25/11/2023
Kritikan Sayyid Utsman bin Abdullah bin Toha soal Nasab dan Pandangannya tentang Ahlul Bait
Sayyid Usman bin Abdullah bin Yahya (dikenal dengan Sayyid Usman Batavia, 1822-1914 M) mengkritik bagi siapa saja yang menjadikan nasab sebagai instrumen kedekatan kepada Allah. Nasab memang menjadi suatu standar kemuliaan dalam ajaran Islam. Namun nasab bukan menjadi patokan seseorang terbebas dari dosa. Prinsip utama dalam keberagamaan seseorang adalah ketakwaannya kepada Allah Swt. Oleh sebab itu, Sayyid Usman mengomentari para oknum yang menipu orang lain melalui faktor kenasabannya.
Komentar Sayyid Usman ditunjukkan salah satunya melalui kitab berjudul Bunnah al-Jalis wa Qahwah al-Anis. Pada karyanya itu, Sayyid Usman mengutip beberapa ayat Al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama terkait larangan seseorang yang sombong dalam nasab. Di antaranya QS Al-Mukminun ayat 101 dan QS Asy-Syu’ara ayat 214. Pada ayat pertama, menurut Imam Jalaluddin al-Mahalli dalam kitab Tafsir al-Jalalain, ketika tiupan malaikat Israfil (sangkakala) yang pertama atau kedua, tiada lagi pertalian nasab yang dapat mereka bangga-banggakan. Tidak p**a mereka saling bertanya tentang pernasaban tersebut, disebabkan kengerian yang menyibukkan diri mereka pada hari kiamat itu.
Sedangkan pada ayat kedua, Sayyid Usman menjelaskan bahwa tatkala ayat ini turun, Rasulullah memanggil para suku Quraisy dan meminta mereka untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing dari api neraka. Kemudian Rasulullah bersabda:
يا فاطمة بنت محمد يا صفية بنت عبد المطلب يا بني عبد المطلب لا أملك لكم من الله شيئا غير أن لكم رحما سأبُلُّها ببلالها
“Wahai Fatimah binti Muhammad, wahai Safiyah binti Abdul Muthalib, wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak bisa melindungi kalian sedikitpun dari siksa Allah, hanya saja kalian memiliki rahim (kerabat) yang aku akan terus jalin silaturahminya (di dunia).” (Sayyid Usman bin Yahya, Bunnah al-Jalis wa Qahwah al-Anis, [Batavia, Syawal 1314 H], halaman 42).
Tidak hanya itu, Sayyid Usman bahkan mengkritik para Ahlul Bait yang merasa aman dengan kefasikan sebab berpegang pada keshalehan bapaknya. Dalam hal ini, ia mengutip ungkapan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, yaitu:
وقال الإمام الغزالي رضي الله عنه في الإحياء وربما كان مستند رجائهم التمسك بصلاح الآباء وعلوِّ رتبتهم كاغترار العلوية بنسبهم ومخالفتهم سيرة آبائهم في الخوف والتقوى والورع وظنهم أنهم أكرم على الله من آبائهم إذ آباؤهم مع غاية الورع والتقوى كانوا خائفين وهم مع غاية الفجور والفسق آمنون وذالك نهاية الإغترار بالله انتهى
“Imam al-Gazali berkata, boleh jadi mereka yang menyandarkan harapan dengan berpegang pada kesalehan dan ketinggian derajat bapak-bapak mereka, seperti tertipunya (sebagian) keturunan Alawiyah (keturunan Ali bin Abi Thalib) dengan nasab mereka tapi bertentangan dengan perilaku bapak-bapak mereka dalam ketakutan, ketakwaan, dan kewarakan kepada Allah, dan menduga bahwa mereka lebih mulia di sisi Allah dari bapak-bapak mereka. Padahal bapak-bapak mereka dengan derajat kewarakan dan ketakwaan yang tinggi, tetap merasa takut (akan siksa Allah). Sedangkan mereka dengan perilaku yang amat keji dan fasik, tetap merasa aman. Boleh jadi hal tersebut adalah puncak tipuan kepada Allah Swt.”
