Kuansing.Footage

Call Website Contact the business

Kuansing.Footage •INFORMASI-BERITA-TRADISI-BUDAYA-WISATA

•JANGAN LUPA 🌟 NYA SANAK

Intelijenjendral.co. -- Aktivitas sejumlah kafe remang-remang di Kabupaten Kuantan Singingi kembali menjadi sorotan. Sej...
09/10/2026

Intelijenjendral.co. -- Aktivitas sejumlah kafe remang-remang di Kabupaten Kuantan Singingi kembali menjadi sorotan. Sejumlah lokasi yang sebelumnya pernah menjadi sasaran razia, penertiban hingga penyegelan, disebut kembali beraktivitas.

Berdasarkan pantauan tim wartawan di lapangan, hingga rabu malam 7 Oktober 2026, terpantau beberapa kafe remang-remang yang berada di sekitar Kompleks Pemda Kuantan Singingi. Salah satunya disebut pernah dilakukan penyegelan oleh Satpol PP, namun kini kembali terlihat beraktivitas.

Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena lokasi yang sebelumnya telah ditertibkan justru disebut kembali menjalankan aktivitasnya.

Hal ini mendapat sorotan dari Anggota DPRD Kabupaten Kuantan Singingi dari Komisi I sekaligus Ketua Bapemperda, Desi Guswita, S.E., M.M.

Desi mendesak Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi tidak hanya melakukan razia atau penyegelan, tetapi memastikan adanya tindak lanjut dan pengawasan secara berkelanjutan.

“Kalau yang di sekitar Kompleks Pemda, informasi yang saya terima dari narasumber, tempat itu pernah disegel dan sekarang kembali beraktivitas. Sedangkan yang di Simpang Sambung, pada malam ini kamis 8 Oktober 2026, saya sendiri melihat langsung ketika melewati jalan tersebut,” ujar Desi.
Menurut Desi, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penertiban yang selama ini dilakukan pemerintah daerah.

“Sudah dirazia, tetapi kembali buka. Pertanyaannya, apa tindak lanjut setelah razia? Jangan sampai penertiban hanya dilakukan sesaat, setelah itu aktivitas kembali seperti biasa,” tegasnya.
DESI: PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA
Desi meminta Pemkab Kuansing tidak menutup mata terhadap kondisi yang terjadi di lapangan.

Menurutnya, apabila sebuah tempat telah terbukti melanggar aturan dan sudah pernah ditertibkan, maka harus ada langkah lanjutan serta pengawasan agar pelanggaran tidak kembali terjadi.

“Jangan biarkan aturan kehilangan wibawa. Kalau sebuah tempat sudah pernah dirazia atau ditertibkan, kemudian kembali beroperasi, pemerintah harus menjelaskan apa yang dilakukan setelah itu,” katanya.
Desi juga meminta Satpol PP memberikan penjelasan secara terbuka mengenai hasil razia dan penertiban yang telah dilakukan, termasuk tindak lanjut terhadap lokasi yang kembali beraktivitas.

“Kalau sudah dirazia, apa hasilnya? Kalau sudah ditertibkan, bagaimana pengawasannya? Kalau ada yang kembali beroperasi, apa tindakan berikutnya? Semua ini harus jelas,” tegasnya.
PENERTIBAN JANGAN HANYA SEREMONIAL
Desi menegaskan penertiban harus dilakukan secara konsisten dan tidak boleh tebang pilih.

Ia meminta setiap tempat usaha yang terbukti melanggar ketentuan ditindak sesuai aturan yang berlaku.

“Saya tidak meminta hanya satu kafe yang ditindak. Kalau memang melanggar aturan, tindak sesuai ketentuan. Jangan ada yang ditertibkan sementara yang lain dibiarkan,” ujarnya.
Menurutnya, apabila razia hanya dilakukan tanpa pengawasan dan tindak lanjut, maka penertiban berpotensi kehilangan efektivitasnya.

SOROT DAMPAK SOSIAL DAN KESEHATAN
Desi juga menyoroti potensi dampak sosial dan kesehatan apabila aktivitas di lokasi-lokasi tersebut tidak terkontrol.

Ia meminta pemerintah melakukan penanganan secara terpadu dengan melibatkan instansi terkait, termasuk dari sisi pencegahan dan edukasi kesehatan.

“Ini bukan hanya persoalan tempat usaha. Ini menyangkut penyakit masyarakat dan dampak sosial. Kita juga harus memperhatikan risiko penularan HIV dan penyakit menular seksual apabila memang terdapat aktivitas seksual berisiko,” ujarnya.
DUGAAN KETERLIBATAN OKNUM DIMINTA DIKLARIFIKASI
Desi turut meminta pemerintah menindaklanjuti informasi yang sebelumnya muncul dalam pemberitaan terkait dugaan keterlibatan oknum maupun pemberitaan yang sempat mengaitkan nama Camat Singingi, Saparman, dengan persoalan kafe yang menjadi sorotan.

