keheningan air itu mencerminkan kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Khalik yang Kekal dan Ada dengan Sendirinya, יהוה אֵל שַׁדַּי YHWH El Shadday. Ruach (רוּחַ)-Nya bergerak melintasi seluruh ciptaan—sebagai angin tak kasat mata yang menyapu benua, napas kehidupan yang menopang setiap makhluk, udara yang memenuhi langit luas, serta pikiran ilahi, roh, dan keberanian yang menguatkan batin kita. Sumber kehidupan tertinggi ini menghubungkan kita semua di seluruh dunia, melintasi samudra dan hutan. Di mana pun kita berada—baik di pegunungan Amerika maupun di wilayah tropis Indonesia—keindahan dan kuasa-Nya membawa kesembuhan sejati bagi jiwa.

Semoga damai sejahtera-Nya memenuhi hatimu hari ini, di mana pun kamu berada di dunia. 🌿✨










Nature moves at the perfect pace. On May 30, my wonderful neighbors, Jein and her husband Vence, gifted me a bunch of Or...
06/26/2026

Nature moves at the perfect pace. On May 30, my wonderful neighbors, Jein and her husband Vence, gifted me a bunch of Organic Pisang Tundu—freshly harvested straight from their jungle property yard.

Slide to see the transformation... In just a little over a week (taken June 8), these tiny, finger-sized green bananas have ripened into a breathtaking, vibrant bright yellow. To the Kawanua (Minahasa) people of North Sulawesi, this is Pisang Tundu (or Pisang Jare).

When green, they taste incredible boiled. But when ripe? They are pure cream and honey. Tasting their sweetness reminds me so deeply of the favor, beauty, and precise timing of our loving Creator, יהוה אֵל שַׁדַּי YHWH El Shadday—the Self-Existing, Eternal God Almighty. He packages such immense joy into the smallest blessings.

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Alam bekerja dalam kedamaian yang sempurna. Pada 30 Mei lalu, tetangga saya yang baik hati, Jein dan suaminya Vence, memberikan Pisang Tundu Organik yang baru saja dipanen Jein langsung dari pekarangan kebun hutan mereka.

Lihat perubahannya... Hanya dalam waktu seminggu lebih sedikit (foto diambil 8 Juni), pisang hijau kecil seukuran jari ini telah matang menjadi warna kuning cerah yang sangat indah. Bagi masyarakat Kawanua (Minahasa) di Sulawesi Utara, ini disebut Pisang Tundu atau Pisang Jare.

Saat masih hijau, rasanya sangat lezat jika direbus. Namun saat matang? Rasanya sangat manis dan lembut seperti krim. Menikmati kelezatan ini mengingatkan saya akan kebaikan, keindahan, dan kemurahan hati dari Sang Pencipta yang penuh kasih, יהוה אֵל שַׁדַּי YHWH El Shadday—Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Berwujud Sendiri dan Kekal. Dia mengemas kebahagiaan besar dalam berkat-berkat yang paling kecil.












© Tirza Roring Whitehurst 📍North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩 | Shot on Samsung Galaxy 🌿🍌

🌿✨ A beautiful afternoon reflecting on life, family, and the amazing changes here in North Sulawesi... Tomorrow, יְהֹוָה...
06/26/2026

🌿✨ A beautiful afternoon reflecting on life, family, and the amazing changes here in North Sulawesi... Tomorrow, יְהֹוָה YHWH willing, I will be turning 55 years old, and my heart is full of gratitude.

On June 11, 2026, Wanda took her daughter, Faith, and me to Tante Dey’s small but thriving business. It is only a three-minute motorcycle ride from my grandparents' house, where I spent my early childhood before moving to the United States. 🇺🇸

Where there was once nothing, there is now a bustling spot. So many people—including my husband, family, and acquaintances—have visited over the years, but on this day, it was just the three of us. Wanda so kindly treated us to a beautiful early dinner together.

