15/03/2026
.
NGAPAIN PULANG?
Selain berziarah ke makam bapak, kakak, dan keponakan, ada satu hal yang selalu terasa perlu: "mencium" kaki ibu. Selagi Beliau masih sehat, masih rajin mengangkat tangan dan menyebut nama anak-cucunya dalam doa.
Ada sesuatu yang tak bisa digantikan oleh panggilan telepon, pesan singkat, atau kiriman uang. Sentuhan tangan ibu di kepala, dan kita yang menunduk di kakinya, sebuah gestur sederhana yang menyimpan banyak hal: rasa hormat, rindu, juga pengakuan bahwa sejauh apa pun kita berjalan, tetaplah anak kecil di hadapan doa seorang ibu.
Pulang kampung juga menjadi cara meneladankan bakti pada orang tua, terutama ibu. Bukan lewat ceramah panjang, tapi lewat contoh yang dilihat langsung oleh anak-anak. Bahwa menghormati orang tua bukan sekadar kata-kata, melainkan kebiasaan yang hidup dalam tindakan kecil: datang, menunduk, mencium tangan, dan mendengarkan.
Di saat yang sama, perjalanan ini menjadi cara pelan-pelan mengenalkan anak-anak pada akar mereka, kampung halaman, cerita keluarga, dan jejak-jejak kehidupan dari sisi sang ayah. Supaya mereka tahu bahwa keluarga tidak hanya dimulai dari rumah tempat mereka tinggal sekarang, tetapi juga dari jalan-jalan kecil, rumah lama, dan makam-makam yang menyimpan sejarah keluarga.
Pulang kampung kali ini terasa lebih istimewa karena berbarengan dengan hari jadi ibune bocah-bocah. Perjalanan ini justru menjadi hadiah darinya. Sebuah kesetiaan selalu untuk menemani kami. Bahkan setelah awal Ramadan kemarin kami juga pulang kampung.
Kadang pulang bukan karena ada yang harus dikerjakan. Pulang lebih karena ada yang masih bisa dipeluk, didoakan, dan dimintai doa.
Selagi masih ada.