(Yahya, Bunnah al-Jalis wa Qahwah al-Anis, halaman 43. Lihat Juga, Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, ‘Kitab Dzam al-Ghurur’, [Dar Ibn Hazm, Lebanon, 2005], halaman 1303).
-Menasihati Ahlul Bait Yang Menyimpang Adalah Bentuk Mahabbah-
Bagaimanakah mewujudkan kecintaan, apakah dengan bentuk menaati semua perilaku para Ahlul Bait, termasuk perihal maksiat? Pembahasan ini jika tidak dipahami secara komprehensif, maka akan terjebak dalam fanatisme kesukuan. Sayyid Usman menyadari hal tersebut dan tidak membatasi masalah ini dalam persoalan cinta saja, atau bahkan mewujudkan cinta itu dengan ketaatan secara absolut. Sebab, salah satu cara mencintai Ahlul Bait adalah menunjukkan sikap hormat dan akhlak kepada mereka.
Sedangkan salah satu cara melaksanakan rasa hormat kepada Ahlul Bait adalah membimbing mereka ke jalan yang benar.
Menurut Sayyid Usman, jika seorang Ahlul Bait itu jahil atau melanggar syariat, maka tidak harus diikuti kelakuannya tersebut. Tapi, yang perlu diingat adalah jangan sampai membenci pada pribadi (zat) mereka. Justru, wajib bagi umat Islam untuk memberi nasihat padanya supaya ia menuntut ilmu dan mengikuti perilaku para nenek moyangnya.
Sayyid Usman berkata: “Di antara bentuk kecintaan kepada Ahlul Bait sebagaimana yang disenangi Nabi Muhammad Saw adalah membimbing mereka kepada jalan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh guru kami Habib Abdullah bin Umar bin Yahya dalam karyanya Tazkirah al-Mukminin.”
(Sayyid Usman bin Yahya, Mir’ah al Haq wa al-Inshaf fi Huquq al-Sadah al-Asyraf, halaman 10).
Bahkan, Sayyid Usman menegaskan bahwa dengan memberi nasihat kepada para Ahlul Bait itu lebih besar manfaatnya dan suatu hal yang sangat dis**ai oleh Rasulullah Saw. Dalam hal ini, Sayyid Usman menukil pendapat seorang ulama dari kitab al-Durar al-Naqiyyah:
وأعظم منفعة وأكرم لهم إعانتهم على تعلّم شرائع الإسلام وما جاء به جدّهم صلى الله عليه وسلم فمن أعانهم على ذالك وأرشدهم إلى تلك المسالك فقد تودّد إلى النبي صلى الله عليه وسلم بمودّة تآمّة يدرك بها شفاعته يوم الطامّة
“Bentuk manfaat paling besar dan paling mulia kepada para Ahlul Bait adalah menolong mereka dalam menuntut ilmu syariat dan mengikuti kelakuan kakek mereka (Nabi Muhammad Saw). Siapa saja yang menolong dan membimbing mereka atas hal tersebut, maka sungguh ia telah membuat budi yang amat besar kepada Rasulullah, yang menyebabkan ia mendapat syafaat di hari kiamat.”
(Yahya, Risalah Dua Ilmu: Pada Menyatakan Perbedaan antara Dua Macam Ilmu dan Dua Macam Ulama, [Jakarta, Maktabah Attahiriyah, 6 Rajab 1382 H], halaman 30).
Artikel selengkapnya baca di: https://www.nu.or.id/opini/kritik-sayyid-usman-soal-nasab-dan-pandangannya-tentang-ahlul-bait-SrN6N
Video Makam Habib Utsman Bin Yahya berada di Kompleks Masjid Abidin, Sawah Barat, Pondok Bambu, Jakarta Timur
Sumber Video; Tiktok