Desi menegaskan, dirinya tidak menyatakan bahwa Camat tersebut terbukti terlibat.

“Saya tidak mengatakan Camat terlibat. Saya juga tidak mengatakan ada perlindungan terhadap tempat itu. Tetapi sebelumnya sudah ada pemberitaan yang mengaitkan nama Camat Singingi dengan persoalan ini. Maka menurut saya, informasi tersebut harus ditindaklanjuti,” jelasnya.
Menurut Desi, apabila informasi tersebut tidak benar, pihak terkait sebaiknya memberikan klarifikasi agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi spekulasi.

“Kalau memang tidak benar, sampaikan kepada publik bahwa tidak benar. Kalau ada konteks atau fakta lain, jelaskan secara terbuka. Jangan sampai masyarakat dibiarkan membuat kesimp**annya sendiri,” sambungnya.
Ia juga meminta setiap dugaan keterlibatan oknum diperiksa secara objektif.

“Kalau ada dugaan keterlibatan oknum, jangan langsung dituduh, tetapi jangan p**a dibiarkan. Periksa secara objektif. Kalau tidak terbukti, sampaikan hasilnya. Kalau terbukti ada pelanggaran, tindak sesuai aturan,” tegas Desi.
JANGAN SAMPAI PERATURAN TINGGAL PERATURAN
Desi menilai persoalan utama yang harus dijawab pemerintah adalah mengapa lokasi yang sebelumnya telah ditertibkan atau disegel dapat kembali beraktivitas.

“Kita ingin tahu penertibannya bagaimana, pengawasannya bagaimana, dan tindak lanjutnya bagaimana. Kalau memang melanggar, tegakkan aturan. Kalau informasi tentang keterlibatan pejabat atau oknum itu tidak benar, klarifikasi. Semuanya harus terang,” katanya.
Ia kembali mendesak Pemkab Kuansing mengambil langkah nyata dan memastikan penertiban tidak berhenti sebatas tindakan sesaat.

“Saya sudah berulang kali menyuarakan persoalan ini. Sekarang saya meminta pemerintah jangan tutup mata. Masyarakat membutuhkan kepastian. Jangan sampai ada kesan terjadi pembiaran,” ujarnya.
Desi menegaskan, dirinya tidak meminta pemerintah bertindak di luar hukum, melainkan menjalankan aturan yang sudah ada.

Saya meminta pemerintah menjalankan aturan yang sudah ada. Jangan sampai kita punya Perda, punya aparat penegak Perda, tetapi penegakannya tidak konsisten. Jangan biarkan aturan kehilangan wibawa. Sudah dirazia, jangan kemudian dibiarkan kembali beroperasi begitu saja,” pungkas Desi kepada wartawan, (8/10/2026).

Selengkapnya di kolom komentar

(RIAUPOS.CO) - Terungkap dalam persidangan perkara korupsi mantan Sekda Kuansing Zulkarnain, bahwa Mantan Kabag Umum Set...
08/10/2026

(RIAUPOS.CO) - Terungkap dalam persidangan perkara korupsi mantan Sekda Kuansing Zulkarnain, bahwa Mantan Kabag Umum Setda Kabupaten Kuansing Marel Hendra memiliki dua rekening bertransaksi gendut. Pertama rekening Bank Riau Kepri Syariah (BRKS) untuk penggajiannya dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Transaksi dari dua rekening itu totalnya mencapai Rp2,9 miliar. Rinciannya lebih dari Rp750 juta di rekening BRKS dan sekitar Rp2,2 miliar di rekening BRI. Jumlah ini terungkap ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami rekening BRI atas nama Marel Hendri saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Kamis (8/10/2026).

Diketahui begitu penjabat Kabag Umum pada 2024, saksi Farel langsung membuka rekening baru, BRI. Tercatat dalam transaksi bahwa rekening itu menerima kiriman Rp280 juta pada November 2024, lalu pada Desember Rp140 juta, 22 januari 2025 Rp150 juta, 17 maret 2025 Rp140 pinjam, 6 juni 2025 Rp100 juta dan sejumlah transaksi dengan nominal lebih kecil lannya dengan total mencapai Rp2,2 miliar.

Farel menerangkan, rekening itu ia buat untuk operasional dirinya sebagai Kabag Umum. Uang-uang itu ada yang bersumber dari GU hingga uang pinjaman. Pinjaman itu dimaksudkan untuk kebutuhan dinas menjelang anggaran cari.

