HANS PRODUCTION PHOTOGRAPHY

HANS PRODUCTION PHOTOGRAPHY Keberhasilan adalah milik mereka yang berani mencoba

Kubur yang Kosong di Rumah KamiKadang rumah terlihat baik-baik saja dari luar.Ada tawa, ada aktivitas, ada rutinitas.Tap...
05/04/2026

Kubur yang Kosong di Rumah Kami

Kadang rumah terlihat baik-baik saja dari luar.
Ada tawa, ada aktivitas, ada rutinitas.
Tapi di dalam… hati terasa jauh.
Percakapan digantikan layar.
Kebersamaan digantikan kesibukan.
Kasih perlahan tergeser oleh ego, lelah, dan tuntutan hidup.
Banyak keluarga hari ini hidup dalam “kekacauan yang sunyi.”
Bukan karena tidak saling mengasihi,
tapi karena lupa bagaimana cara menunjukkannya.
Seperti kisah kubur kosong dalam Yohanes 20.
Maria Magdalena datang dengan harapan…
tapi yang ia temukan justru kebingungan.
Kubur itu kosong.
Dan untuk sesaat, semuanya terasa seperti kehilangan.
Bukankah hidup kita juga sering seperti itu?
Kita berharap segalanya membaik,
tapi yang kita lihat justru masalah demi masalah.
Komunikasi yang buntu.
Hubungan yang renggang.
Hati yang lelah.
Namun kabar kebangkitan mengubah segalanya.
Kubur yang kosong bukan tanda akhir,
melainkan awal dari harapan baru.
Yesus hidup.
Dan itu berarti…
tidak ada situasi yang benar-benar tanpa jalan keluar.
Dalam Kisah Para Rasul 10, kita diingatkan bahwa Yesus bangkit bukan hanya untuk dikenang,
tapi untuk diwartakan lewat hidup kita.
Dan itu dimulai dari keluarga.
Keluarga bukan tempat yang selalu sempurna.
Justru di sanalah iman diuji, dilatih, dan dihidupi.
Lewat kesabaran saat emosi muncul.
Lewat pengampunan saat disakiti.
Lewat kehadiran saat orang lain membutuhkan.
Di Kolose 3:1-4, kita diajak untuk “mencari perkara yang di atas.”
Artinya, jangan hanya fokus pada materi, status, atau pencapaian,
tapi bangunlah kasih yang nyata.
Karena pada akhirnya,
yang membuat keluarga tetap bertahan bukanlah uang atau keberhasilan,
melainkan cinta yang terus diperjuangkan.
Mungkin hari ini keluargamu belum baik-baik saja.
Masih ada luka.
Masih ada jarak.
Masih ada kata-kata yang belum sempat diucapkan.
Tapi kebangkitan memberi harapan:
selalu ada kesempatan untuk mulai lagi.
Mulai dari hal sederhana.
Duduk bersama tanpa distraksi.
Mendengarkan tanpa menghakimi.
Meminta maaf tanpa menunggu disuruh.
Karena perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil yang tulus.
Jangan tunggu semuanya sempurna untuk mulai mengasihi.
Jangan tunggu orang lain berubah duluan.
Mulailah dari dirimu.
Mungkin hari ini terasa seperti “kubur kosong”
tidak ada solusi, tidak ada arah.
Tapi ingatlah:
Tuhan sering bekerja justru di tengah kekosongan itu.
“Ia melihatnya dan percaya.” (Yoh 20:8)
Percaya bukan karena semua sudah jelas,
tapi karena kita yakin Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Dan dari iman itu,
harapan mulai tumbuh kembali.
Pelan-pelan,
rumah yang tadinya terasa dingin…
bisa kembali hangat.
Keluarga yang tadinya renggang…
bisa kembali dekat.
Bukan karena semuanya sempurna,
tapi karena kasih mulai dihidupi lagi.

