23/08/2026
TANGAN ABAH
By. Juhar
Abah, aku mengenal lelah
dari punggungmu yang selalu membungkuk,
dari telapak tanganmu yang kasar,
dari keringat yang jatuh
sebelum matahari tinggi.
Setiap pagi,
engkau pergi bawa cangkul,
menyusuri tanah basah
berharap pada langit
agar benih yang kau tanam
tumbuh jadi harapan.
Abah engkau petani.
Tetapi bagiku,
engkau bukan hanya menanam padi,
engkau sedang menanam masa depanku.
Di sela musim yang tak selalu ramah,
engkau tetap bekerja.
Ketika hujan datang, kau tetap melangkah.
Ketika panas membakar kulit,
kau tetap mencangkul tanah
seolah lelah tak mengenalmu.
Dan ketika senja mulai turun,
engkau duduk di depan rumah,
mengambil bilah-bilah bambu,
lalu menganyamnya perlahan.
Satu demi satu.
Silang demi silang.
Aku pernah duduk di sampingmu,
mencoba membantu menganyam.
Tanganku sering salah memasukkan bilah,
anyamanku berantakan,
dan kau hanya tersenyum.
“Pelan-pelan,” katamu.
Kini aku mengerti, Bah...
Mungkin bukan hanya bambu
yang sedang kau ajarkan untuk dianyam.
Engkau sedang mengajariku
bahwa hidup pun harus disusun
dengan kesabaran.
Bahwa sesuatu yang kuat
dibangun dari banyak hal kecil
yang dikerjakan dengan tekun.
Bahwa rezeki
tidak selalu datang dari jalan yang mudah.
Aku melihat tanganmu.
Tangan yang kasar karena tanah.
Tangan yang terluka karena bambu.
Tangan yang mungkin tak pernah memakai perhiasan mahal,
tetapi bagiku lebih berharga daripada apa pun di dunia.
Karena dari tangan itulah
aku mengenal arti pengorbanan.
Abah...
Maaf jika dahulu
aku sering menganggap semua itu biasa.
Aku hanya melihat engkau bekerja.
Aku tidak melihat
berapa banyak mimpimu yang kau pendam
demi memenuhi mimpiku.
Aku hanya melihatmu pulang dalam keadaan lelah.
Aku tidak tahu
berapa banyak lelah yang kau sembunyikan
agar anak-anakmu tetap bisa tersenyum.
Sesekali aku membantu pekerjaanmu,
memegang cangkulmu,
mengangkat bambumu,
atau duduk menemanimu menganyam.
Namun kini aku sadar,
seberat apa pun bantuanku,
tak akan pernah sebanding
dengan apa yang telah kau lakukan untuk hidupku.
Abah...
Jika kelak aku menjadi seseorang,
jangan tanyakan
seberapa tinggi aku terbang.
Tanyakan saja
apakah aku masih ingat
tanah tempat kakimu berpijak.
Karena aku tahu,
di sanalah aku berasal.
Di antara sawah, bambu, keringat, dan doa seorang lelaki
yang tidak pandai berkata
tentang cinta.
Tetapi setiap hari
ia mengatakannya dengan cara lain: dengan pergi bekerja,
dengan pulang membawa hasil,
dengan tangan yang semakin kasar,
dan dengan tubuh yang semakin renta.
Abah...
Suatu hari nanti,
aku ingin kau berhenti bekerja.
Bukan karena pekerjaanmu tidak berarti,
tetapi karena sudah saatnya
tangan yang selama ini menghidupiku beristirahat.
Biarkan aku yang melanjutkan
anyaman kehidupan itu.
Engkau telah mengajarkanku caranya.
Dan jika suatu ketika
aku mampu membalas sedikit saja semua pengorbananmu,
aku tidak akan berkata,
“Ini balasanku, Bah.”
Aku hanya akan berkata:
“Terima kasih telah menjadi tanah tempat aku tumbuh.”
Sebab aku tahu,
seorang anak mungkin bisa melupakan banyak nasihat dari abahnya.
Tetapi ia tak akan pernah lupa
pada sepasang tangan
yang bekerja tanpa banyak bicara demi membuat hidupnya menjadi lebih baik.
Kendal, 23 Agustus 2026