''Transfer tanggal 13 Desember 2024 sebesar Rp147 juta, anda menerangkan disini pinjaman atas nama saya sendiri. Benar?,'' tanya JPU KPK berdasarkan BAP Farel.

Farel mengaku uang Rp147 juta itu berasal dari pinjaman pegadaian. Ketika ditanya JPU apakah ia bisa mempertanggungjawabkan keterangannya itu, Farel tetap yakin.

Ini anda mengatakan dari Pegadaian, untuk kegiatan apa ini?,'' tanya Jaksa.

Farel menyebutkan, sebagian uang yang ia pinjam itu digunakan untuk kegiatan-kegiatan dinas. Uang itu akan diganti bila SPJ sudah dirapikan.

Ketika ditanya soal nominal lainnya, Farel juga ada menjawab berasal dari pinjaman dari sang kakak. Termasuk yang Rp145 juta pada Januari 2025 yang juga disebut feral sebagai pinjaman

ni sudah diganti belum yang dua yang saya bacakan tadi, Rp147 juta sama Rp145 juta ini?'' tanya JPU yang kemudian dijawab saksi sudah.

Sementara itu, soal transaksi besar di BRKS, ini bermula ketika JPU mendalami keterangan Marel dalam BAP-nya ke Penyidik KPK. JPU membacakan isi BAP tersebut dihadapan majelis hakim yang dipimpin Delta Tamtama.

''Bahwa dapat saya jelaskan rekap sumbangan dari Kepala OPD se-Pemkab Kuansing untuk Bupati Suhardiman Amby dan kebutuhan operasionalnya yang dikirimkan ke rekening saya di Bank Riau Kepri Teluk Kuantan atas nama Marel Hendra ST totalnya Rp757,2 juta. Benar itu,'' tanya membacakan BAP saksi Marel.

Marel tidak langsung menjawab. Justru ia minta izin kepada majelis hakim untuk minum. Ia mengaku kehausan. Usai minum, Marel membantah soal uang sumbangan dari OPD.

''Cuma rekening Bank Riau sekitar Rp700-an juta. Itu bukanlah sumbangan dari kepala-kepala OPD,'' ujar Marel.

Lantas JPU menanyakan, lantas uang apa yang sampai sebanyak itu nominal. Marel menyebutkan, transaksi itu merupakan uang gaji, tunjangan hingga dari usahanya sendiri.

Selengkapnya di kolom komentar

Detiknews.com - KPK memanggil sejumlah saksi terkait kasus suap yang menjerat Bupati Kuansing nonaktif Suhardiman Amby (...
08/10/2026

Detiknews.com - KPK memanggil sejumlah saksi terkait kasus suap yang menjerat Bupati Kuansing nonaktif Suhardiman Amby (SA). KPK memanggil lagi Ketua DPRD Kuansing, Juprizal (JUP), sebagai saksi.
Adapun pemeriksaan dijadwalkan di Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Riau. Total ada 10 saksi yang dipanggil hari ini.

"Hari ini Kamis (8/10), KPK menjadwalkan pemeriksaan saksi-saksi dalam dugaan TPK berupa suap jabatan di Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Pemkab Kuansing)," kata Jubir KPK Budi Prasetyo kepada wartawan, Kamis (8/10/2026).

JUP-Ketua KUD Prima Sehati," tambahnya.

Ini keempat kalinya Ketua DPRD Kuansing dipanggil KPK. Dia sebelumnya telah dipanggil pada 8 dan 28 Juli serta 14 Agustus 2026.

KPK juga memanggil mantan Sekda Kuansing Dedy Sambudi hingga sejumlah ASN lainnya. Turut dipanggil juga dua staf khusus (stafsus) Suhardiman.

Berikut daftar saksi yang dipanggil selain Juprizal:

1. Fahdiansyah - Asisten I Pemkab. Kuansing/Pj. Sekda Pemkab Kuansing (2024-2025)
2. Dedy Sambudi - ASN/Sekretaris Daerah Kuantan Singingi (4 Januari 2022 sampai 20 Maret 2024)
3. Deswan Antoni - ASN (Kepala Bagian Umum Kabupaten Kuantan Singingi)
4. Harry Panche - Kabid Penagihan, Keberatan, dan Pemeriksaan BAPENDA Kab Kuantan Singingi (2025 sampai Sekarang)
5. Mardansyah - Kepala Dinas DP2KBP3A (Dinas pengendalian pendudukan, Keluarga Berencana, Perlindungan Anak)
6. Masrul Hakim - ASN/Kepala Bapenda Kabupaten Kuantan Singingi (Agustus 2025 dan Mantan Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Kuantan Singingi (Desember 2022 sampai Maret 2024)
7. Army Chaniago - Stafsus Bupati Kuansing (Januari 2024-2025)
8. Andi Cahyadi - Stafsus Bupati Kuansing (2024-2025)
9. Azhar - ASN/Asisten III/Asisten Administrasi Umum, Setda Kabupaten Kuantan Singingi

