02/11/2012
Berdasarkan hasil penelitian Para Arkeolog tampaklah pada kita betapa pentingya peninggalan-peninggalan di daerah Penanggungan. Daerah ini sangat disucikan oleh masyarakat di p**au Jawa. Mereka beranggapan bahwa tempat ini merupakan tempat tinggal para dewa dan leluhurnya, yang ternyata banyak menyimpan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu kita semua harus mengakui kebesaran dan kebudayaan bangsa kita yang sudah mencapai taraf yang tinggi pada abad ke 15. Daerah Penanggungan yang dipandang sebagai simbol kehidupan kosmis bangsa Indonesia, ternyata sangat menyimpan bahan-bahan ilmu pengetahuan yang tak ternailai terhadap kemajuan ilmu kepurbakalaan di Indonesia. Punden-punden, candi-candi dan pertapaan-pertapaan, semuanya sebagai informasi kehidupan spirituil bangsa Indonesia pada masa-masa sejarah bangsa Indonesia pada sekitar abad 14 dan 15. Oleh karena itu pantaslah kita untuk mengenang dan mempelajari kembali, kalau kita semua menghendaki kehidupan yang tidak statis. Kedatangan agama Hindu dan Buddha, semuanya itu justru lebih memberi corak dan landasan yang lebih jelas terhadap kebudayaan kita. Punden berundak dari zaman prasejarah, mempunyai fungsi sebagai tempat meletakkan sesaji untuk persembahan nenek moyang, sudah merupakan bangunan yang megah dan indah. Relief-relief dengan ceritera kepahlawanan yang melukiskan ceritera Mahabarata dan Ramayana tampak sudah menghiasi dinding-dinding candi, punden dan bangunan lainnya yang telah disesuaikan / menggambarkan keadaan masyarakat kita pada waktu itu. Altar-altar dalam kebudayana Hindu yang disebut padmasana, dengan bentuk batu bersusun sederhana, telah dibentuk kembali dalam gaya yang lebih artistik. Ada kemungkinan punden-punden yang terdapat di Penanggungan, pada masa belakangan berkembang p**a, sehingga dapat mempengaruhi kebudayaan masyarakat Bali. Sebagai contoh bisa disebutkan Pura Besakih. Sedang pecahan gerabah buatan lokal ataupun import merupakan suatu bukti bahwa nenek moyang kita pada masa purba sudah hidup berkelompok sehingga merupakan suatu masyarakat yang teratur. Dan alat-alat itu ada kemungkinan dipergunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Tempayan, pecahan gendi dan juga pecahan guci, memberi kesan kepada kita sebagai tempat air suci, yang selalu berfungsi dalam setiap upacara keagamaan. Umpak-umpak mengingatkan kita adanya suatu bangunan kuno yang berwujud pendapa untuk tempat upacara agama, musyawarah ataupun sebagai penginapan terhadap pesiarah-pesiarah, yang berpangkal pada kepentingan agama waktu itu. Berdasarkan uraian tersebut di atas, sampailah kita pada suatu kesimp**an mengenai hasil survai yang telah kami lakukan. Bertitik tolak kepada fungsi dan arti dari peninggalan-peninggalan daerah Penanggungan dapatlah kami sarankan hal-hal sebagai tersebut di bawah: 1. Pentingnya diadakan penelitian-penelitian lanjutan terhadap site-site yang terdapat di daerah Gunung Penanggungan, agar kita dapat lebih mengetahui latar belakang kehidupan masyarakat masa itu. Dan bila perlu mengadakan suatu ekskavasi. 2. Perlu diadakan restorasi bagi bangunan-bangunan yang mendekati keruntuhannya, agar kita tidak kehilangan jejak terhadap warisan budaya nenek moyang kita. 3. Mengadakan c***r budaya terhadap sisa-sisa bangunan di lereng Gunung Penanggungan. 4. Reboisasi yang dimaksud untuk mengurangi bahaya longsor (erosi), perlu adanya suatu peninjauan kembali, karena akar-akar pohon kalendra banyak menembus ke bangunan-bangunan kunonya, sehingga mempercepat proses keruntuhan. Disarankan agar kerja sama dengan Jawatan Kehutanan setempat diadakan.