Diambil dari renungan harian Katholik 5 April 2026

Yoh 20:1-9
Kis 10:34a.37-43
Kol 3:1-4

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Dari Layar ke SalibPernah nggak sih… kamu ngerasa hidup kamu penuh, tapi kosong?Scroll terus.Like terus.Main game, chat,...
04/04/2026

Dari Layar ke Salib

Pernah nggak sih… kamu ngerasa hidup kamu penuh, tapi kosong?
Scroll terus.
Like terus.
Main game, chat, hiburan… semua ada di genggaman.
Tapi hati tetap sepi.
Aku pernah ada di titik itu.
Sampai suatu hari aku dengar kisah perempuan-perempuan yang datang ke kubur Yesus. Mereka takut… tapi juga penuh s**acita. Mereka nggak diam. Mereka berlari.
Dan Yesus berkata:
“Jangan takut.”
Kalimat itu seperti kena langsung ke hati.
Aku sadar… selama ini aku terlalu sibuk dengan dunia, sampai lupa Tuhan. Bukan Tuhan yang jauh… tapi aku yang menjauh.
Pelan-pelan aku mulai berubah.
Kurangi waktu di HP.
Mulai doa lagi.
Ikut pelayanan.
Baca buku rohani.
Nggak mudah. Sering jatuh lagi.
Tapi aku belajar satu hal:
Hidup baru itu dimulai dari langkah kecil yang setia.
Sekarang aku tahu…
Kebahagiaan bukan dari apa yang ada di layar,
tapi dari siapa yang ada di hatimu.
Dan saat itu Tuhan hadir…
hati yang kosong mulai dipenuhi.
“Jangan takut… datanglah kepada-Ku.”

Diambil dari renungan harian Katholik 4 April 2026

Mat 28:1-10
Kej 1:1-2:2

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330





Lebih mudah memberi nasihat… daripada melakukannya.Kita sering bilang:“Harus sabar ya.”“Harus jujur dong.”“Percaya aja s...
03/04/2026

Lebih mudah memberi nasihat… daripada melakukannya.

Kita sering bilang:
“Harus sabar ya.”
“Harus jujur dong.”
“Percaya aja sama Tuhan.”
Tapi…
apakah kita sendiri hidup seperti itu?
Ada orang yang pandai bicara tentang kebaikan,
tapi diam saat melihat ketidakadilan.
Ada yang mengajar tentang kasih,
tapi tidak pernah hadir saat orang lain butuh.
Ada yang memberi beban kepada orang lain,
tapi tidak mau ikut memikulnya.
Firman Tuhan berkata:
“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Matius 23:11)
Artinya sederhana:
Jangan hanya jadi orang yang tahu,
jadilah orang yang melakukan.
Karena dunia ini tidak butuh lebih banyak teori.
Dunia butuh lebih banyak orang yang benar-benar hidup dalam kebenaran.
Hari ini, coba tanya diri sendiri:
Apakah hidupku sudah sesuai dengan kata-kataku?
Mulai dari hal kecil.
Lakukan yang benar, walau tidak ada yang melihat.
Karena satu tindakan nyata…
lebih kuat dari seribu nasihat.

Diambil dari renungan harian Katholik 3 April 2026

Mat 23 :1-12
Yes 1 :10.16-20

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Di Antara Komentar dan Belas KasihDi era media sosial, kita sering merasa paling tahu segalanya. Melihat satu video, sat...
02/04/2026

Di Antara Komentar dan Belas Kasih

Di era media sosial, kita sering merasa paling tahu segalanya. Melihat satu video, satu potongan cerita, lalu langsung menghakimi. Padahal, di balik setiap kesalahan, selalu ada cerita yang tidak kita lihat.
“Yesus mengajarkan: Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi… Ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:37)”
Belas kasih bukan tanda kelemahan. Itu identitas kita sebagai orang beriman.
Hari ini, mungkin kita tidak punya banyak untuk dibagikan. Tapi kita masih bisa memberi: waktu, perhatian, doa, dan pengertian. Kadang, itu jauh lebih berarti daripada materi.
Dalam keluarga, dalam komunitas, bahkan di dunia digital… pengampunan bisa menghentikan luka yang panjang.
Jadi sebelum menulis komentar, sebelum membagikan sesuatu… berhentilah sejenak.
Tanya pada hati: ini menghakimi, atau mengasihi?
Karena dunia tidak butuh lebih banyak hakim.
Dunia butuh lebih banyak hati yang berbelas kasih.

Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah saya pernah menghakimi seseorang hanya dari apa yang saya lihat di media sosial, tanpa mengetahui cerita lengkapnya?
2. Bagaimana perasaan saya ketika saya sendiri dihakimi atau disalahpahami orang lain?
3. Apakah saya sudah menunjukkan belas kasih dalam kata-kata dan komentar saya sehari-hari?
4. Siapa orang yang saat ini sulit saya ampuni? Apa yang menahan saya untuk mengampuni?
5. Dalam kondisi saya sekarang, apa bentuk “memberi” yang masih bisa saya lakukan untuk orang lain?
6. Apakah kehadiran saya di keluarga dan komunitas membawa damai, atau justru menambah konflik?
7. Apakah saya benar-benar hidup sebagai pribadi Kristiani yang mencerminkan kasih Tuhan, terutama di tengah perbedaan?
8. Hari ini, tindakan kecil apa yang bisa saya lakukan untuk lebih mengasihi daripada menghakimi?