Dalam perkara ini, KPK telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Berikut ini daftarnya:

1. Suhardiman Amby selaku Bupati Kuansing
2. Zulkarnain selaku Sekda Kuansing
3. Ardiles selaku Dirut PT MIC.

Suhardiman diduga menerima suap mobil Toyota Land Cruiser dari Zulkarnain. Suap itu diduga diberikan agar Suhardiman memilih Zulkarnain sebagai Sekda.

Selengkapnya di kolom komentar

(CAKAPLAH.COM) – Suci Nitia Edward, Istri kedua Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) nonaktif Suhardiman Amby, dihadirkan ...
08/10/2026

(CAKAPLAH.COM) – Suci Nitia Edward, Istri kedua Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) nonaktif Suhardiman Amby, dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan suap jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuansing.

Suci menjadi satu dari lima saksi yang dihadirkan JPU KPK dalam sidang lanjutan perkara dengan terdakwa Sekda Kuansing nonaktif Zulkarnain dan Direktur PT Mitra Ideal Consultant (MIC), Ardiles, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (8/10/2026).

Selain Suci, JPU KPK menghadirkan Izmayudi Hendri selaku Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Kuansing, Marel Hendra selaku Sekretaris BPBD Kuansing, Hendri Wahyudi selaku Kepala Dinas Perhubungan Kuansing serta Frengki Suhardinata, staf sekaligus PPK Dinas PUPR Kuansing.

Sebelum pemeriksaan dimulai, majelis hakim yang diketuai Delta Tamtama terlebih dahulu memeriksa identitas kelima saksi dan memastikan hubungan mereka dengan para terdakwa.

Kelima saksi kemudian diambil sumpah untuk memberikan keterangan yang sebenarnya dan sejujur-jujurnya selama persidangan.

Majelis hakim mengingatkan para saksi agar hanya menerangkan fakta yang mereka lihat, dengar, alami dan rasakan sendiri, tanpa memberikan pendapat maupun menarik kesimp**an.

“Saudara cukup menerangkan fakta apa yang Saudara ketahui,” tegas hakim.

Dalam persidangan, majelis hakim memutuskan memeriksa Ismayudi Hendri, Marel Hendra dan Hendri Wahyudi terlebih dahulu. Sementara Suci dan Frengki dijadwalkan menjalani pemeriksaan secara terpisah.

Suci menjadi perhatian dalam persidangan karena statusnya sebagai istri kedua Suhardiman, yang dalam perkara ini disebut sebagai pihak yang diduga menerima pemberian dari Zulkarnain.

Dalam dakwaan JPU KPK, Zulkarnain disebut memberikan dua mobil kepada Suhardiman untuk memuluskan keinginannya menduduki jabatan strategis di lingkungan Pemkab Kuansing.

Dua kendaraan tersebut yakni Mitsubishi Pajero Sport 2.4 L Dakar Ultimate-L 4X4 8A/T tahun pembuatan 2022 senilai Rp700 juta dan Toyota Land Cruiser 300 GR-Sport tahun perakitan 2023 senilai Rp2,05 miliar. Total nilai kedua kendaraan tersebut mencapai sekitar Rp2,75 miliar.

Mitsubishi Pajero Sport disebut berkaitan dengan upaya Zulkarnain mendapatkan jabatan Kepala Dinas PUPR Kuansing pada 2022. Mobil itu digunakan oleh Suci.

Sementara Toyota Land Cruiser disebut berkaitan dengan upaya Zulkarnain mendapatkan jabatan Sekretaris Daerah Kuansing pada 2025.

Kedua mobil tersebut disebut dibeli Zulkarnain dengan bantuan Ardiles secara kredit dengan masa cicilan 36 bulan, sebelum kemudian diserahkan kepada Suhardiman.

Ardiles juga didakwa memiliki kepentingan dalam pemberian tersebut. JPU KPK menyebut pemberian kendaraan dilakukan agar PT MIC memperoleh pekerjaan atau proyek di lingkungan Dinas PUPR Kuansing.

Sementara perkara yang menjerat Suhardiman sendiri masih diproses secara terpisah. Suhardiman masih dalam proses penyidikan oleh KPK di Jakarta.