The photos I am sharing show Tante Dey’s lush, vibrant yard filled with tropical plants and flowers, alongside my plate of Tinutuan (Bubur Manado). Wanda and Faith ordered Mie Kuah, but I kept my camera focused on the tranquil beauty of nature and my own meal.

For those who don't know, Tinutuan is a traditional, culturally significant porridge for the Kawanuan and Minahasan people. It is a nourishing, fiber-rich blend of rice, sweet corn, cassava, and pumpkin, mixed with fresh local greens like kangkung (water spinach), bayam (green and purple spinach), gedi, turmeric leaf, lemongrass, and fragrant basil. It is earthy, naturally sweet, and deeply comforting. Tante Dey also specializes in Mie Kuah, a warm noodle dish served in a savory broth.

Sitting there, surrounded by nature and enjoying a local bowl of comfort, I couldn't help but feel inspired by the kindness, peace, beauty, and favor of our loving Creator. 🤲✨

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

🌿✨ Sore yang indah sambil merenungkan kehidupan, keluarga, dan perubahan luar biasa di Sulawesi Utara... Besok, kalau יְהֹוָה YHWH kehendakki, saya akan menginjak usia 55 tahun, dan hati ini dipenuhi dengan rasa syukur.

Pada tanggal 11 Juni 2026, Wanda mengajak putrinya, Faith, dan saya ke usaha kecil milik Tante Dey yang kini berkembang pesat. Tempat ini hanya berjarak tiga menit perjalanan dengan sepeda motor dari rumah kakek-nenek saya, tempat saya menghabiskan masa kecil jauh sebelum pindah ke Amerika Serikat. 🇺🇸

Restoran kecil yang dulunya tidak ada disini, kini telah menjelma menjadi tempat yang ramai. Sudah begitu banyak orang—termasuk suami, keluarga, dan kenalan saya—yang datang berkunjung selama bertahun-tahun, tetapi hari itu, hanya kami bertiga saja. Wanda dengan sangat baik hati mentraktir kami makan malam bersama yang indah.

Foto-foto yang saya bagikan ini memperlihatkan halaman rumah Tante Dey yang asri dan rimbun, penuh dengan tanaman dan bunga tropis, bersanding dengan sepiring Tinutuan (Bubur Manado) milik saya. Wanda dan Faith memesan Mie Kuah, tetapi saya memilih untuk memfokuskan kamera pada keindahan alam yang menenangkan dan hidangan saya sendiri.

Bagi yang belum tahu, Tinutuan adalah bubur tradisional yang kaya akan nilai budaya bagi masyarakat Kawanua dan Minahasa. Hidangan bergizi dan kaya serat ini merupakan perpaduan antara nasi, jagung manis, singkong, dan labu kuning, yang dicampur dengan sayuran hijau lokal yang segar seperti kangkung, bayam, daun gedi, serai, daun kuning, dan kemangi yang harum. Rasanya alami, manis alami, dan sangat menyenangkan. Tante Dey juga ahli dalam membuat Mie Kuah, hidangan mi hangat yang disajikan dalam kuah kaldu yang gurih.

Duduk di sana, dikelilingi oleh alam dan menikmati semangkuk makanan lokal yang lezat, saya tidak bisa menahan rasa kagum dan terinspirasi oleh kebaikan, kedamaian, keindahan, dan kemurahan hati dari Sang Pencipta kita yang penuh kasih. 🤲✨













© Tirza Roring Whitehurst | Minahasa Regency, North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩 |📱 Shot on Samsung Galaxy

06/24/2026

Ever wondered why being deep in nature feels like a spiritual reset?

Living in an open bamboo sabua, high on a jungle hill, does something profound to your psychology. When walls disappear, your mind follows. The free-flowing fresh air carries high-vibrational oxygen that instantly lowers cortisol and calms your nervous system.

Spiritually, you are no longer just observing nature—you are inside it. The constant, rhythmic symphony of the jungle acts as a natural sound therapy. It washes away mental clutter and aligns your energy with the Creator of All Life.

It is a simple, raw beauty that reminds us how little we actually need to be completely whole. This isn't just quiet living. It is deep, soulful healing.