Diambil dari renungan harian Katholik 2 April 2026

Luk 6:36-38
Dan 9 :4b -10

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Tiga Puluh Keping dan Hati yang KosongDaniel pernah mencintai Tuhan. Ia juga mencintai Maria.Sederhana, tulus, cukup.Sam...
01/04/2026

Tiga Puluh Keping dan Hati yang Kosong

Daniel pernah mencintai Tuhan. Ia juga mencintai Maria.
Sederhana, tulus, cukup.
Sampai dunia menawarkan lebih.
Jabatan. Uang. Kenyamanan. Relasi.
Semua terlihat indah… tapi ada harga yang harus dibayar.
“Kalau mau naik, kamu harus tahu cara bermain,” kata atasannya.
Dan pelan-pelan, Daniel mulai meninggalkan Tuhan.
Misa jadi jarang. Doa hilang.
Hatinya mulai penuh dunia… tapi kosong akan makna.
Sampai akhirnya, ia juga meninggalkan Maria.
“Aku capek hidup sederhana,” katanya.
“Aku mau masa depan.”
Maria menatapnya dengan mata yang basah.
“Seperti Yudas… kamu menjual yang paling berharga.”
Daniel mendapatkan semuanya.
Rumah. Jabatan. Kehormatan.
Tapi setiap malam… ia tidak bisa tidur.
Ada yang hilang.
Damai.
Ia membuka firman Tuhan, dan membaca:
“Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid… supaya aku dapat memberi semangat kepada yang letih lesu.” (Yes 50:4)
Tangannya gemetar.
Ia sadar… ia bukan kehilangan dunia.
Ia kehilangan Tuhan.
Yesus sudah mengingatkan:
“Celakalah orang yang oleh dia Anak Manusia diserahkan.” (Mat 26:24)
Hari ini, mungkin kita tidak menjual Yesus dengan tiga puluh keping perak.
Tapi kita sering menukar Dia dengan hal-hal dunia.
Kesenangan.
Harta.
Status.
Dan pada akhirnya… hati jadi kering. Kosong. Hampa.
Kalau kamu merasa jauh hari ini, masih ada jalan pulang.
Tuhan tidak pernah menutup pintu.
Jangan tunggu kehilangan segalanya… baru kembali.
Pulanglah.

Diambil dari renungan harian Katholik 1 April 2026

Mat 26 : 14-25
Yes 50 :4-9A

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Nama di Tembok, Hati di Hadapan TuhanAku berdiri lama di depan dinding gereja yang belum selesai.Di sana tertulis nama-n...
30/03/2026

Nama di Tembok, Hati di Hadapan Tuhan

Aku berdiri lama di depan dinding gereja yang belum selesai.
Di sana tertulis nama-nama penyumbang. Besar. Jelas. Terlihat.
Di belakangku ada suara,
“Yang bisa nyumbang cuma orang kaya…”
“Ngapain bangga, namanya dipajang begitu?”
Aku cuma diam.
Dalam hati aku berbisik,
“Sudahlah… uangnya saja mana…”
Hari itu aku dengar kisah Maria.
Ia mengurapi Yesus dengan minyak narwastu yang mahal.
Yudas bilang itu pemborosan. Tidak perlu.
Tapi Yesus melihat sesuatu yang berbeda.
Bukan harganya.
Bukan kemewahannya.
Tapi cintanya.
“Orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” (Yoh 12:8)
Maria tidak sedang pamer.
Maria sedang mencintai.
Dan aku sadar…
Selama ini aku terlalu sibuk melihat siapa memberi berapa,
sampai lupa bertanya,
itu dari hati atau tidak?
Beberapa hari kemudian aku datang lagi ke gereja.
Aku memberi. Tidak banyak.
Petugas bertanya,
“Mau ditulis namanya?”
Aku tersenyum,
“Tidak perlu… cukup Tuhan saja yang tahu.”
Hari itu aku mengerti,
Tuhan tidak membaca tembok.
Tuhan membaca hati.
Kalau hari ini kamu merasa tidak punya banyak untuk diberikan…
ingat ini:
Tuhan tidak menunggu kamu jadi kaya untuk mulai memberi.
Tuhan hanya menunggu hatimu terbuka.