Selengkapnya di kolom komentar

www.iNews86.com – Plt Bupati Kuantan Singingi, H. Muklisin, meninjau Pasar Modern Teluk Kuantan, Kamis (8/10/2026). Ia d...
08/10/2026

www.iNews86.com – Plt Bupati Kuantan Singingi, H. Muklisin, meninjau Pasar Modern Teluk Kuantan, Kamis (8/10/2026). Ia didampingi Kadis PUPR Ade Fahrer Arif, Kadis Kopdagrin Drs. Masnur Judin, MM, serta sejumlah pejabat lainnya.

Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi pasar, termasuk sejumlah lapak yang masih kosong dan pedagang yang memilih berjualan di luar.

Saat berdialog dengan pedagang, Plt Bupati menanyakan alasan mereka tidak menempati lapak yang telah disediakan.

“Kenapa memilih berjualan di luar, tidak di dalam? Ini perlu kita lihat dan benahi. Apa saja keluhannya?” tanya Muklisin.

Pedagang menyampaikan sejumlah kendala, mulai dari pembeli yang enggan turun dari kendaraan, lapak yang sempit, parkir belum tertata, kebersihan, saluran air tersumbat hingga keamanan barang dagangan.

Pedagang juga berharap seluruh aktivitas jual beli ditata dalam satu kawasan agar pasar lebih ramai dan mudah dijangkau masyarakat.

Menanggapi aspirasi tersebut, Muklisin mengatakan Pemkab Kuansing akan melakukan pembenahan secara bertahap, terutama terkait infrastruktur dan kenyamanan pedagang.

“Kalau ada kekurangan infrastruktur, silakan disampaikan. Nanti akan kita perbaiki. Kita lakukan secara bertahap,” ujarnya.

Ia juga mengarahkan agar pedagang dikelompokkan berdasarkan jenis dagangan. Bagian atas pasar untuk komoditas basah, sedangkan bagian bawah untuk barang-barang kering.

“Yang bagian atas pasar basah, bagian bawah pasar kering,” katanya.

Selain itu, penataan parkir menjadi perhatian agar kawasan pasar lebih tertib. Pemkab juga akan mengevaluasi persoalan kebersihan, keamanan dan fasilitas pendukung lainnya.

Selengkapnya di kolom komentar

Riauaktual.com - Pengadilan Negeri (PN) Teluk Kuantan menjatuhkan pidana penjara selama 12 tahun kepada seorang pria yan...
08/10/2026

Riauaktual.com - Pengadilan Negeri (PN) Teluk Kuantan menjatuhkan pidana penjara selama 12 tahun kepada seorang pria yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kekerasan seksual terhadap anak tirinya.

Selain pidana penjara, majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan hak menjalankan kekuasaan ayah terhadap Anak Korban selama 15 tahun serta mewajibkan terdakwa membayar restitusi kepada korban.

Putusan tersebut tercantum dalam Putusan Nomor 150/Pid.Sus/2026/PN Tlk yang dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum pada Senin (5/10/2026) lalu.

Majelis hakim diketuai Riri Lastiar Situmorang, S.H., M.H., dengan hakim anggota Aulia Rifqi Hidayat, S.H. dan Dapotz Suvanny, S.H.

Berdasarkan fakta persidangan, terdakwa telah menjadi ayah tiri korban sejak korban berusia lima tahun. Perbuatan kekerasan seksual dilakukan sebanyak empat kali sepanjang 2025.

Terdakwa juga melarang korban menceritakan peristiwa tersebut kepada ibu dan neneknya dengan alasan dapat memicu pertengkaran dalam keluarga.

Majelis hakim menilai tindakan terdakwa menahan tangan korban serta ancaman yang dikaitkan dengan keharmonisan keluarga merupakan bentuk kekerasan fisik dan psikis.

Hasil pemeriksaan psikologis juga menunjukkan adanya dampak traumatis yang dialami korban," kata Riri, Rabu (7/10/2026).

Dalam putusannya, majelis hakim langsung memilih dakwaan alternatif pertama, yakni Pasal 81 ayat (3) juncto Pasal 76D Undang-Undang Perlindungan Anak. Majelis menyatakan seluruh unsur dalam pasal tersebut telah terpenuhi.

"Majelis mempertimbangkan bahwa hukum pidana nasional tidak semata-mata mengedepankan pendekatan pembalasan, tetapi juga memperhatikan aspek korektif, rehabilitatif dan restoratif," ujarnya.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, majelis menerapkan ketentuan Pasal 473 ayat (4) KUHP Nasional.

Dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi dan keadaan terdakwa sebagaimana ketentuan Pasal 80 ayat (1) KUHP, majelis menjatuhkan pidana penjara tanpa pidana denda.

Majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan hak menjalankan kekuasaan ayah terhadap Anak Korban selama 15 tahun.

Pidana tambahan tersebut merujuk pada ketentuan Pasal 66, Pasal 86, Pasal 88 huruf b dan Pasal 90 KUHP.

Menurut majelis hakim, pidana penjara saja belum cukup untuk mencegah terdakwa kembali menyalahgunakan kekuasaannya sebagai orang tua sekaligus memberikan rasa aman kepada korban.

"Pencabutan hak tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kepada korban dalam mengurus berbagai keputusan penting dalam kehidupannya," tegasnya.

Selengkapnya di kolom komentar

(RIAUPOS.CO) - Tim Pemkab Kuansing pekan kemarin melakukan verifikasi faktual (verfak) terhadap 14 Koperasi Desa/Kelurah...
08/10/2026

(RIAUPOS.CO) - Tim Pemkab Kuansing pekan kemarin melakukan verifikasi faktual (verfak) terhadap 14 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang dibangun di Kabupaten Kuansing.

Dari hasil verfak itu, tim Pem­kab menemukan bahwa 14 unit KDKMP secara fisik sudah tuntas 100 persen. Jaringan listrik sudah terpasang.

Tim juga menemukan, dari 14 unit itu, hanya satu yang dilengkapi dengan sarana air bersih, berupa sumur bor. Yakni KDKMP Desa Sukamaju, Kecamatan Singingi Hilir.

Sementara 13 unit lainnya belum memiliki sarana air bersih. Selain itu, tidak satu pun sarana rak di dalam bangunan yang terpasang, karena belum beroperasi.

"Jadi itu hasil verfak yang dilakukan tim Pemkab Kuansing. Dan ini menin­daklanjuti instruksi Kementerian Koperasi ke kabupaten/kota," ungkap Kepala Dinas Kopdagrin Kuansing Drs Masnur MM, Selasa (6/10).

Hasil verfak ini, lanjut Masnur, akan disampaikan langsung pada Kementerian Koperasi melalui apli­kasi Simkopdes (Sistem Informasi Manajamen Koperasi Desa). Sementara Hard Copy hasil verfak akan disampaikan langsung pada Dinas Kopdagrin Riau.

Menurut Masnur, di Kuansing ada 90 unit KDKMP yang dibangun. Dari jumlah itu, 28 unit KDKMP sudah rampung 100 persen. Dari 28 unit KDKMP yang tuntas 100 persen, baru 14 unit yang diminta dilakukan verfak.

Sisanya, masih menunggu instruksi dari Kementerian Koperasi. Selain itu, sisa bangunan KDKMP tahap I yang belum tuntas, diminta tuntas hingga Desember 2026. Sehingga tahun depan kemungkinan akan dilanjutkan dengan pembangunan tahap II.

Selengkapnya di kolom komentar

RIAU1.COM - Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi mencatat kualitas udara di seluruh wilayah pemantauan masuk kategori t...
08/10/2026

RIAU1.COM - Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi mencatat kualitas udara di seluruh wilayah pemantauan masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan pada Rabu (7/10/2026).

Perburukan kualitas udara yang dipicu oleh paparan kabut asap tersebut berbanding lurus dengan melonjaknya penderita infeksi saluran pernapasan akut yang mencapai 1.789 kasus di daerah setempat.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuantan Singingi, Doddy Fitrawan, mengonfirmasi bahwa peningkatan indeks pencemaran udara terjadi secara merata berdasarkan hasil pengukuran berkala. Ia menyebut kenaikan tingkat pencemaran paling signifikan terpantau pada waktu pagi hari di delapan titik lokasi pemantauan.

"Hasil pemantauan lapangan mencatat peningkatan pencemaran yang merata di delapan wilayah. Dua daerah, yakni Petai dan Muara Lembu, bahkan menembus angka di atas 200 pada pagi hari yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat," kata Doddy Fitrawan, Rabu (7/10/2026).

Memburuknya kondisi udara akibat paparan asap karhutla tersebut langsung berdampak signifikan terhadap sektor kesehatan masyarakat setempat. Peningkatan jumlah penderita gangguan pernapasan terus tercatat pada sejumlah fasilitas layanan kesehatan yang tersebar di wilayah Kuantan Singingi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi, Aswandi, merincikan bahwa akumulasi kasus infeksi saluran pernapasan akut tercatat sejak pertengahan Agustus hingga awal Oktober 2026. Data tersebut dihimpun secara berkala oleh tim medis dari seluruh pusat kesehatan masyarakat dan rumah sakit daerah.