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Pernah terpikir mengapa berada di pelukan alam terasa seperti pemulihan spiritual?

Tinggal di sebuah sabua bambu terbuka, tinggi di atas bukit hutan, memberikan dampak yang mendalam bagi psikologis kita. Ketika sekat-sekat dinding menghilang, pikiran kita pun ikut terbebaskan. Aliran udara segar membawa oksigen bergetaran tinggi yang seketika menurunkan kortisol dan menenangkan sistem saraf.

Secara spiritual, kamu tidak lagi sekadar memandangi alam—kamu berada di dalamnya. Simfoni hutan yang ritmis dan konstan mengalun sebagai terapi suara alami. Ia menyapu bersih kekacauan pikiran dan menyelaraskan energi kita dengan Sang Pencipta Hidup.

Sebuah keindahan yang bersahaja dan murni, mengingatkan kita betapa sedikitnya hal yang sebenarnya kita butuhkan untuk merasa utuh. Ini bukan sekadar hidup dalam ketenangan. Ini adalah penyembuhan jiwa yang mendalam.













🎬✨ Filmed by © Tirza Roring Whitehurst
📍 North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩
📱 Shot on Samsung Galaxy

06/24/2026

There is something profoundly grounding about pausing under the night sky.

On June 21, I captured this peaceful moment while waiting for dinner on our jungle property.

My sister’s family built our campfire and grilled organic free-range chicken (ayam kampung) on hand-crafted bamboo skewers, filling the air with a rich aroma.

Around us, the beauty of a Minahasan night unfolded on our traditional bamboo resting bench (dego-dego) and rustic bamboo shelter (sabua). My nieces enjoyed the moment in their own ways—Veronica stargazing in quiet awe, and Virginia catching up on her phone.
Meanwhile, my youngest sister relaxed comfortably inside. It is a beautiful reminder that while we connect differently, peace looks the same on everyone.

Listening to the crackling fire, breathing in the sweet nocturnal air, and watching the stars heals the soul.

May this snippet of our quiet night in North Sulawesi bring a sense of rest and comfort to wherever you are in the world tonight. ✨

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Ada sesuatu yang sangat menenangkan saat kita terdiam sejenak di bawah langit malam.

Pada 21 Juni lalu, saya mengabadikan momen damai ini sambil menunggu makan malam di kebun kami. Keluarga adik saya menyalakan api unggun dan membakar ayam kampung organik menggunakan tusukan bambu buatan tangan, menyebarkan aroma yang begitu menggugah selera.

Di sekeliling kami, keindahan malam khas Minahasa terasa begitu hangat di atas dego-dego (bangku santai tradisional dari bambu) dan sabua (pondok bambu sederhana) kami.

Keponakan-keponakan saya menikmati momen ini dengan cara mereka sendiri—Veronica memandangi bintang-bintang dalam keheningan yang syahdu, sementara Virginia asyik dengan ponselnya. Di sisi lain, adik bungsu saya bersantai dengan nyaman di dalam sabua bambu kami. Ini adalah sebuah pengingat indah bahwa meski cara kita terhubung berbeda-beda, kedamaian memancarkan rasa yang sama pada setiap orang.

Mendengar gemercik suara api, menghirup udara malam yang segar, dan menatap taburan bintang sungguh memulihkan jiwa.

Semoga cuplikan malam sunyi kami di Sulawesi Utara ini membawa rasa tenang dan kenyamanan di mana pun Anda berada malam ini. ✨













🎬✨ Filmed by © Tirza Roring Whitehurst
📍 North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩
📱 Shot on Samsung Galaxy

Finding peace in the simple things. 🌴 Back on the 19th and 20th, I spent my weekend cooking fresh fried tofu in our bamb...
06/23/2026

Finding peace in the simple things. 🌴

Back on the 19th and 20th, I spent my weekend cooking fresh fried tofu in our bamboo sabua, deep inside our jungle property. Everything slows down here.