Diambil dari renungan harian Katholik 30 Maret 2026

Yoh 12:1-11
Yes 42:1-7

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

HOSANA… ATAU SALIBKAN DIA? 🌿✝️“Hosana bagi Anak Daud!”(Tolong aku ya Tuhan…)Kita berseru dengan penuh semangat.Mengangka...
29/03/2026

HOSANA… ATAU SALIBKAN DIA? 🌿✝️

“Hosana bagi Anak Daud!”
(Tolong aku ya Tuhan…)
Kita berseru dengan penuh semangat.
Mengangkat daun palma.
Memuji Yesus yang datang dengan damai,
rendah hati, menunggang keledai.
Namun…
Hanya beberapa hari kemudian…
teriakan itu berubah:
“Salibkan Dia!”
Bukan karena Yesus berubah…
tapi karena hati manusia yang berubah.

Hari ini…
kita mungkin tidak berteriak “Salibkan Dia” dengan suara.
Tapi…
kita melakukannya lewat hidup kita.
Saat kita memilih dosa demi jabatan.
Saat kita menukar iman dengan uang.
Saat kita lebih takut kehilangan cinta manusia
daripada kehilangan Tuhan.
Bukankah itu…
seperti Yudas?

Hal kecil saja…
Beranikah kita membuat tanda salib saat makan di tempat umum?
Atau kita diam…
karena malu?
Yesus tidak malu mati untuk kita.
Tapi kita… sering malu mengakui-Nya.

“Hosana” berarti:
“Tolong aku ya Tuhan.”
Tapi pertanyaannya…
Apakah kita sungguh meminta pertolongan Tuhan…
atau hanya ingin Tuhan mengikuti keinginan kita?

Hari ini… pilihlah.
Tetap setia…
atau perlahan menjual-Nya.
Karena menjadi murid Kristus bukan soal kata…
tapi soal keberanian hidup.

📖 “Bangunlah, mari kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.” (Mat 26:46)

🙏 DOA SINGKAT
Tuhan Yesus,
ampuni aku yang sering menyangkal-Mu dalam hidupku.
Berikan aku keberanian untuk setia,
bahkan dalam hal-hal kecil.
Agar aku tidak hanya berseru “Hosana”…
tetapi juga setia memikul salib bersama-Mu.
Amin.


Jangan malu menjadi milik Tuhan.
Karena Dia tidak pernah malu menyelamatkanmu.

Diambil dari renungan harian Katholik 29 Maret 2026

Mat 26 : 14-27:66
Flp 2:6-11
Yes 50 :4-7

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Saat Hati Menjadi SatuPernah nggak sih, kamu sudah yakin sesuatu akan berakhir buruk… tapi ternyata justru sebaliknya?Be...
28/03/2026

Saat Hati Menjadi Satu

Pernah nggak sih, kamu sudah yakin sesuatu akan berakhir buruk… tapi ternyata justru sebaliknya?
Beberapa waktu lalu, setelah rapat, suasana jadi nggak enak.
Ada yang kesal, ada yang kecewa.
“Aku yakin ini bakal ditolak.”
“Mereka dari awal juga nggak s**a sama kita.”
Aku cuma bisa bilang pelan,
“Jangan-jangan… kita yang sudah terlanjur berpikir negatif.”
Waktu berjalan.
Jawaban akhirnya datang.
Dan ternyata… semua yang kami ajukan diterima.
Hening.
Bukan karena kalah debat, tapi karena sadar…
selama ini hati kami sudah lebih dulu menilai.
Kadang masalahnya bukan di orang lain.
Tapi di cara kita melihat.
Dalam Yohanes 11:45-46, setelah Yesus melakukan mukjizat besar, ada yang percaya… tapi ada juga yang justru melaporkan-Nya.
Peristiwanya sama.
Tapi hatinya beda.
Kalau hati kita dipenuhi rasa tidak s**a,
kebaikan pun bisa terlihat salah.
Hari ini aku belajar:
jangan biarkan kebencian kecil menghapus kebaikan yang besar.
Belajar melihat dengan hati yang bersih.
Karena dari situlah kita bisa melihat kebenaran.

