07/01/2025
Kami menyebutnya lantai hitam, sebuah "ruang" yang dibentuk dari warna lantai saja.
Tadinya, mau dijadikan area dengan meja dan kursi mungil untuk aktifitas menggambar, menghitung tagihan, ataupun ngopi dg akses menerus ke area belakang. Tapi kami "belum sampai" kesana. Ketika proses beerjalan, sebuah "terusan" belum dapat dikerjakan sehingga dipasang sebuah pintu ... Kemudian diletakkanlah rak besi tempat "susuh"nya mama : drybox kamera satu dua dan tiga, kotak perkap aksesoris foto, perkabelan sampai kotak kotak lego. Waktu itu, area utama belum dapat digunakan krn belum dipasang lantai.
Beginilah nampaknya sebuah proses. Awalnya ada tujuan akan kemana dan kita berjalan menuju ke sana. Kita punya bayangan tujuan, cita cita dan impian, dahulu kami pun menghitung soal faktor waktu-yang penting- membayangkan kapan semua akan selesai. Tapi alam mendukung kami pada hal lain.
Pada proses kami, waktu bukanlah hal yang pasti .. Minggu depan jadi. Oohh tidak bisa. Kami tidak punya priviledge itu. Karena keadaan, kami memilih sesuai pilihan yang kami punya : berjalan perlahan saja, sambil menikmati pemandangan kanan dan kiri. Kadang berhenti untuk turun dan menghirup udara segar. Menikmati dengan penuh kesadaran, tanpa terburu buru, mengutamakan keselamatan serta kewarasan. Kemudian melanjutkan perjalanan.
Ruang lantai hitam kami, ternyata menjadi salah satu pusat aktivitas. Kadang kami makan bersama lesehan, kadang kami gelar kasur dan tidur disana bahkan sering menerima tamu disini. Ruang ini hanya berukuran 1.5m x 3m namun ternyata ajaib berdaya guna multi talenta.
Dan kisah pun bersambung lagi ...