I used the gas stove my family in the USA 🇺🇲 gifted me to fry it up perfectly. For the dipping sauce, I mixed Japanese soy sauce with fresh chopped organic tofu and a squeeze of fresh organic lemong cui (calamansi).

At that time, I was sitting alone on our outdoor dego-dego, looking out at our coconut trees. It was completely quiet—even my closest neighbors were away. Just me, nature, and pure tranquility. Both days were perfectly peaceful and enjoyed in solitude.

Fast forward to the present moment, and things are a bit livelier! I currently have my youngest sister’s family over here visiting. ✨

******* TERJEMAHAN DARI ATAS .......

Menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. 🌴

Kembali pada tanggal 19 dan 20 lalu, saya menghabiskan akhir pekan dengan memasak tahu goreng di dalam sabua bambu kami, jauh di dalam area hutan. Di sini, semua terasa begitu tenang.

Saya menggunakan kompor gas hadiah dari keluarga di Amerika Serikat 🇺🇲 untuk memasak. Untuk sausnya, saya mencampur kecap asin Jepang dengan potongan tahu organik segar dan perasan lemong cui (calamansi) organik.

Waktu itu, saya sedang duduk sendiri di dego-dego kami diluar memandangi pohon-pohon kelapa kami. Benar-benar sunyi—bahkan tetangga terdekat pun sedang pergi.

Hanya ada saya, alam, dan kedamaian mutlak. Kedua hari itu saya nikmati dalam kesendirian yang tenang, sama seperti hari-hari biasanya.

Sangat berbeda dengan saat ini, karena sekarang suasana jadi lebih ramai. Saat ini, keluarga adik perempuan bungsu saya sedang berkunjung ke sini. ✨












© Tirza Roring Whitehurst 📍North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩 | Shot on Samsung Galaxy 🌿

From ocean to table 🌊🎣On June 20, we reeled in 3 gorgeous, fresh red snappers, and my youngest sister transformed them i...
06/23/2026

From ocean to table 🌊🎣

On June 20, we reeled in 3 gorgeous, fresh red snappers, and my youngest sister transformed them into a masterpiece: authentic Manadonese Ikan Woku Belanga over a steaming bed of white rice 🌶️🍋

Now, I usually cannot handle too much heat, so my sister toned down the spice just for me. But make no mistake—the authentic original version is known for its legendary, fiery kick.

Even with a milder twist, if you have never tried Woku, you are missing out on one of Indonesia's greatest culinary secrets. It is an explosion of citrusy freshness, vibrant turmeric, and aromatic herbs that perfectly complements the sweet, flaky snapper. Pure comfort food with a serious punch.

Every single bite feels like a tropical escape. 🍛✨

******* TERJEMAHAN DARI ATAS *******

Dari laut langsung ke meja makan 🌊🎣

Tanggal 20 Juni kemarin, kami baru aja dapat 3 ekor kakap merah segar. Langsung dijelmakan sama adik bungsu jadi mahakarya kuliner: Ikan Woku Belanga khas Manado yang disajikan di atas nasi putih hangat 🌶️🍋

Jujur, saya sendiri nggak terlalu kuat pedas, jadi versi buatan adik saya ini tingkat kepedasannya sudah disesuaikan biar ramah di lidah saya. Tapi aslinya, Woku autentik itu terkenal dengan sensasi pedasnya yang nampol banget.

Walau dibuat versi lebih bersahabat, buat yang belum pernah coba Woku, kalian wajib tahu! Rasanya itu seperti ledakan rempah segar, wangi kemangi dan daun jeruk, kunyit, serta perpaduan rasa yang menyatu sempurna sama daging ikan kakap yang lembut dan manis. Definisi comfort food yang bikin nagih.

Tiap suapan berasa kulineran langsung di tepi pantai Manado. 🍛✨













© Tirza Roring Whitehurst 📍North Sulawesi, Indonesia 🇮🇩 | Shot on Samsung Galaxy 🌿

Address

Laguna Niguel, CA

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tirza Roring Whitehurst posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share