Diambil dari renungan harian Katholik 28 Maret 2026

Yoh 11: 45-56
Yeh 37 : 21-28

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

DI TANGAN-MU, TUHAN 🙏💙Pernah merasa dikhianati oleh orang terdekat? Pernah difitnah? Pernah hampir menyerah karena dunia...
27/03/2026

DI TANGAN-MU, TUHAN 🙏💙

Pernah merasa dikhianati oleh orang terdekat? Pernah difitnah? Pernah hampir menyerah karena dunia terlalu culas?

Andreas mengalaminya.

Aktivis Katolik yang tulus melayani, tiba-tiba dituduh korupsi oleh sahabatnya sendiri. Robert, orang yang ia angkat dari kemiskinan, justru menghancurkannya demi ambisi.

"Tuhan, mengapa ini terjadi pada hamba-Mu?"

Malam-malam panjang tanpa tidur. Air mata yang tak berhenti. Ancaman pembunuhan yang datang bertubi-tubi.

Tapi di tengah kegelapan itu, seorang ibu tua datang mengetuk pintu jam 2 pagi.

"Anakku, jangan biarkan kejahatan dunia ini mencuri imanimu. Yesus juga dikhianati. Tapi kubur kosong itu membuktikan siapa yang menang."

Dan Tuhan membuktikan janji-Nya.

Bukti kejahatan Robert terungkap. Nama Andreas dibersihkan. Tapi yang lebih indah? Andreas mengunjungi Robert di penjara dan berkata:

"Aku datang untuk mengampuni."

Robert pecah. Dua sahabat dipulihkan. Bukan karena kehebatan manusia, tapi karena kasih Tuhan yang lebih besar dari segala dosa.

✨ AYAT EMAS:
"Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku." — Yohanes 10:28

🕊️ REFLEKSI:
Dunia mungkin menghalalkan segala cara. Tapi kamu dipanggil untuk sesuatu yang lebih tinggi: KASIH yang tidak pernah gagal.

Tuhan tidak pernah terlambat. Dia tidak pernah tidur. Dia tidak pernah meninggalkanmu.

Teruslah berjalan. Teruslah percaya. Teruslah mengasihi.

Karena di tangan-Nya, kamu AMAN. Selamanya. 🙏

DOA SINGKAT:
Ya Tuhan, ketika dunia culas dan teman mengkhianati, ingatkanlah kami bahwa Engkau menyertai seperti pahlawan yang gagah. Berilah kami kekuatan untuk mengampuni. Amin. 🙏

PERTANYAAN UNTUKMU:
1️⃣ Pernahkah kamu merasa dikhianati? Bagaimana kamu merespons?
2️⃣ Ada yang perlu kamu ampuni hari ini?

Share di kolom komentar ya 👇💙

"Demikianlah firman Tuhan. Terpujilah Kristus." 🕊️💙

Diambil dari renungan harian Katholik 27 Maret 2026

Yoh 10 : 31-42
Yer 20 : 10-13

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Sebelum Aku MenghakimiKadang kita terlalu cepat menilai.Melihat sedikit, lalu merasa sudah tahu segalanya.Seperti orang-...
26/03/2026

Sebelum Aku Menghakimi

Kadang kita terlalu cepat menilai.
Melihat sedikit, lalu merasa sudah tahu segalanya.
Seperti orang-orang yang meragukan Yesus dalam Injil Yohanes, kita juga sering menuduh tanpa benar-benar mencari kebenaran. Bukan karena kita jahat, tapi karena kita sombong tanpa sadar.
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” (Yohanes 8:51)
Maria pernah merasa paling benar. Ia menuduh orang lain tanpa bukti. Tapi saat kebenaran terungkap, yang ia temukan bukan hanya kesalahan… tapi juga hatinya sendiri yang penuh prasangka.
Kadang kita tidak butuh bukti untuk menuduh.
Tapi kita butuh kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa salah.
Belajar dari Abraham dalam Kejadian 17:3–9, ia tidak membantah Tuhan, ia sujud dan percaya.
Hari ini, mari belajar:
jangan cepat menyimpulkan,
jangan mudah menyalahkan,
dan beranilah menerima kebenaran, bahkan saat itu tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan.
Karena orang yang rendah hati mungkin tidak selalu benar,
tapi mereka selalu dekat dengan kebenaran.