"Sepanjang periode 19 hingga 31 Agustus terdata sebanyak 649 kasus. Angka ini terus bertambah signifikan pada bulan September dengan 1.001 kasus baru. Sementara untuk periode 1 hingga 6 Oktober saja, kami mencatat sudah ada 139 kasus ISPA," kata Aswandi, Rabu (7/10/2026).

Aswandi menjelaskan bahwa seluruh fasilitas kesehatan di Kabupaten Kuantan Singingi telah disiagakan guna mengantisipasi potensi lonjakan pasien lanjutan. Pihaknya mengimbau warga, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker perlindungan.

Pemerintah daerah juga menginstruksikan warga yang mengalami gejala sesak napas atau batuk berkelanjutan agar segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. Langkah antisipasi tersebut terus disosialisasikan guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan yang lebih berat akibat kabut asap

Selengkapnya di kolom komentar

Goriau.com - Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, mencatatkan realisasi pendapatan asli daerah (PAD) ...
08/10/2026

Goriau.com - Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, mencatatkan realisasi pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp153,41 miliar hingga akhir September 2026. Angka tersebut setara dengan 60,07 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp255,40 miliar.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kuansing, Masrul Hakim, menyatakan bahwa perolehan tersebut ditopang oleh kinerja penerimaan pajak daerah yang telah mencapai Rp83,37 miliar atau 72,05 persen dari target Rp115,72 miliar.

Komoditas utama pendorong pajak daerah mencakup Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang terealisasi Rp21,14 miliar (89,04%), Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) sebesar Rp20,48 miliar (79,40%), serta Pajak Air Tanah yang menembus Rp806,87 juta atau 201,72 persen dari target.

Meski demikian, Masrul menyoroti sejumlah sektor pendapatan yang capaian kinerjanya masih relatif rendah, khususnya Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang baru terealisasi Rp4,25 miliar atau 38,05 persen dari target Rp11,19 miliar.

Mengingat batas akhir pembayaran PBB-P2 jatuh pada 31 Oktober 2026, Bapenda Kuansing mengintensifkan langkah percepatan penagihan di lapangan.

"Kita akan fokus di realisasi yang masih rendah, seperti PBB. PBB terakhir 31 Oktober," kata Masrul Hakim saat dikonfirmasi, Rabu (7/10/2026). "Kita intens koordinasi dengan kecamatan dan selalu memantau progres serta melihat permasalahan di desa untuk dicarikan solusinya."

Masrul mengimbau seluruh wajib pajak di Kabupaten Kuansing untuk segera melunasi kewajiban perpajakannya sebelum tenggat waktu berakhir guna menghindari sanksi administratif denda keterlambatan.

"Tentu kita mengimbau kesadaran masyarakat supaya menunaikan pajak tepat waktu," ujarnya.

Berdasarkan data Bapenda, realisasi sektor Retribusi Daerah hingga September 2026 baru mengumpulkan Rp2,98 miliar atau 37,40 persen dari target Rp7,97 miliar. Sektor Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian menjadi penyumbang retribusi tertinggi dengan capaian 97,36 persen (Rp1,01 miliar), sementara sektor retribusi lain seperti Dinas Perikanan dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga masih di bawah 15 persen dari target tahunan.

Sementara itu, kelompok Lain-lain PAD yang Sah mencatatkan realisasi Rp67,06 miliar atau 50,92 persen dari target Rp131,71 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari pendapatan jasa layanan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD Teluk Kuantan senilai Rp46,61 miliar (62,15%) dan Dinas Kesehatan senilai Rp15,88 miliar (66,98%).

Selengkapnya di kolom komentar

RIAUIN.COM — Ancaman penurunan tajam dana transfer dari pusat membayangi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah K...
07/10/2026

RIAUIN.COM — Ancaman penurunan tajam dana transfer dari pusat membayangi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, tahun 2027 mendatang.

Proyeksi anjloknya porsi Dana Bagi Hasil minyak dan gas bumi hingga 76,51 persen pada tahun anggaran 2027 memaksa Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi bersiap melakukan pengetatan belanja internal untuk mengamankan alokasi pelayanan dasar publik.

Berdasarkan data proyeksi alokasi pusat, penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) migas untuk Kabupaten Kuantan Singingi yang pada tahun 2026 sebesar Rp 27.370 miliar diproyeksikan merosot menjadi Rp 6.429 miliar pada tahun 2027.

Penurunan nominal senilai Rp 20,941 miliar ini menjadi bagian dari tren koreksi tajam DBH migas secara keseluruhan di Provinsi Riau, yang diperkirakan menyusut dari Rp 1,176 triliun menjadi Rp 268,753 miliar atau berkurang sebesar 77,15 persen.

