15/08/2021
Rusdianto Ingatkan Kaum Muda Jangan Hidup Susah
Penasaran pidato Rusdianto saat mengisi keynote speaker pada acara seminar nasional seputar "Kedaulatan Maritim dan Nasionalisme Indonesia" di kampus Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2017 lalu. Pidato tersebut, pengalaman riset pengaruh ekonomi politik Asia Tenggara di China selama tiga tahun 2013 - 2016.
Yang menarik, Rusdianto kekeh tidak mau menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai pertemuan. Ia lebih memilih invoice transleter yang bisa mengubah bahasa dari Indonesia ke berbagai bahasa negara di dunia. Itu upaya menampilkan power nasionalisme bangsa yang kuat dan berani.
Saya khusus datang berdialog ke Sumbawa bertemu di Kota Sumbawa. Karena beberapa waktu lalu saat di Taliwang tak bisa jumpa karena kendala jadwal dan waktu serta tempat. Tentu saja, Rusdianto sibuk sekali jalan roadshow bertemu masyarakat.
Kota Sumbawa tempat pilihan kami bertemu. Tepat di Roptof hotel kaloka. Saya banyak menimba pengalaman seorang Rusdianto. Banyak yang bisa dipetik dari kesederhaannya. Terutama, saat ia harus membandingkan antara kaum muda China dengan kaum muda Indoesia.
Menurutnya, kaum muda dimasa umur 7 tahun sudah memiliki tanggung jawab menghidupkan diri sendiri dalam berusaha. Basic lingkungan dan pengalaman diciptakan dalam proses berbisnis. Sehingga pada level umur 12 - 25 tahun sudah ditata perangkat hidup menjadi pengusaha atau orang sukses.
Sedangkan kaum muda Indonesia, level umur 30 tahun belum memiliki pekerjaan tetap, apalagi menjadi pengusaha. Sehingga itulah yang membuat terjadi migrasi dari pengangguran menjadi mayoritas kriminal. Mestinya terjadi murtality (pemutusan) generasi antara doktrin birokrasi dengan basic pengusaha dalam berbagai aspek.
Maka, sudah saatnya kaum muda menebar semangat kebaikan, berusaha lebih kuat. Jangan sampai kaum muda mental susah. Mental miskin. Mental bodoh. Kaum muda harus tampil berani, energik, kreatif, inovatif dan gerak cepat (Progressif).
Rusdianto salah satu contoh kaum muda yang tetap pendirian pada jalan rakyat, mengurus urusan rakyat. Tetap konsisten pada sikap humbel. Selalu bercermin pada pengalaman histori perjalanan hidupnya menjadi pembawa dokkar, penjual ubi jalar, penjual ikan, penjual garam dan menjadi petani nelayan buruh serta lainnya. Rusdianto telah berada dalam pengalaman hidup keras dan tak mudah menyerah.
Rusdianto telah banyak ingatkan pemerintah lewat kritik pedasnya. Tulisannya bernas. Pikirannya jauh memikirkan arah masa depan zaman. Rusdianto yang humbel merakyat tentu jelas sudah dari sediakala. Sering duduk bersama rakyat dimana saja. Mendengar keluhan rakyat. Menyelesaikan persoalan rakyat.
Banyak pertanyaan telah saya ajukan kepada Rusdianto. Semoga tulisan kecil ini mewakili rasa penasaran masyarakat. Siapa sesungguhnya Rusdianto.
Hendro Susetyo
Koordinator: Komunitas Jawa - Madura