Diambil dari renungan harian Katholik 26 Maret 2026

Yoh 8:51-59
Kej 17 :3-9

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

“Indah Pada Waktu-Nya”18 tahun menikah.Sudah ke banyak dokter. Dalam dan luar negeri.Sudah mencoba segala cara. Bahkan h...
25/03/2026

“Indah Pada Waktu-Nya”

18 tahun menikah.
Sudah ke banyak dokter. Dalam dan luar negeri.
Sudah mencoba segala cara. Bahkan hampir menyerah.
Setiap kali melihat orang lain punya anak, mereka hanya bisa tersenyum… sambil menyimpan luka.
Sampai suatu malam, mereka datang ke ruang adorasi.
Bukan lagi untuk meminta dengan penuh tuntutan,
tapi untuk menyerahkan.
“Ya Yesus… jika memang Engkau berkenan…
terjadilah pada kami menurut kehendak-Mu.”
Hening.
Tidak ada jawaban instan.
Tidak ada keajaiban langsung.
Tapi sejak malam itu… hati mereka berubah.
Mereka mulai percaya:
bahwa rencana Tuhan bukan tentang cepat atau lambat,
tapi tentang waktu yang paling tepat.
Bulan demi bulan berlalu.
Sampai suatu hari…
dua garis itu muncul.
Tangis yang dulu penuh luka,
berubah jadi tangis syukur.
Tuhan tidak pernah terlambat.
Dia hanya menunggu waktu terbaik untuk menjawab.
“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan;
jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (Lukas 1:38)
Kalau hari ini kamu sedang menunggu,
jangan berhenti percaya.
Karena Tuhan sedang menulis cerita yang lebih indah
dari yang bisa kamu bayangkan.

Diambil dari renungan harian Katholik 25 Maret 2026

Luk 1: 26-38
Yes 7 : 10-14;8:10
Ibr 10:4-10

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Ia Menyertai Aku 🤍Sore itu rumah terasa sangat sunyi.Daniel, 10 tahun, duduk sendirian.Orang tuanya bekerja.Sebelum perg...
24/03/2026

Ia Menyertai Aku 🤍

Sore itu rumah terasa sangat sunyi.
Daniel, 10 tahun, duduk sendirian.
Orang tuanya bekerja.
Sebelum pergi, ibunya berpesan:
“Jangan buka pintu untuk siapa pun, ya.”
Daniel mengangguk.
“Aku janji, Ma.”
Beberapa jam kemudian…
Tok… tok… tok…
“Daniel… buka pintu, Nak. Tante bawa makanan.”
Daniel berdiri.
Tangannya hampir membuka pintu.
Tapi ia teringat pesan ibunya.
“Aku… nggak boleh buka…”
“Kenapa? Tante cuma mau kasih makanan.”
Daniel mulai menangis.
“Aku kangen Mama…”
Sunyi.
Hatinya berperang.
Takut. Sepi. Rindu.
Tapi akhirnya ia berkata dengan suara gemetar:
“Aku nggak boleh buka! Mama bilang nggak boleh!”
Langkah di luar pun pergi.
Daniel terduduk. Menangis.
“Tuhan… aku sendirian…”
Lalu ia ingat firman Tuhan:
“Dan Ia yang telah mengutus Aku, menyertai Aku.
Ia tidak membiarkan Aku sendiri,
sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (Yoh 8:29)
Daniel terdiam.
“Berarti… aku nggak sendirian ya?”
Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini berbeda.
“Tuhan ada…”
Malamnya, orang tuanya pulang.
“Ma… tadi ada orang… tapi aku nggak buka…”
Ibunya memeluknya erat.
“Kamu takut ya?”
“Iya… tapi aku ingat Mama… dan aku ingat Tuhan…”
Kadang kita seperti Daniel.
Merasa sendiri. Takut. Ingin menyerah.
Tapi justru di situ…
Tuhan sedang melihat hati kita.
Tetap lakukan yang benar,
meskipun tidak ada yang melihat.
Karena sebenarnya…
Kamu tidak pernah sendirian. 🤍

Refleksi singkat:
Apa yang kamu lakukan saat tidak ada yang melihatmu?

Diambil dari renungan harian Katholik 24 Maret 2026

Yoh 8:21-30
Bil 21:4-9

Disampaikan oleh
Komunitas keluarga Nasaret
081218997330

Address

Gading Serpong Tangerang
Serpong Tangerang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when HANS PRODUCTION PHOTOGRAPHY posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to HANS PRODUCTION PHOTOGRAPHY:

Share