Menanggapi proyeksi penurunan tersebut, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Kuantan Singingi Jafrinaldi menyatakan bahwa dokumen Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) saat ini telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kuantan Singingi.

Pemerintah daerah melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dijadwalkan membawa dinamika data Transfer ke Daerah (TKD) tersebut ke meja pembahasan bersama Badan Anggaran (Banggar) DPRD.

“Dari data yang kami terima saat ini memang TKD untuk tahun 2027 terjadi penurunan. Namun, saat ini KUA-PPAS sudah disampaikan ke DPRD. Tentunya kami dari TAPD akan sampaikan juga kondisi TKD 2027 pada saat pembahasan di Banggar,” ujar Jafrinaldi saat dikonfirmasi riauin.com , Rabu (7/10/2026).

Jafrinaldi menambahkan, munculnya wacana mengenai kewenangan pengurusan gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) ke pemerintah pusat diharapkan dapat menjadi jaring pengaman fiskal daerah.

Menurutnya, jika skema pembiayaan personel tersebut direalisasikan oleh pusat, beban belanja pegawai daerah akan berkurang secara signifikan sehingga mampu mengukur dampak penurunan TKD.

“Walaupun di beberapa media sosial memberitakan terkait penggajian PPPK menjadi kewenangan pemerintah pusat, tentunya ini menjadi solusi dalam mengukur angka TKD,” kata Jafrinaldi.

Sembari menunggu kepastian regulasi penetapan alokasi dari Kementerian Keuangan, TAPD Kuantan Singingi menyiapkan skema penyisiran anggaran belanja. TAPD akan mengklasifikasikan skala prioritas program kerja di setiap instansi untuk memastikan keterbatasan dana tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan vital masyarakat.

Pos belanja operasional internal, pengadaan agenda rapat, dan kegiatan seremonial menjadi target utama rasionalisasi. Sebaliknya, program wajib (mandatory spending) yang menyangkut pelayanan publik mendasar dipastikan tetap terlindungi.

"Tentunya TAPD akan mengklasifikasi tingkat prioritas. Kegiatan-kegiatan operasional yang bersifat rapat-rapat dan acara seremonial (akan dirasionalisasi). Jika program itu mandatory dan memiliki tingkat urgensi kepada masyarakat, tidak mungkin akan dirasionalisasi," ujar Jafrinaldi.

Penurunan DBH migas di Riau dipengaruhi oleh dinamika produksi (lifting) serta fluktuasi harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan penetapan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD).

Bagi daerah dengan struktur Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masih terbatas seperti Kuantan Singingi, hilangnya potensi penerimaan sebesar Rp 20,9 miliar menuntut peningkatan efisiensi belanja secara terukur.

Penyisiran pos anggaran non-prioritas menjadi langkah penting agar keberlanjutan program pelayanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar perdesaan tetap terjaga di tengah keterbatasan fiskal.

Menanggapi tantangan penurunan TKD tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuantan Singingi H Mukhlisin menegaskan beberapa langkah strategis yang akan diambil oleh pemerintah daerah.

Pertama, terkait proyeksi penurunan TKD, Pemkab Kuansing saat ini masih menunggu petunjuk teknis resmi dari Kementerian Dalam Negeri maupun Kementerian Keuangan. Pasalnya, di tingkat pusat telah ada kesepakatan antara DPR dan pemerintah mengenai penganggaran gaji PPPK yang akan ditanggung langsung oleh APBN. Kepastian regulasi tersebut sangat dinantikan karena dapat memperlonggar ruang fiskal daerah.

Kedua, Mukhlisin menekankan bahwa penyusunan dan pengalokasian anggaran daerah akan tetap mengacu ketat pada regulasi yang berlaku dengan memprioritaskan belanja wajib dan mengikat. Fokus utama alokasi anggaran akan diarahkan pada belanja pegawai, pemenuhan mandatory spending di bidang pendidikan dan kesehatan, penyelesaian kewajiban atau utang kepada pihak ketiga, serta program prioritas daerah lainnya.

Ketiga, Pemkab Kuansing akan mengambil langkah proaktif dengan mengoptimalkan berbagai sektor andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD), baik dari ranah pajak daerah maupun retribusi. Upaya optimalisasi ini ditopang melalui peningkatan sosialisasi kepada masyarakat, perumusan strategi penagihan yang lebih efektif, serta percepatan digitalisasi sistem pendapatan daerah guna menutup celah penurunan dana transfer dari pusat.

Selengkapnya di kolom komentar

Address

Pekanbaru

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kuansing.Footage posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kuansing.Footage:

Shortcuts

Share